Seorang online buddy saya mengatakan kalau Brunei dulu pernah punya kehidupan budaya seperti ini, mereka dinamakan Padian. Sayangnya sekarang hanya bisa dilihat dalam kartu pos, karena katanya sudah lama punah.
Jadi sebelum kisah pasar terapung ini sama seperti Padian-nya Brunei, buruan deh rasakan langsung suasananya. Saya jadi iseng berkhayal, mungkin beberapa tahun kemudian saat cucu saya melihat kartu pos bergambar pasar terapung di Banjarmasin dia bisa bilang "eh, ini persis kayak foto punya eyang ku lho, eyang malah ada di dalam salah satu perahu itu". hehehe. cheers, Imas http://www.kompas.com/read/xml/2008/06/11/1512485/paras.terapung.banjarmasin .dikhawatirkan.punah BANJARMASIN, RABU - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalimantan Selatan (Kalsel) melalui Dinas Pariwisata dan Budaya setempat mengkhawatirkan akan punahnya objek wisata pasar terapung baik yang ada di Desa Kuin Sungai Barito, maupun di Desa Lok Baintan Sungai Martapura. Kepala Dinas Pariwisata dan Budaya Kalsel, Drs Bihman Muliansyah, kepada pers saat berada di kantor Gubernur Kalsel, Banjarmasin, Rabu, mengakui mengkhawatirkan akan hilangnya objek wisata andalan dan khas Kalsel tersebut. Kekhawatiran akan hilangnya objek wisata tersebut kini mulai kelihatan setelah kian berkurangnya aktivtas pasar terapung di dua lokasi tersebut, khususnya pelaku yang melakukan transaksi di kawasan pasar di atas tersebut. Ia mencontohkan, kian berkurangnya aktivitas pasar terapung di Desa Kuin Banjarmasin setelah tersedianya prasarana seperti jalan darat ke kawasan tersebut, serta tersambungnya jalan-jalan darat antar desa atau pemukiman di pinggir sungai di wilayah Banjarmasin, Kabupaten Barito Kuala maupun Kabupaten Banjar. Pelaku di pasar terapung kebanyakan adalah pedagang eceran, yang membeli barang kebutuhan pokok, seperti sayuran, ikan, buah-buahan, dan bahan makanan termasuk sembilan kebutuhan pokok di pasar terapung. Setelah membeli agak banyak lalu oleh pedagang eceran yang menggunakan jukung (sampan kecil) itu menyusuri sungai-sungai kecil di pemukiman penduduk untuk menjual barang dagangan itu lagi ke masyarakat, begitulah setiap hari sehingga keberadaan pasar terapung dinilai vital sekali. Tetapi setelah jalan darat tersedia di banyak desa kawasan tersebut, pedagang eceran tersebut banyak yang beralih cara berdagang bahan makanan itu, bukan lagi dengan jukung tetapi sudah menggunakan sepeda, atau sepeda motor, setelah membeli bahan jualan di pasar induk di kota Banjarmasin, dan bukan lagi membeli di pasar terapung. Akibatnya, bukan pedagang kecil saja yang tak lagi mendatangi pasar terapung tetapi juga pedagang besar kini mulai enggan pula mendatangi kawasan pasar terapung Desa Kuin Sungai Barito tersebut. Kondisi pasar terapung yang tetap ramai kini masih terlihat di Desa Lok Baintan Sungai Martapura Kabupaten Banjar, karena kawasan itu belum terjangkau jaringan jalan darat yang memadai, sehingga aktivitas pedagang tetap tak ada perubahan. Melihat kenyataan tersebut, maka Bihman Muliansyah memperkirakan pasar terapung Kalsel bisa punah, tetapi kalau nantinya tetap bertahan namun keberadaannya tidak lagi alamiah seperti sekarang. Artinya, tambahnya, keberadaan pasar terapung nanti tak lagi menjual barang sesuai kebutuhan, melainkan pasar terapung rekayasa seperti layaknya pasar terapung di objek wisata Bangkok, Thailand yang hanya menjual cenderamata. Guna melestarikan aktivitas pasar terapung itu maka berbagai upaya telah dilakukan termasuk membina para pedagang agar tetap bertahan di lokasi tersebut. "Kegiatan festival pasar terapung 21-22 Juni 2008 mendatang merupakan satu bagian dari upaya pelestarian pasar terapung itu," kata Bihman Muliansyah. [Non-text portions of this message have been removed]
