di kantor ada beberapa yg penelitiannya di pedesaan di nepal. katanya dari 
sekitar 30 jt penduduk 6 juta diantaranya kerja di luar negeri. bisnis 
pendakian juga yg punya rata2 bule2. penduduk lokal cuma kebagian jadi sherpa 
doang.

nah, kita liat bahwa di indonesia pengelolaan TN masih ketinggalan jauh. Tapi 
kalo kita bandingin beberapa tahun lalu, udah banyak sekali perkembangan baik. 
Beberapa bahkan sudah punya website yg keren.

yg saya tau juga, beberapa taman nasional dipimpin oleh staf2 dephut yang 
hebat2 lho. Bentung Karihun contohnya dipimpin oleh staf yang sudah jadi 
peneliti� level internasional! meski demikian, kemampuan negara kita masih 
sangat kecil untuk memelihara kawasan yang begitu luas. sumberdaya manusianya 
juga belom pinter semuanya.

makanya kita semua harus mendukung usaha pemerintah, khususnya pihak Taman 
Nasional. kritik2 dikit boleh, tapi yah lebih baik ngasih saran dan gagasan. 
Biar proses belajar mereka dalam mengelola kawasan perlindungan semakin cepat.

jangan gampang ngambek hanya karena peraturan. sebab bagi pengelola kawasan 
perlindungan, semakin dikit pengunjung semakin baik buat alam. kita jaga yang 
tersisa ini buat generasi mendatang.


bagus










--- On Thu, 17/7/08, ambar <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

From: ambar <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [indobackpacker] pendaki dengan aturan tetek bengek
To: [email protected]
Date: Thursday, 17 July, 2008, 2:36 AM






Ris, aturan Nepal itu udah lama kok. Ngga cuma tahun lalu. Alasan
utama bukan karena banyak yang ilang, tapi mereka berusaha memproteksi
taman nasional dan memberikan peran besar industri trekking &
pariwisata untuk penduduk lokal. Termasuk setiap trekker/climber harus
mendapatkan trekking/climbing permit sebelumnya. Lah kan TN perlu uang
untuk memperbaiki kerusakan atas jejak langkah kita (bayangkan 100ribu
orang menjejak tanah dalam setahun, berapa dampak lingkungan yang
dihasilkan?) .

Saya sih positif saja. Sebagai penikmat alam, semua tidak datang tanpa
biaya. Siapa yang merasa mengklaim TN itu milik rakyat? iyah tapi
tidak gratis. Siapa sih yang bayarin jagawana (yang gajinya
menyedihkan tapi bertanggung jawab soal nyawa orang). Siapa yang mau
memberi makan relawan atau tenaga SAR pencari misalnya.

Nepal itu salah satu negara termiskin dengan kemungkinan problem
lingkungan yang besar (hasil omongan Nanung dengan sesama backpacker
yang bapaknya kerja untuk Unesco). Turisme/trekking adalah satu2nya
sumber utama. Sawah ngga terlalu subur, laut ngga ada, politik carut
marut. Beda sekali dengan Indonesia :D

Kirim email ke