Good idea, Nit....

Ehm, dari omong2 dengan seorang kawan, salah satu negara tetangga kita yg 
paling maju wisatanya di Asia Tenggara ternyata mempunyai platform yang 
disosialisasikan ke rakyat di daerah pariwisata gimana standar 
internasionalnya. Dengan begitu, saat masyarakat membangun daerahnya, secara 
otomatis prasarananya dibangun setidaknya mendekati standar internasional 
dengan swadaya dari masyarakat, dan tentu saja memikirkan sustainability daerah 
tsb, jadi daerah tsb gak hancur akibat pariwisata yang salah urus. 

Saya jd inget email teman2 tentang Ujung Genteng. Dulu puluhan penyu mendarat 
disana untuk bertelur, tapi dengan kondisi pengunjung yang brutalica gitu, 
sekarang cuma ada satu dua penyu yang bertelur dirubung ratusan orang yang 
ribut dan motret pake blitz. Sampai kapan kapan penyu masih akan mendarat 
disana utk bertelur? Kalau sudah gak ada penyu yg bertelur disana, penyu makin 
diambang kepunahan, dan Ujung Genteng pun segera ditinggal pengunjung. Ekonomi 
lokal dari pariwisata mandeg. 

Tidak bisakah dipasang tali pembatas supaya pengunjung tidak terlalu dekat? 
Tidak bisakah para petugas berkeliling di malam hari utk mengatur para 
pengunjung, dengan tegas menyita kamera pengunjung yang nekad memakai blitz? 
Bukankah petugas2 itu ada karena keberadaan penyu2 yang bertelur disana, yang 
justru pada malam hari? Waktu krusialnya adalah malam hari, tapi koq mereka 
malah gak ada? Lalu buat apa mereka disana kalo adanya petugas dan tidak adanya 
petugas ya sama saja? Lebih baik mereka ditiadakan saja, udah ngabisin duit 
pajak.......

Mengenai pariwisata, kita bisa bantu membangun pariwisata yang community based. 
Caranya, berkawanlah dengan penduduk di daerah tsb. Ajak diskusi, dari situ 
kita bisa sumbang pikiran secara dua arah gimana  sebaiknya menjaga dan 
mengelola tempat pariwisata. Daerah pariwisata yang sustainable adalah yg 
community based, masyarakat diajak membangun sekaligus menjaga alamnya. 

Juga beri masukan agar penduduk menyiapkan satu kamar untuk penginapan, kasih 
tau standardnya. Dengan kemampuan yg ada mungkin dia gak bisa adakan kamar 
standar international, tapi setidaknya prinsip2nya mendekati lah. Sehingga dia 
bisa dapat masukan dari situ. Yah, jadi konsultan gratisan lah....

Kalo penduduk itu serius dan kamarnya layak jual, bisa diposting di 
www.hostels.com atau tempat lainnya. Silakan jadi perantara hotel tsb dan 
mengambil komisi sekian persen, atau dananya disalurkan langsung seluruhnya ke 
penduduk tersebut. Terserah dan sah-sah saja.

Berkawan, ajak diskusi masyarakat agar jadi masukan sekaligus memotivasi 
mereka. Saya lagi mikir2 pingin bantu promosi & mengembangkan desa Ngadas 
selatan Bromo, tapi masih mentok di infrastruktur transportasi Malang - Ngadas 
nih.... 

Salam, 

Tari

YM ID : [EMAIL PROTECTED]
http://kuntarini.multiply.com
http://profiles.friendster.com/kuntarini


--- On Wed, 8/27/08, ida hendriawati <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> From: ida hendriawati <[EMAIL PROTECTED]>
> Subject: [indobackpacker] Usulan
> 
> Aku punya usulan nich gimana kalau setiap trip yang
> diadakan disisihkan mungkin min. Rp. 10.000,- untuk donasi
> ditempat pariwisata yang kita datangi mungkin ide ini sudah
> pernah ada yang melaksanakan tapi mungkin dalam bentuk Uang
> yang pada ujung2nya ga berbekas atau bahkan disunat sama
> orang2 yang kurang bertanggung jawab . 

Kirim email ke