Rekan2 backpacker sekalian, Apakah kendala ekonomi membuat seseorang tidak bisa melakukan travelling?
Jawabannya tegas tidak ..... Karena travelling bisa dilakukan oleh siapa saja, sesuai dengan kemampuannya ... Saat saya kelas 1 SD, maka naik gerobak sapi (secara menyelinap), maka perjalanan ke luar dari kota Jember buat saya waktu itu adalah travelling, walau pulangnya saya harus jalan kaki (untung saya ingat jalan pulangnya). Atau naik sepeda saat kelas 3 SD mengelilingi kota balikpapan bersama teman2 juga travelling yg menyenangkan .... Begitu pula ketika kelas 4 SD, perjalanan naik dari cempaka putih menuju tebet kerumah tante naik bis umum sendirian adalah juga travelling yang menarik ..... Dan itu semua bisa dilakukan tanpa membutuhkan biaya sepeserpun (anak kecil ternyata tidak diminta bayar) ..... Saat SMP & SMA kegiatan traveling yang saya lakukan juga hanya bermodalkan biaya tiket bis atau kereta api ekonomi (mana yg paling murah) ke kota tujuan yg ada kerabat yg mampu, dimana pulangnya biasanya saya disangoni .... Atau mencari kegiatan2 yg biasanya biayanya murah, seperti kegiatan pramuka .... Kalau saat kuliah, karena saya sudah dapat gaji bulanan (sekolah kedinasan), maka perjalanan menjadi lebih nikmat karena bisa membiayai sendiri, dan dipuas-puaskan jalan2 ke kota2 yang saya suka di indonesia dgn tetap cara backpacker .... Kalau menurut saya, travelling tidak terlalu dipengaruhi oleh kemampuan ekonomi. Menurut saya, siapapun yang bisa mengakses internet, seharusnya bisa melakukan travelling yang sederhana sekalipun, karena kemampuan mengakses internet menunjukan kemampuan ekonomi yang seharusnya diatas garis kemiskinan ..... Masalah umumyg dihadapi oleh pemula adalah lebih pada keberanian untuk mencoba melakukan suatu perjalanan. Selalu dianggap bahwa sebuah travelling itu biayanya tinggi. Padahal kalau kreatif, travelling itu tidak terlalu membutuhkan biaya besar. Masalah lainnya adalah keberanian, kalau kita berani, maka sebenarnya kita tidak membutuhkan biaya yg besar. Misalnya akomodasi. Untuk menginap, bisa di mesjid ataupun kantor polisi ataupun di setasiun kereta api, dimana paling dibutuhkan ongkos untuk beli autan (pengusir nyamuk) dan bayar MCK saja. Untuk transportasipun, kadang bisa dilakukan dengan menumpang, baik naik kereta api (bayar di kereta) ataupun menumpang pada kendaraan seperti saat dari bali, diatas kapal ferry gilimanuk, saya bisa menumpang gratis mobil charteran kosong yang akan pulang ke jakarta. Sopirnya senang ada teman seperti saya. Biaya yg saya keluarkan hanya biaya traktir makan di warteg yang tidak seberapa ..... Keberhasilan beberapa backpacker jalan2 kemana-mana dgn biaya yg miniiiiiim sebenarnya adalah karena modal keberanian, kreatifitas dan kesiapan mental untuk hidup dgn standard yg minimalis saja .... Masalahnya kita punya keberanian & kreatifitas dan siap mental atau tidak? Kalau kita tidak punya salah satu dari tiga diatas tersebut, terpaksalah kita siapkan dana yg lebih banyak ...... Ossy'81
