Assalamu Alaikum dan Salam Sejahtera

Saya berkesempatan ke Tokyo akhir bulan Oktober sampai awal bulan 
November...berikut beberapa hal yg saya alami, selamat membaca...

Orang Jepang sangat sopan dan ramah. Ketika melayani untuk makan ataupun saat 
saya memerlukan gunting ketika mau mengemasi bagasi di bandara Narita. Bahkan 
petugas loket Garuda tersebut berlari-lari untuk mengambil gunting ketika saya 
meminta tolong untuk meminjam.

Kawan sekamar saya yang masih kuliah di Waseda University dengan sabar menemani 
berjalan ke berbagai tempat di Tokyo untuk memenuhi keingintahuan saya. Di hari 
terakhir sebelum meninggalkan Shinjuku, kawan saya yang berasal dari Sapporo 
dan Kyoto bahkan bersedia menunda jadwal kepulangannya hanya untuk menemani 
membawa barang-barang saya yang bertambah. Kemudian mereka berdua juga menemani 
berjalan di sekitar area Shinjuku.

Dari puluhan kawan-kawan Jepang, kebanyakan di antara mereka sangat rendah 
hati. Walaupun bahasa Inggrisnya sangat bagus tetapi selalu mengatakan bahwa 
bahasa Inggris dia tidak bagus dan memohon maaf kalau membuat saya mengalami 
kesulitan dalam bercakap dengan mereka. Bahkan tulisan mereka dalam bahasa 
Inggris sanga-sangat bagus. Ini mungkin karena ada persoalan dalam pengucapan l 
(el). Dimana bahasa Jepang tidak mengenal karakter l (el). Untuk memudahkan, 
maka selama berada di Jepang, nama saya menjadi Mairu (Mail). Bahasa jepang 
tidak mengenal karakter huruf konsonan yang berdiri sendiri kecuali n, itupun 
dengan dengung, seperti dalam kata Nippon (dibaca Nippong). Sehingga nama saya 
Ismail, menjadi Isumairu atau disingkat Mairu. Bangsa Jepang monolingual. Tidak 
ada bahasa daerah atau bahasa lokal kecuali satu area, saya lupa nama wilayah 
tersebut. Di berbagai tempat iklan hanya disampaikan dalam bahasa Jepang 
termasuk petunjuk di stasiun kereta.
 Pengalaman yang menyesakkan dada, ketika saya memerlukan informasi perjalanan, 
saya menuju loket dengan pertanyaan. Tetapi dengan tegas petugas menjawab “I 
can not speak English, in Japanese please.” Saya hanya bisa mengucapkan arigato 
(terima kasih), lalu pergi.

Kalau di Indonesia, kita terbiasa mandi dua kali, pagi dan sore/malam. Maka, 
selama berada di Jepang, saya tidak pernah mandi pagi lalu berangkat ke kelas 
atau menjalankan aktivitas. Mandi dilakukan pada malam hari sekitar setelah 
pukul 10.. Itupun awalnya membuat saya sangat terkejut. Mandi di public bath, 
orang Jepang membuka baju. Bahkan mandi telanjang. Sebenarnya saya sudah 
diingatkan bahwa memakai celana mandi merupakan sesuatu yang sangat kasar, akan 
tetapi karena tidak biasa, maka selama berada di kompleks National Youth 
Memorial Center, saya tetap memakai celana mandi. Hari terakhir, akhirnya saya 
mandi dengan telanjang juga. Itupun setelah ada orang tua yang menyuruh untuk 
membuka celana dan mandi dengan cara orang Jepang. Untungnya, tidak banyak 
orang, namun kawan saya yang dari Makassar sempat tertawa terbahak-bahak ketika 
melihat saya mandi. Akhirnya dia juga mandi dengan cara Jepang karena juga 
diingatkan orang yang sama. Beberapa orang
 yang beragama Islam dari berbagai negara seperti Pakistan, Bangladesh, India 
akhirnya memilih untuk tidak mandi karena merasa risih. Walaupun sebenarnya 
saya risih tetapi daripada berbau dan tidak nyaman, tidak ada pilihan kecuali 
mandi dengan celana mandi. Hari pertama saya mandi dengan memakai celana mandi 
beberapa orang Jepang sempat memperhatikan dan cenderung protes. Di hari 
terakhir, dua orang kawan saya bertanya “apakah mandi telanjang di Indonesia 
tidak biasa?, Saya lalu menjelaskan bagaimana budaya mandi yang biasa dilakukan 
kebanyakan orang Indonesia. Lalu keduanya bercanda, kawan saya yang juga dari 
Makassar masih berada di kamar kecil. Lalu mereka berdua dengan telanjang 
menunggu di depan pintu dan begitu kawan saya keluar dari kamar kecil, langsung 
dikejutkan dengan kedua kawan orang Jepang yang telanjang dan langsung 
berteriak konichiwa (halo). Lalu kami tertawa bersama-sama. .

Sebagaimana penduduk negara maju lainnya, orang Jepangpun sangat taat terhadap 
aturan dan tepat waktu. Ketika kegiatan kami sudah selesai, maka harus check 
out pada pukul 8.30 pagi. Saat itu, saya masih malas-malasan di tempat tidur. 
Apalagi tidak ada petugas yang memeriksa kamar. Kawan saya itu lalu memberitahu 
tahu bahwa kami harus segera keluar. Akhirnya dengan terpaksa saya mengemasi 
barang-barang dan keluar. Kantin tempat kami makan selalu buka dan tutup pada 
jam yang ditentukan. Bahkan kereta dengan jalur yang sangat komplek sangat 
tepat waktu. Ini membantu dalam perencanaan perjalanan. Waktu tempuh yang 
tertulis di papan pengumuman, sama dengan realitas operasional. Bahkan 
kadang-kadang lebih cepat. Kawasan National Olympic Memorial Center menerapkan 
kebijakan setiap pengguna mesti membersihkan ruangan dan kamar yang digunakan. 
Kebijakan ini ternyata berjalan dengan sangat bagus. Setiap orang setelah 
menyelesaikan kelas, pasti secara bersama-sama
 merapikan kembali ruangan belajar. Demikian pula dengan kamar, sebelum check 
out, setiap orang membersihkan kamar dan melipat seprai. Termasuk mengembalikan 
semua peralatan ke tempat asalnya sebagaimana ketika orang tersebut memasuki 
kamar. Setiap kamar dilengkapi dengan petunjuk bagaimana penataan kamar. Ini 
berdampak kepada tidak perlunya menggaji petugas kebersihan dan housekeeping. 
Termasuk juga di kantin, setiap orang setelah selesai makan mengembalikan tray 
ke tempat yang disediakan. Memasukkan sendok dan peralatan makan  lainnya yang 
memang sudah disediakan. Tentunya pratik ini akan mengurangi jumlah tenaga 
kerja yang sangat mahal. Berkenaan dengan tenaga kerja, maka pembelian karcis 
kereta dan juga pembayaran makan di banyak restoran dilakukan melalui mesin. 
Mesin vending bukan hanya makanan dan minuman tetapi termasuk rokok, kosmetik, 
kartu telefon dan alat tulis. Bahkan di kawasan pemukiman terdapat mesin yang 
menjual kondom dengan syarat
 harus memasukkan kartu identitas sebagai identifikasi umur.

Kenangan akan perang dunia II tidak hanya dengan mencantumkan dalam konstitusi 
tentang larangan memiliki tentara tetapi juga ketidaksenangan banyak orang 
termasuk anak-anak muda (mahasiswa) terhadap lagu kebangsaan. Mereka tidak 
menyanyikan lagu kebangsaan kecuali di olimpiade atau acara olahraga. Di 
sekolah, universitas atau kegiatan akademik, lagu kebangsaan tidak dinyanyikan. 
Sehingga ketika acara penutupan acara Asian Youth Forum, ada usulan dari 
beberapa anggota delegasi Jepang untuk menyanyikan lagu kebangsaan yang akan 
ditampilkan oleh seluruh anggota delegasi Jepang. Namun, usulan itu dibantah 
oleh mereka sendiri. Dengan alasan bahwa lagu kebangsaan Jepang saat ini sangat 
berasosiasi dengan perang. Oleh karena itu, mereka membawakan lagu yang lain. 
Padahal banyak kawan-kawan dari lima belas negara yang lain ingin mendengarkan 
lagu kebangsaan mereka.


Wassalam

Ismail



      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke