Kebetulan saya baca tulisan Agus ini udah lama ketika nongol pertama  
di blognya (kalau ngga salah tahun 2005an). Kami jadi ngobrol soal  
perang omelet di Jodhpur, India. Yang membuat ia menulis cerita itu  
karena ternyata para penjual omelet disana menggemborkan disebut- 
sebut dalam buku panduan Lonely Planet agar laku dan dikunjungi pejalan.

Buat saya pribadi, buku panduan itu seperti buku teori. Dibaca supaya  
memahami garis besar destinasi, terutama budaya, latar belakang  
politik dan juga fakta-fakta sejarah yang mungkin diabaikan bagi  
backpacker 'to the point'. Yang saya butuhkan sebenarnya peta (ini  
paling penting), juga info transport.  Informasi disana memang  
lengkap soal penginapan dan tempat makan. Tapi dua hal terakhir ini  
saya abaikan. Semata-mata karena Lonely Planet adalah buku panduan  
beropini. Saya cenderung bersikap seperti Agus, melawan arus. Suatu  
saat bahkan saya pake mantra 'pik apik endi' alias pilih dengan mata  
tertutup. Well, yang terjadi terjadilah. Que sera, sera.

Buku tetaplah buku. Opini tetaplah opini. Yang pasti tergantung kita  
ketika dalam perjalanan. Kadang saya nemu tempat yang kemudian  
disebut LP sangat menjijikkan tapi keramahannya lebih sip ketimbang  
yang recommended. Benarkah dengan Lonely Planet perjalanan jadi  
hassle free? enggak juga. Tetep ada faktor kejutan disana-sini.

Teori akan beda dengan praktiknya. Mungkin mirip, mungkin menyimpang  
sama sekali. Tergantung si pemakai. Ada teman yang sangat devoted  
pada buku, mengikuti itinerary yang disarankan LP. Sedang saya? he he  
he...cenderung mursal alias pake improvisasi sana sini. Tergantung  
pada tingkat keberanian mencoba dan tingkat pengalaman. Makin sering  
jalan makin ngerasa Lonely Planet itu hanya pelengkap, bukan kitab suci.



Salam,

Ambar Briastuti
www.ceritaambar.com | ym : ambar_briastuti | Adventures. Backpacking.  
Photography.


On 4 Dec 2008, at 16:11, Stephanie Sisca wrote:

Baru saja saya membaca tulisan mas Agus Weng di Kompas.com. Judulnya:
Hidup Menurut Buku Panduan.

Tulisan itu membuka mata saya, bahwa menjadi backpacker itu tidak
selalu harus mengikuti buku panduan. Kalau seorang backpacker hanya
tergantung semata-mata pada buku panduan seperti Lonely Planet, dia
tidak akan punya semangat menggali dan mengeksplore sendiri. Karena
apa yang ada dibuku panduan itulah yang akan diikuti.



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke