Taon Baru di Hutan Kalimantan
Perjalanan dari banjarmasin naek Bis 'Doa Ummi" kurang lebih 12 jam, menuju Kota Muara Teweh, dengan harga tiket cumin 125 rebu, dan 2 kali mampir untuk makan. Pertama di Kota Kandangan dan kedua di Kota Ampah. Perjalanan kali ini aku coba2 untuk menyelusuri anak sungai DAS Barito, yaitu Sungai Lahai dan masuk ke anak sungainya lagi yaitu sungai Pari. Dengan 3 sungai yang aku telusuri, rasanya cukup memberi warna dalam perjalananku kali ini ke pedalman Kalimantan. Karena Sungai PARI sendiri ujungnya berada di Pegunungan Muller dan berbatasan dengan hulu sungai MAHAKAM, Dari ujung sungai PAri ini, menurut pak Ketel yang aku tumpangi perahunya, hanya memerlukan perjalan 1 hari 1 malam udah sampe di Hulu Sungai mahakam dan kita bisa berhenti di Desa PAHU. Ini merupakan desa paling ujung di Hulu Sungai Mahakam Kaltim. Tapi perjalananan ku kali ini hanya sampai di kaki pengunungan Muller saja, karena keterbatasan waktu dan juga emang niatnya hanya sampae disini aja. Tanggal 31, jam 4 sore aku udah berada di hulu sungai parie, dan dengan perahu ketinting, aku dengan seorang dukun dari suku DAYAK TABOYAN pak Meliantoni. Beliau ini memiliki misi tersendiri, yaitu ingin masuk ke hutan rimba perbatsan kalteng-kaltim ingin mencari daun obat-obatan dan akar-akaran, untuk keperluan beliau untuk menyembuhkan pasiennya yang banyak tersebar sepanjang sungai barito dan pari ini. Aku juga punya misi pribadi, ingin masuk hutan rimbanya dan juga ingin liat langsung bagaimana pohon, daun dan akar pasak bumi yang tereknal itu, dan juga ingin melihat daun or akar berhasiat dari hutan Kalimantan. Dan yang paling aku takuti masuk dalam hutan2 lebat adalah "pacet', sebab binatang ini seperti siluman, tau-tau udah nempel dan nyedot gratis aja darah kita. Dan sebelum masuk hutan aku sudah diwanti2 oleh bapak Meliantoni, bahwa harus digosok dengan perahan aer tembakau. Karena ini merupakan obat paling mujarab dalam menghindari gigitan pacet, menurut beliau sambil mengunyah pinang dan sirih di mulut. Malam harinya kami pasang tenda dari terpal, di bekas lading masyarakat di tepi sungai PARI, dan bersama pak KETEL malamnya kami punya agenda mo berburu kancil dan kijang di dalam rimba, untuk memuluskan perburuan ini, pak KETEL sudah siap dengan senjata rakitannya dan peluru serta sinternya. Menurut Pak KETEL, bahwa berburu kita juga harus melihat cuaca dan ada itungan tersendiri dari para pemburu yang sudah diwarisi dari nenek moyang dahulu, kalo ingin berburu berhasil. Dan sesuai wangsit juga, bahwa malam ini kami bisa berburu karena cuaca sedang baik dan bulan di langit tidak begitu besar, sehingga redup dan cendrung gelap. Jam 8.00 malam kami sudah bergerak keluar tenda yang menyerupai bivak untuk berburu, tujuan kami adalah hutan dibagin kanan sungai PARI, karena masih terlihat masih hutan lebat dan juga jalanya tidak begitu terjal dan becek. Hampir 3 jam kami masuk hutan, belum ada tanda2 ada buruan yang didapat, dan beberapa kali aku harus ngecek sepatu dan kaki takut2 sang penghisap udah pada nempel, dan sampai saat ini juga belum ada tanda2 ada binatang yang mendekat. Dan tidak berapa lama, mungkin jam 11 an, aku mendapat tanda berupa kodean cahaya sinter dnegan di goyang2 oleh pak KETEL bahwa beliau ada melihat buruan, tapi belum tahu apakah kancil, atau kijang, yang jelas terlihat sepasang mata berwarna terang di terpa oleh sinar sinter. Dalam hatiku.mantap! Malam taon baru bisa panggang kancil dan kita mo ngadain "pesta galia" he..he..he.. kaya ASTERIX dan OBELIX aja. Namun setelah terdengar suara senjata meletup,..dan aku cepat2 mendekat, ternyata yang kena tembak adalah musang..walah,.gagal deh.tapi kami masih mencari terus dan tidak berap jauh kami melihat lagi sepaang mata yang berwarna kemerah-merahan dan dengan kode sinter yang digoyang2 pak KETEL menyuruh diriku untuk tinggal sebentar menunggu beliau untuk mengecek apakah ini binatang buruan yang kami inginkan, dan ternyata cukup lama juga hampir 1 jam, aku menunggu di bawah pohon dan di temanin oelh nyamuk. dan tidak berapa lama aku melihat cahaya lampu sinter di kejauhan, dan setelah deket aku tanyakan, apakah itu tadi kancil?, menurut pak Ketel itu adalah RUSA, dan sangat susah mengejarnya, keculai kita mengunakan anjing, dan bisa berhari-hari dan kita perlu membawa bekal.wah gagal lagi deh dalam hatiku.. Jam 00.aku masih di dalam hutan dan setelah aku cek sepatu dan kaki.walah..beberapa lintah sudah menempel dan ada yang sudah sebesar jempol...TAON BARU YANG BERKESAN..dan PENGALAMAN YANG TIDAK MUDAH AKU LUPAKAN Sungai barito, 1 Jan 09 Harry [Non-text portions of this message have been removed]
