Begitulah hukum pasar, pendulum suplai dan permintaan. Kasus batik itu salah satunya. Untuk membuat produk fashionable dan trendy (yang berarti permintaan naik karena konsumen pengen beli), maka ramailah para penyedia dengan membanjiri suplai. Yang membuat harga turun, tidak ada yang bilang soal kualitas disini.
Era 90'an di Solo batik cap nyaris mati suri. Bagi yang sempat mendapat pelajaran Fisika Dasar oleh Pak Seno aka Prof. Dr. MSA Sastroamidjojo, UGM - salah satu tugas adalah 'melaporkan' proses pembuatan Batik (lhah apa hubungannya dengan Fisika silakan dikira-kira yaks..). Kami menginap di rumah kawan yang mempunyai industri batik turun temurun. Sedih juga melihat industri rumahan dengan satu orang pekerja. Nyaris hanya memberikan ruang untuk eksis. Waktu itu sebagai biang keladi adalah industri batik dari Purwokerto. Alasannya karena begitu batik mass produce, membuat ongkos batik cap menjadi tidak bisa berkompetisi. Sekitar 2-3 tahun lalu ketika batik mulai tancap gas, penjual batik mengeluh hal yang beda. Masih bisa dibilang kondisi sama, tetapi imej batik adalah seribuan tiga, alias ngga keren blas. Batik Keris & Danarhadi yang era 80an memperkenalkan pakaian modern dengan batik juga agak tersendat (duh inget iklan di Femina tahun ituh). Kesannya terlalu eksklusif dan jaminan batik tulis tangan membuat harga nyundhul langit. Beda harga antara 'batik' dan 'motif batik' terlalu lebar. Hal ini masih berlaku sampai sekarang. Selembar batik tulis Sido Mulyo -yang dibikin dengan cinta dan passion selama 1 bulan dihargai 1 juta rupiah. Sedangkan selembar celana komprang di BH cukup 5rebu perak. Apresiasi terhadap batik memang butuh waktu Om Puguh. Saya kira proses produksi massal (yang menghasilkan 'motif batik') tetap dihargai. Kata orang kenalilah dulu, baru pengen tahu lebih dalam. Saya bahkan acung jempol untuk ciptaan yang bersifat kontemporer (kekinian) yang mengambil tema batik atau motif batik sebagai landasan berkreasi. Saya bayangkan besok ada mouse pad batik, kulit laptop batik, furniture/ sofa dengan kain batik (he he he bukan cuma bantal) seperti kursinya Herman Miller. Apakah para pengrajin batik yang orisinal akan musnah? Saya harap tidak. Jika apresiasi batik makin baik, artinya dari kenal, suka, sayang dan tentu ingin memelihara. Entah nanti menjadi seorang kolektor ataupun belajar membatik. "Imitation is the sincerest flattery" seperti dibilang Charles Colton adalah menunjukkan tingkat paling bawah ber- apresiasi. **Mungkin memang tahap nya baru sekian, yang kita tunggu adalah bentuk kreasi yang lebih revolusioner. Sudah saatnya kita membuat trend, bukan menjadi pengikut trend. (halah...). Salam, Ambar *inget dulu make surjan buatan BH sebagai jaket 2009/1/31 K ' G <[email protected]> > Soal Batik, > > Positif nya adalah kita memili baju nasional dan perdebatan soal mana > budaya > indonesia terjawab sudah, > tiap daerah memiliki cirikhas batik yang berbeda, dan ini sebenarnya > peluang > usaha > > positif yang kedua adalah orang tidak malu pakai baju dengan motif batik > terbukti walau tidak ada aturan tertulis mayoritas karyawan di tempatku > bekerja menggunakan batik, dengan berbagai corak dan tipe, > [Non-text portions of this message have been removed]
