2007 saya ke Tambora lewat Dusun Pancasila. Jalurnya relatif landai, namun tapi memang muter-muter banget. Jika lewat sini selain pacet, ada beberapa pohon tumbang menutup jalur setapak dari Pos III-V. Waktu itu ada 3 pohon yang tumbang, panjang sekitar 50 m, 20m dan 30 m. Ketika lewat di atas pohon tumbang yang mirip titian itu harus hati-hati sekali. Pas naik karena habis diguyur hujan, jadinya sangat licin, bergeraknya kadang merangkak atau sambil duduk.Bukannya semata-mata takut terpeleset, tapi yang parahnya kita tidak bisa pegangan di kiri kanannya karena full dipenuhi tumbuhan jelatang yang kalo kena ke kulit seperti panas terbakar dan gatal (ada teman yang sempat kena). Kalo mau tetap lewat jalur ini diusahakan musim kemarau, karena kalo paz musim hujan pohon jelatangnya sangat rimbun (benar-benar full dari Pos III-Pos V).
NB : jadi inget waktu ke Argopuro, kebetulan juga ada pohon ini, cuma tidak sebanyak Tambora. Katanya penduduk setempat menamainya 'Pohon Jancukan'. Nama ini jadi populer karena saat kulit terkena daun ini, ada yang spontan mengumpat khas Jawa Timur (maaf... 'jancuk/diancuk...:)). Terus dari Dusun Pancasila - pintu gerbang pendakian bila pakai ojek (2007 tarifnya Rp. 25.000). He.. he.. maklum balung tuwo (tulang tua), penginnya jalan sedekat mungkin, dan ojek ini juga bisa menjemput pas kita turun (jadi PP Rp. 50.000). Lumayan..., irit tenaga. Jalan setapaknya lumayan jelas, cuma pacetnya ga ketulungan banyaknya karena lembab banget. Tangan dan kaki sudah dioles pake anti pacet, tetep aja yang ngerayap di sepatu, nyelip di jari, nemplok di badan, gigitin kaki banyak sekali. Pas ke sana Mei 2007, jadi pemecah rekor ditempeli pacet (43 ekor), sementara temen yang lain rata-rata di bawah 10 ekor. Pas di treking Halimun juga begitu, ketempelan pacet sampai 37 ekor, padahal temen lain paling banyak 6 ekor. He.. he.. kali aja darahnya jadi favoritnya pacet. Dusun Pancasila - pintu gerbang pendakian (ojek) Pintu gerbang - Pos III (camp) Pos III - Puncak - Pos III (camp) Pintu gerbang - Dusun Pancasila (ojek) Dusun Pancasila - Desa Kenanga (ojek), untuk menuju Pulau Satonda Waktu itu ke sana via Mataram naik bus AC (Angin Cemiliiiirr...), alias bus 3/4 (mirip bus Kopaja) dengan kipas angin kecil di pojok kiri depan itu pun ga jalan alias rusak. Berangkatnya Mataram-Dusun Pancasila = 17 jam 15 menit, pulangnya 22 jam karena busnya sempat patah knalpot dan ganti ban. Kalo lewat rute yang sama sebaiknya nyiapin roti, karena ketika berhenti untuk makan malam di sebuah rumah makan langganan bus tersebut hampir jam 12 malam, jadi antara laper yang sudah lewat, capek plus ngantuk. Kondisi jalan ke Pancasila jelek banget, begitu juga jalan raya utamanya (Sumbawa-Bima) banyak yang rusak. Sedih banget liat kondisinya karena kalo di Jawa mirip jalan kecamatan itu pun yang di pelosok, padahal harusnya ini adalah jalan propinsi. Pas pulangnya ketika turun dari bus, kaki saya dan teman-teman (10 orang) bengkak semua, karena peredaran darah kurang lancar waktu di bus (full penumpang). Temen dari Jakarta sempet marah-marah sehabis turun. He.. he.. kerilnya di atas bus ternyata berdempetan dengan satu karung ikan asin, jadi bukan hanya keril tapi seluruh bajunya bau ikan asin. Nah, dari Dusun Pancasila kita bisa naik ojek lagi (2007 tarifnya Rp. 25.000) menuju Desa Kenanga kemudian menyeberang ke Pulau Satonda carter speedboat. Nanti untuk menuju Mataram kembali bisa minta dijemput sama bus trayek Dusun Pancasila - Mataram. Pulau Satonda tidak berpenghuni dan relatif bersih. Kalo nyeberangnya agak sore, perahu tidak bisa merapat karena air masih surut, jadi harus jalan lagi menuju saung (ada 3 saung besar di situ, jadi ga usah gelar tenda, tinggal tidur pakai sleeping bag, lagian kalo nenda di bawah banyak sekali semutnya). Tapi asyiknya untuk menuju kesana saat melewati batu karang, banyak terdapat kerang yang terperangkap di sela-sela karang dan tinggal ambil aja untuk dimasak. Bukan kerang biasa, tapi agak mirip siput. Kerang jenis ini hanya disajikan di restoran besar tertentu dengan harga yang sangat mahal, per ons yang hanya berisi kerang beberapa biji harganya bisa sampai Rp. 50.000, padahal untuk sajian dengan jumlah standar perlu beberapa ons. Di pintu gerbang Pulau Satonda, terdapat anak tangga yang menuju bukit dan Danau Satonda. Dengan berjalan kaki sekitar 15-20 menit, kita akan tiba di atas bukit dan menikmati dua keindahan sekaligus dan unik yaitu laut di sebelah kanan dan danau di sebelah kiri. Yang harus diwaspadai di sini adalah ular hijau berekor merah yang merupakan katanya merupakan salah satu ular berbisa (kami sempat 'disambut' ular ini saat tiba malam hari di sana). Selebihnya sih asyik, pagi-pagi menyususuri batu karang menuju pantai pasir putih yang biasa dipakai berjemur para bule yang memakai perahu pesiar dari Bali maupun Lombok. Maaf..., kalo emailnya kepanjangan. Selamat menikmati eksotisme alam Tambora. Salam dari Borneo. Wassalam, Endah RH ----- Original Message ----- From: Aris To: 'Lydia Hutabarat' Cc: [email protected] Sent: Thursday, March 12, 2009 8:23 AM Subject: RE: [indobackpacker] Tambora Dear Mba Lidya, Seberat apa naik Tambora? Naik tambora lebih mudah ketimbang naik Rinjani, dan untuk trek nya juga nggak beda jauh dengan Gunung yang lain, kalau trek cepat, bisa kok Tambora di daki dengan Onedays Trip. Tapi karena jalurnya sering Hilang, mendaki Tambora kalau nggak pengalaman banget Di orientasi Jalur. Sebaiknya bawa pemandu atau minimal Lokal Porter. Enak dari mana? Akses ke Tambora ada 3 macam. Pesawat? Bisa terbang ke Bima via Denpasar... lalu sambung angkot ke Dompu Bus? Bisa naik Bus Langsung dari Jakarta to Bima dulu 450.000 Septi Jaya, Safari Dharma Raya, Langsung Indah, Mawar (semuanya exectutive, tapi kadang Ac sering Mati..hehe) Kalau dari Lombok, bisa Naik Bus sedang Langsung ke Calabai, baru sambung ojek ke desa Pancasila. Kalau dari Dompu, bus hanya ada 1 x per hari. Berangkatnya sebelum jam 2 siang, kadang bis nya langsung ke desa Pancasila (tergantung penumpangnya) Pondokan, Bisa datang ke rumah kang Iful. Atau Om Bek. Harga Porter dulu Rp. 75.000 / hari. Nggak tau sekarang. Ojek ke pintu Hutan dulu 50.000, (nanti kalau jadi kesana, kasih update ya) Photo tengok di http://odesya.multiply.com/photos/album/55/Odesya_Road_to_sumbawa-lombok Tempat menarik lainnya, bisa ke Pulau Satonda, atau Moyo.. kalau suka spare waktu, dari Calabai, bisa naik perahu nelayan ke Moyo lalu ke Kota Sumbawa. Salam ARIS -----Original Message----- From: [email protected] [mailto:[email protected]] On Behalf Of Lydia Hutabarat Sent: 11 Maret 2009 23:46 To: indobackpacker @ yahoogroups. com Subject: [indobackpacker] Tambora Hi IBPers, mohon infonya kalo dah ada yg pernah ke Tambora. apa medannya seberat Rinjani? enak jkt-sumbawa besar atau jkt-lombok trus nyebrang ke Poto Tano? ada yg punya kenalan porter? atau pondokan murmer? pls advisenya - thanks lydia yg dah lama gak naik gunung [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------------------ Send instant messages to your online friends http://asia.messenger.yahoo.com ***************************************** Sekarang Gratis Nelpon SLJJ Flexi diperluas ke Yogya ***************************************** ***************************************** Sekarang Gratis Nelpon SLJJ Flexi diperluas ke Yogya ***************************************** [Non-text portions of this message have been removed]
