Makasih sekali Sita atas sharingnya. Saya pernah merasakan bingungnya  
kehilangan paspor, walaupun bukan punya saya.

Point 1, betul banget. dengan membawa hard kopi dari paspor dan ID  
terutama di dua tempat terpisah. Saking takutnya, biasa saya kasih di  
tas isi dokumen dan satunya di badan. Saran temen saya, adalah saling  
bertukar photokopi ID terutama jika backpackeran bareng. Jadi si  
temen nyimpen punya kita. Jika dijambret misalnya, temen kita masih  
punya salinan yang bisa kita pake.
Untuk storage di email emang bisa banget, tapi kelemahannya adalah  
kudu nunggu akses internet. Dulu kawan saya ngerasa sadar hilang  
ketika di tengah suasana sibuk yang membuat ia baru bisa ngurus di  
tengah trek di Nepal. Untung banget ada warnet dan printer, walau  
mahal tapi yang penting untuk ID di pintu Taman Nasional hingga  
kembali dari trek dengan selamat.

Storage yang free terkait dengan email misalnya : docs.google.com  
(bukan gambar) atau scribd.com. Cuman saran saya untuk naroh di  
storage luar usahakan hanya bisa dilihat dan diunduh oleh kita  
sendiri. Informasi seperti detail ID paspor kita di internet sangat  
tidak disarankan. Terutama kode yang bisa dibaca mesin. Kejahatan  
internasional adalah membuat duplikat paspor dan dijual kepada  
pendatang gelap. So kalau bisa rubah status dokumen menjadi private.

Point 3, saya merasakan betul keluhan ini. Seorang backpacker kadang  
dipandang sebagai 'bikin urusan' jika hilang paspor. Reaksi petugas  
KJRI jika ada yang melapor paspor hilang bukannya membantu tapi  
marah. Saya jadi ingat dengan polisi ketika dilapori kemalingan  
motor. Lha kamu naruh motor dimana?
Well, namanya musibah it's happen. Yang penting kan solusinya.  Dan  
yang terpenting bagaimana proses solusi itu lebih transparan, Mo  
gimana lagi, mentalitas masih minta dilayani, bukannya melayani kita  
yang kesusahan ini. Hikmahnya aja diambil, sedia kontak kedutaan atau  
konsulat negara yang mau kita kunjungi.

Disclaimer : ngga semua KJRI bersikap begitu, tapi kok ya selama ini  
saya temui tidak terlalu helpful. Jadi argumen diatas semoga saja salah.

Salam,
Ambar Briastuti
www.ceritaambar.com | ym : ambar_briastuti | Adventures. Backpacking.  
Photography.


On 23 Mar 2009, at 07:11, teresita listyani wrote:


Moral of the story memang JANGAN SAMPAI KEHILANGAN PASPOR. Mengetahui  
bahwa paspor menjadi sasaran pencurian, karena nilai jualnya yang  
tinggi, memang lebih baik ekstra hati-hati. Proses pengurusan SPLP  
saya banyak terbantu karena:
1) saya memiliki fotokopi paspor saya yang hilang dan juga membawa  
fotokopi KTP
pembelajarannya: selalu bawa fotokopi paspor jika sedang bepergian,  
atau simpan scanned copy dari paspor, KTP, SIM dalam email pribadi,  
yang bisa diakses dari mana pun. Ingat, jika sial, bisa jadi Anda  
kehilangan seluruh barang bawaan Anda!

2) saya sulit dapat menembus sekuriti bandara untuk penerbangan  
domestik, karena saya tidak membawa kartu identitas lain, yang  
memiliki foto, dan dikeluarkan Pemerintah (KTP/SIM)
pembelajarannya: selalu bawa lebih dari satu tanda pengenal berfoto  
selain paspor, dan letakkan di tempat yang terpisah, kalau-kalau  
salah satunya hilang.

3) saya memilih untuk mengurus dokumen keimigrasian di konsulat yang  
dekat dengan orang-orang yang saya kenal, yang dapat membantu saya  
kapan saja. Konsulat terdekat belum tentu dapat membantu
pembelajaran: jika terlalu banyak ketidakpastian, lebih aman jika  
proses tersebut dilakukan di lingkungan yang dikenal.

yang jelas, sekali lagi JANGAN SAMPAI KEHILANGAN PASPOR!!
Apalagi di AS!

salam
-tereSITA-.






[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke