Youth Hostel  itu awalnya memang dari Jerman (Eropa)  seabad yang  
lalu. Konsepnya dulu cuman jadi penginapan selama liburan untuk anak  
sekolah. YHA sendiri dari Inggris yang tujuannya lebih ke penginapan  
di ndeso, daerah terpencil untuk hikers dan walkers. Salah satu  
alternatif murah selain ngecamp yang kemudian diterima di Australia,  
NZ  dan British Columbia yang kaya akan kegiatan outdoor.

Ketika tahun 70an awal gerakan backpacker, hostel adalah tulang  
punggung untuk akmodasi yang murah dan komunitas, karena adanya  
jaringan yang tertata di Eropa. Sedangkan di Asia sendiri, hostel  
tidak pernah mencapai kejayaan karena diisi oleh guesthouse atau bed  
& breakfast (walau konsepnya beda tapi miriplah). Di Asia yang  
cenderung jauh lebih murah daripada Eropa guesthouse dikelola oleh  
orang lokal tanpa mengandalkan bentuk konsorsium seperti Hosteling  
International (HI). Nah konsep ini juga dipinjam oleh YMCA (Kristen)  
dan Chabad Houses (Jahudi) yang membuat akomodasi murah untuk  
traveller yang lebih berafiliasi pada keagamaan.

Saya sendiri tidak tahu apakah di Indonesia ada Ikatan Pengelola  
Guesthouse itu. Sayang sebenere karena  potensi guesthouse untuk  
disejajarkan hostel itu besar sekali. Cuma masalah knowledge dan  
desain. Salah satu pengalaman saya di Number Eight Guesthouse di  
Malaysia adalah lebih mirip hostel ketimbang guesthouse. Ada tempat  
tidur bertingkat, ruang bersama, sarapan gratis dsb. Ketika saya  
tanya pihak admin-nya, ternyata ketauan kalau si empunya itu adalah  
juga backpacker. Jadi sepertinya ia mengambil konsep dari hostel,  
diaplikasikan ke guesthouse-nya yang hip dan trendy. Beberapa kali  
saya nginep di guesthouse Asia, menurut saya lebih informil ketimbang  
hostel ala Barat itu. Bedanya emang pada organisasi dan sistem  
keanggotaan. Toh saat ini banyak kok guesthouse Asia yang ditawarkan  
di website hostel internasional seperti hostelworld.

Kalau mau lebih jeli, menurut saya di Asia karena pengen menjaring  
pangsa yang lebih lebar akhirnya pengelola malah membuka penginapan  
yang disebut "Boutique Hotel" atau Hotel butik, yang jumlah kamarnya  
dibatasi tapi fasilitas seperti hotel. Yah bedalah dengan hostel yang  
lebih informal dan berasa komunitas (bukan cuma kekeluargaan aja).  
Soalnya hostel yang beneran, bahkan membolehkan kita masak di dapur  
dan menyimpan makanan di kulkas selayaknya kos2an bersama :) Menurut  
saya sih yang penting kan atmosphere dan interaksinya. Apakah itu  
hostel, B&B, motel, guesthouse yang penting suasana didalamnya. And  
ngga bikin jebol dompet tentunya.


Salam,
Ambar Briastuti
www.ceritaambar.com | ym : ambar_briastuti | Adventures. Backpacking.  
Photography.


On 20 Apr 2009, at 19:10, simplysimsim wrote:

Mbak Ambar,
Mau tanya dong, emang Youth Hostel itu cuma ada di eropa, Australi or  
negara2 barat itu saja yah? kalo di asia hostel2 itu tergabung dalam  
hostel asosiasi itu ga?
Soalnya, banyak juga kok hostel2 biasa yang bagus, sederhana dan  
harga terjangkau tp tetap meninggalkan kesan pengen balik lagi...

:)
sim2

.







[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke