In the old days, the land felt a great emptiness.

It was waiting.

waiting to be filled up.

waiting for someone to love it.

waiting for a leader.

And he came on the back of a whale...

a man to lead a new people

Our ancestor, Paikea.



Paikea, gadis kecil Maori membisikkan mantra pada sang ikan paus,  
menenangkannya untuk bersedia dibawa kembali ke tengah lautan.  
Delapan ikan besar terdampar di bibir pantai, tak berdaya. Upaya  
untuk memindahkan ke laut pun sirna. Terlalu kuat, terlalu besar.  
Dengan memberanikan diri, Paikea naik ke punggung sang pemimpin ikan  
paus, memberi semangat dan perintah untuk tidak menyerah. Seperti  
kisah leluhur pemimpin suku Maori di Hawaiki, Paikea akhirnya menjadi  
penunggang ikan paus.  Kisah mengharukan dalam film Whale Rider  
(2002) menceritakan hubungan yang indah antara ikan paus dengan suku  
Maori Haka di New Zealand.

Terkesan banget dengan film itu membuat saya penasaran melihat ikan  
paus. Bukan di kebun binatang atau aquarium, tetapi di habitat asli.   
Dalam beberapa tahun ini ikan paus menjadi contoh klasik perjuangan  
lingkungan. Simbol korban pemanasan global dan ketamakan manusia  
seperti halnya beruang kutub. Hubungan yang indah dan harmonis itu  
berubah menjadi  bentuk eksploitasi. Ikan paus adalah komoditi,  
seperti sumber yang tak habisnya.

Lantas apa sih keistimewaan seekor ikan yang besar ini. Ternyata ikan  
paus bukanlah ikan. (Jadi translasi “ikan paus” itu perlu  
dipertanyakan). Whales adalah spesies yang masuk dalam mammalia, yang  
jelas bernafas dengan paru-paru bukan dengan insang seperti ikan.  
Kalau dikenang sisi kitab tiga agama –Jahudi, Kristen dan Islam,  
kisah Nabi Yunus yang berada di perut ikan paus selama tiga hari  
adalah favorit saya sejak kecil. Jadi rasanya hubungan cinta antara  
manusia dan ikan paus tak hanya terurai lewat ayat. Sudah menjadi  
bagian sejarah.

***

Dua setengah tahun lalu saya mendatangi Whale Watching di teluk  
Monterey di California. Sayangnya badai dua malam membuat misi jadi  
gatot. Desakan hati membuat saya nekad mencoba. Kali ini saya  
beruntung, yakni tepat dimulainya musim panas.

Dari bulan Mei hingga Desember perariran di teluk Monterey hingga  
Baja di California adalah spot menarik. Ikan paus berbagai jenis  
dalam perjalanan migrasi menuju lautan yang lebih dingin seperti  
Canada mampir disini untuk mengisi perut. Posisi berada di pantai  
barat benua Amerika berhadapan dengan lautan Pacific adalah tempat  
ideal bagi ikan kecil seperti anchovies (teri), sardin dan krill,  
sumber makanan si ikan paus.

Minggu pagi saya bersiap cek in di dermaga sembari menyiapkan  
perbekalan. Calon penonton diminta berada di lokasi dermaga  
Fisherman’s Wharf sebelum pukul 9 pagi. Walau sudah hangat namun  
angin dingin membuat saya mantab memakai baju lapis, hingga jaket  
tahan air.  Alat photography terpaksa dibagi untuk mendapatkan hasil  
terbaik. Ngga sempat sarapan, cuma muesli bar dan segelas kopi.

Rupanya sarapan sedikit ada untungnya. Naik perahu Sea Wolf I   
diperuntukkan bagi yang tahan mabok laut. Gelombang cukup ganas,  
terutama pada karang datar yang menghempas dengan kejam. Captain Mike  
mengingatkan. Jika ngga kuat, larilah ke belakang kapal. Sumbangkan  
sarapan anda untuk ekosistem laut California.  Mencoba sok berani  
duduk di depan, tapi ternyata cipratan air laut ngga kepalang. Demi  
kamera saya mundur teratur. Air laut euy…

Begitu meninggalkan dermaga, kabut tebal masih mengambang di  
permukaan. Jejak Horizon nyarik tak nampak, hanya air laut yang  
berwarna abu-abu, seperti halnya langit. Tidak ada biru, tidak ada  
sinar matahari. Cilaka buat motret kalau cuaca begini.

Hanya sekitar 20orang di kapal, sebagian duduk manis. Sekitar 45  
menit di lautan lepas, saya bisa melihat langit biru. Sinar matahari  
rupanya mengangkat kabut. Semua mulai terlihat sumringah. Scientist  
yang bareng dengan kami menerangkan banyak aspek tentang habitat di  
Monterey, sebelum ia mengenali pundak panjang ikan paus beratus meter  
didepan. Kami terhenyak. Baru yakin ketika ekornya yang besar mulai  
menghilang.

Ikan paus humpback (Megaptera novaeangliae) pertama pagi itu rupanya  
dalam perjalanan menuju spot favorit. Timbul tenggelam di lautan  
dengan kecepatan 4 knot mengimbangi gerak cepat ikan paus tadi. Baru  
disadari, tidak hanya satu tapi sebuah tim dengan tujuh ekor menyelam  
dengan kecepatan stabil. Menilik lokasi mereka memang diperlukan mata  
yang tajam. Satu2nya petunjuk cuma semburan udara yang keluar dari  
dua lubang punuk.

Tak jauh serombongan ikan lumba-lumba white sided pacific dolphin  
(Lagenorhynchus obliquidens) menemani kapal. Jungkir balik, bermain  
dengan lincahnya. Ikan lumba2 ini biasanya menyertai ikan paus  
terutama disaat perburuan makan.

Indikasi ikan paus berburu  mulai terlihat ketika ketujuh ikan tadi  
membuat formasi melingkar. Mereka ini mengambil posisi hunting sambil  
mengeluarkan gelembung udara didalam air. Ini semacam penghalang  
ribuan ikan keluar dari perangkap. Begitu ikan tak bisa keluar, ikan  
paus dengan mulut terbuka menerjang ribuan ikan tadi.  Yaitu menerkam  
dengan sekali telan. Dari jauh  terlihat besaran mulut ikan paus  
berlomba dalam gerakan yang simultan terkoordinasi.

Metode hunting ini sangat mengesankan para peneliti karena  
menunjukkan tingkat kecerdasan dan pembagian peran yang terencana.  
Masih belum diketahui bagaimana ikan paus mengkoordinasi serangan  
ini, karena berbeda dengan ikan paus yang lain, humpback tidak  
menggunakan bunyi sebagai “echo location” atau lokasi gaung. Nyanyian  
ikan paus humpback ditengarai hanya untuk memulai musim kawin. Teka- 
teki yang masih harus dipecahkan oleh peneliti binatang.

Kamera di tangan  susah sekali mengikuti kecepatan sambar yang  
terjadi tak terduga. Saya melirik iri pada kamera disamping. 8 frame  
per seconds (fps). Bunyi deretean tombol seperti ngga henti. Gilaaa  
mak…. Lensa saya sama  dengannya tapi bodi kalah jauh. Dalam situasi  
begini, kamera tua saya rasanya menggeh2 mengikuti terjangan ikan  
paus. Saya ternyata salah strategi, terlalu berkonsentrasi pada lumba- 
lumba yang berenang lebih dinamis. Posisi di atas kapal juga  
berpengaruh. Benar kata orang jualan: Location..location..location.

Dalam adegan “feeding frenzy” selama 1 jam in,  hentakan dan gumulan  
ikan paus makin mengesankan. Saya hitung minimum tiga kali episode  
serangan simultan.  Tak jauh ratusan burung camar bergerak mengitari  
lokasi. Berlaku sebagai oportunis sejati, burung camar dan pelican  
ini mengambili ikan2 yang lolos sergapan ikan paus. Kebanyakan dalam  
kondisi lemah karena terluka. Dengan mudah tinggal menukik tajam ke  
permukaan laut, menyambar dengan cepat.

Beberapa burung albatross (Phoebetria palpebrata) melintas.   
Bentuknya yang khas dengan sayap tajam dan badan gembul membuat  
terlihat beda diantara kawanan burung camar. Burung albatross sangat  
istimewa karena bentangan sayapnya yang melebihi tinggi manusia.  
Tubuhnya sangat besar dengan kemampuan ‘glider’ yakni terbang dengan  
meluncur, membuat tingkat efisiensi yang tinggi. Menjelang dewasa,  
burung albatross migrasi mengelilingi bumi tanpa pernah menjejakkan  
kaki di daratan. Tahun lalu saya sempat mampir di Otago Peninsula,  
New Zealand mengamati koloni burung albatross.

Beberapa kali saya sempat memergoki singa laut (Zalophus  
californianus). Kepalanya yang ramping timbul tenggelam diantara  
ombak tinggi. Di teluk Monterey dan jajaran pantai sekitarnya, singa  
laut ini banyak banget. Rupanya pesta ikan ini banyak mengundang  
kawanan lain.



Kami bergerak mengikuti kawanan ikan paus, lumba2, ikan dan singa  
laut hingga setengah jam. Sebelum akhirnya pesta berakhir. Humpback  
menuju laut bebas dalam format sejajar. Kami tahu, sudah saatnya  
kembali ke dermaga.

Saya teringat dengan tradisi perburuan ikan paus  sperm whales  
(Physeter macrocephalus) di Lamalera kepulauan Lembata, Timor.  
Perburuan dan pembunuhan ikan paus adalah bagian dari tradisi dan  
kehidupan sehari-hari. Dengan hanya menggunakan dua kapal nelayan  
(peledang), sebentuk  bambu (kefa) dan badik untuk mencabik tubuh.  
Berbeda dengan negara lain seperti Jepang yang menggunakan teknologi  
modern, perburuan di Lamalera dianggap sesuai dengan sumber alam,  
kepercayaan tradisional dan gaya perburuan yang tidak berlebihan.

Kata “sustain” agaknya lebih tepat untuk menggambarkan tradisi  
perburuan di Timor, ketimbang komersialisasi.  Ada mekanisme alam  
yang menjaga pendulum untuk selalu dalam level seimbang. Entahlah  
jika jumlah penduduk meningkat ataupun dianggap sebagai komoditi  
pertunjukkan turis.  Saya sendiri ngga tega melihat perburuan ikan  
paus karena bisa dipastikan akan banyak pemandangan berdarah-darah.

Andai saya seperti Paikea, pastilah saya bawa ikan paus menerjang  
lautan. Melarikan diri dari ketamakan manusia.







Catatan kaki :

1.     Dalam budaya pop, saya cuma mengenali satu lagu dengan intro  
nyanyian ikan paus. Dibawakan oleh Kate Bush (Kick Inside 1978)  
dengan judul Saxophone Song. Suara Kate Bush yang melengking, agaknya  
seimbang dengan frekuensi jeritan ikan paus. Syairnya sendiri ngga  
menyinggung sama sekali soal whales. Aneh bangets...

2.     Yang lebih lucu adalah lirik lagu Enya –Sail Away sering  
disalah dengar sebagai Save the whales, save the whales, save the  
whales…

3.     Ada sebuah buku anthropologi  dari Universitas Oxford tentang  
perburuan ikan paus di Lamalera. Judulnya: Sea Hunters of Indonesia:  
Fishers and Weavers of Lamalera (1996) oleh R.H. Barnes. Belum baca,  
tapi jika ada tinjauannya, mohon dijapri. Thanks banget.

4.     Nonton Sea Shepard –pentolan Greenpeace (www.seashepherd.org)   
yang mengkhususkan pada perjuangan anti Whaling. Tapi liat pola  
sabotase-nya kok jadi seperti terrorism yaks...

5.     Nonton Whale Rider (2002) selalu berakhir dengan mewek…hiks  
hiks mengharukan soalnya. Trailer bisa dilihat disini : http:// 
tinyurl.com/dn7wrt

6.     Booking dengan nonton ikan paus ini lewat  
www.montereybaywhalewatch.com/ Biaya per orang US$45. Lewat telpon  
atau online. Kapal tersedia dua, Sea Wolf I dan II, yakni satu khusus  
untuk orang dewasa dan satu untuk family. Saya sendiri lebih nikmat  
dengan kapal kecil karena lebih sigap.

7.     Royal Albatross Centre di Otago Peninsula, Dunedin New Zealand  
(www.albatross.org.nz). Tiket : NZ$39.

8.     Monterey Aquarium (www.montereybayaquarium.org) menyimpan  
koleksi kelautan paling mengesankan, terutama ubur2. Tiket US$29.95   
Photo koleksi lama di :

http://ambarbriastuti.multiply.com/photos/album/65/ 
I_Think_I_See_Jellyfish_Everywhere



Salam,

Ambar Briastuti
www.ceritaambar.com | ym : ambar_briastuti | Adventures. Backpacking.  
Photography.




[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Indonesian Backpacker Community
visit our website at http://www.indobackpacker.com atau bisa juga di 
http://www.backpacker-indonesia.info/


Silakan membuka arsip milis http://groups.yahoo.com/group/indobackpacker/   
untuk melihat bahasan dan informasi yang anda butuhkan.

No SPAMMING or forwarding unrelated messages.
Silakan beriklan sesuai tema backpacking di hari Jumat. 

Sebelum membalas email, mohon potong bagian yang tidak perlu dan kutip bagian 
yang perlu saja

Milis Indobackpacker tidak bisa menerima ATTACHMENT, untuk menghindari virus 
dan menghemat bandwidth.

Cara mengatur keanggotaan di milis ini :

- Satu email perhari: [email protected]
- No-email/web only: [email protected]
- menerima email: [email protected]
- berhenti dari milist kirim email kosong : 
[email protected]
- Begabung kembali ke milist kirim email kosong : 
[email protected]! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/indobackpacker/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/indobackpacker/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[email protected] 
    mailto:[email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke