Jelajah di Timor Barat? Apa yang menarik? Pertanyaan ini berhenti saat saya 
putuskan pergi ke Boti, suku asli Timor yang menolak kehidupan modern. 
Petualangan ini membawa saya seperti pergi ke Timor di awal abad 20 dengan 
bonus pemandangan alam yang menarik dan budaya serta adat Timor yang menarik


Waktu saya bimbang akan tempat penjelajahan di Timor dari Kupang, seorang teman 
menyarankan saya pergi ke Boti, satu suku asli Timor yang sampai sekarang 
menolak kehidupan dan agama modern. Suku yang terletak di satu daerah 
perbukitan di dekat Soe, kota di Timor Tengah Selatan (TTS), ternyata pernah 
saya lihat di tayangan teve sebelumnya. Akhirnya dengan bertekad bulat disertai 
rasa penasaran saya dan rasa bingung saudara-saudara, saya putuskan pergi 
menjelajahi Boti dari Kupang

Penjelajahan
Dengan menumpang satu bus saya berangkat menuju Soe, tempat perhentian sebelum 
tiba di Boti. Dengan menyusuri jalan berkelok-kelok, semakin lama cuaca terasa 
makin sejuk karena jalan membawa saya ke daerah perbukitan. Pemandangan 
perbukitan membuat sejuk di mata. Ternyata Timor bagian tengah terlihat subur 
dan cuacanya tidak sekering yang saya duga. Saya juga sempat tertawa melihat 
babi berteriak protes waktu diikat di belakang bus, ingin rasanya keluar dan 
mengambil gambar si babi malang, sayang tidak sempat. Sempat juga bingung waktu 
ditanya kesatuan tempat saya bertugas oleh seorang bapak yang duduk di samping 
saya. Halaaah, saya disangka tentara, hahahahaha.

Setiba di Soe, tugas pertama adalah mencari hotel atau penginapan yang layak 
dan murah. Dari rencana menginap di Hotel Bahagia, ternyata saya turun di Hotel 
Bahagia II yang agak jauh dari pusat kota, dan ternyata ada mobil UN diparkir 
disana, Walah sepertinya staf PBB urusan pengungsi dan Timtim masih ada di 
sini. Lanjut makan di warung depan hotel nasi campur dan susu kedelai yang 
hargaya cukup mahal untuk ukuran Timor, karena saya membayar hampir 20 ribu 
rupiah, Kok tidak jauh beda dengan harga di Jakarta ya?

Karena ingin mencari hotel yang lebih di tengah kota dan berharga lebih murah, 
saya mencari tukang ojek yang membawa saya berkeliling karena ternyata hotel 
Bahagia I sudah penuh juga dengan hotel lainnya. Akhirnya kitab suci para 
pengelana ciptaan Tony Wheeler (tahu kan???) menyebutkan homestay milik Pae 
Nope. Waktu saya telepon, seorang wanita tua menjawab dan mengatakan kamar 
mereka kosong, aaaaah aman untuk urusan hotel dan homestay juga terletak di 
pusat kota jadi mudah mencari makanan serta supermarket. Karena perlu makanan 
kecil serta keperluan mandi yang kurang, saya berkunjung ke pasar swalayan yang 
ternyata harganya tidak beda jauh dengan Jakarta.

Pagi-pagi disaat sedang siap-siap sarapan dan mencari info dan pemandu untuk 
menuju Boti, ternyata Pae Nope, sang pemilik homestay sudah pulang dan mengajak 
saya masuk ke rumahnya. Kebetulan sekali, selain dia ada pula para pejabat 
pariwisata di Soe. Wah saya berasa wartawan karena banyak reporter datang ke 
Boti mencari bahan berita, hahahahaha. Jadi mereka sempat pikir saya wartawan 
dari Jakarta. Tapi mereka akhirnya menghadiahi saya VCD tentang pariwisata di 
TTS.

Menuju Boti
Dengan naik motor "laki" yang dibawa seorang pria bernama Tuan yang dikenalkan 
Pae Nope, saya mulai perjalanan menuju Boti. Sebelumnya tak lupa makan siang di 
warung Jawa yang menyajikan makanan murmer dan enak. Jalanan mulus membentang 
hingga satu simpang sekitar Oenlasi dimana saya membeli minuman dan istirahat 
sejenak.

Jalan mendadak berubah menjadi sangat terjal, berbukit-bukit yang membuat saya 
agak repot menahan badan di motor serta ransel di punggung. Untunglah 
pemandangan alam yang menarik menghibur saya. Setelah melewati beberapa 
gerbang, saya tiba di perkampungan suku Boti tepatnya di dekat tempat tinggal 
Kepala Suku Boti.

Tiba di Boti
Ah, saya beruntung sekali, selain pemandu saya ternyata bisa bahasa setempat, 
ternyata saya datang saat mereka berkumpul secara adat. Adat suku Boti 
mewajibkan mereka berkumpul setiap hari kesembilan dan disanalah saya berkumpul 
bersama melihat para tetua pria berbincang-bincang dan para wanita berkumpul 
untuk menenun. Mereka bahkan datang dari desa-desa yang jauh, bahkan hingga 2 
jam untuk berkumpul.

Pakaian orang Boti, meskipun hampir semuanya sudah terbiasa memakai kaus atau 
kemeja modern tapi mereka tetap teguh memakai kain tradisional melingkari 
pinggang dan kepala mereka. Kain tradisional yang mereka tenun sendiri tapi 
ternyata ada juga seorang ibu yang memakai kain batik juga :-P.



Saya sempat kaget ternyata Kepala Suku tidak bisa bahasa Indonesia, untunglah 
anggota suku lainnya bisa berbahasa Indonesia dan ternyat mereka cukup ramah. 
Saat melihat buku tamu, walaaah banyak benar tamu mereka dari dalam dan luar 
negeri. Tapi jarang ada tamu dari Jakarta seperti saya, hehehehe. Sempat saya 
ditanya kepala suku agar saya tidak takut pergi sendirian ke Boti, walah kalau 
takut buat apa berangkat. Rombongan yang datang rata-rata berkelompok dan harus 
memakai mobil khusus 4 WD karena jalan yang aduhai menuju Boti

Malam yang syahdu
Di sore hari para tetua pulang ke rumah masing-masing, suasana makin gelap dan 
saya baru sadar listrik telah masuk ke rumah kepala suku, yang ternyata 
disumbangkan dinas pariwisata setempat, tapi tetap saja suara binatang membuat 
malam terasa lain sekali jauh dari kota.

Pada saat pertama datang, saya tidak berani mencoba sirih. Maklum belum pernah 
dan takut tidak kuat, akhirnya malah mencoba keripik singkong yang entah mereka 
beli dimana. Malam itu makan malam terasa nikmat dengan jagung bose, singkong 
tumbuk, nasi putih, kerupuk dan ayam (kampung) sayur. Saya bahkan suka sekali 
dengan sambal bubuk mereka yang rasanya enak.

Waktu malam semakin larut, saya sempat berbincang panjang lebar dengan seorang 
pemuda Boti. Dari hama tanaman di ladang seperti monyet dan kakaktua. Monyet 
disana bahkan dapat mencabut singkong dari tanah dan akhirnya orang Boti 
memelihara anjing untuk mengusir monyet pengganggu.

Malam itu diantar suara alam yang bersahutan, ditemani lampu minyak yang 
temaram, saya bisa tidur dengan nyenyak sendirian di kamar guest house. Suara 
angin, serangga, hingga suara ternak membentuk satu konser nyanyian alam yang 
indah.

Selamat pagi
Setelah disegarkan dengan sarapan singkong rebus, kopi dan keripik pisang, saya 
berkeliling melihat rumah mereka. Khas sekali rumah mereka, dibuat dari gewang, 
semacam pohon lontar. Dinding rumah dibuat dari daun pohon gewang, tidak 
seperti bambu di Jawa. Atap rumah dibuat dari ijuk. Gewang, pohon khas Timor, 
memang banyak gunanya.

Lopo, rumah tradisional Timor, masih digunakan di Boti seperti daerah Timor 
lainnya. Bentuknya unik, tanpa jendela dan berpintu rendah.

Hari itu saya juga sempat melihat mereka menenun yang hasilnya mereka pakai 
sendiri dan mereka jual. Tenun ikat mereka indah, warnanya unik. Proses tenun 
dimulai dari saat mereka memintal benang, mencelup warna hingga akhirnya 
menenun yang mereka lakukan bersama-sama.

Sebenarnya masih banyak yang saya mau lakukan, dari pergi ke ladang mereka yang 
letaknya berjam-jam berjalan kaki sampai mencari burung kakaktua namun sayang 
waktu membatasi.

Sebagai penggila foto, saya sempat memfoto orang-orang Boti dan sempat berjanji 
akan mengirimkan foto kepada mereka disana sepulangnya saya dari Boti. Album 
foto di rumah kepala suku bahkan berisi foto-foto karya Photo voices yang 
mengadakan photo hunting disana. Bahkan ucapan terima kasih dari beberapa 
stasiun teve dapat juga dilihat di buku tamu yang tebal

Pulang
Setelah makan siang, diantar motor "laki" kembali, saya pulang dengan menuju 
Oenlasi. Lagi-lagi sempat repot dengan jalanan yang aduhai meski pemandangan 
alam cantik tersaji di depan mata.

Ternyata tidak perlu lama menunggu di Oenlasi untuk mendapatkan bus menuju 
Kupang. Sempat saya tergoda menjelajah bagian lain dari TTS hingga Timor Leste 
namun apadaya waktu terbatas dan lupa membawa paspor. Sepertinya jika Tuhan 
mengijinkan saya akan mengulangi perjalanan ini di TTS.

Catatan :
- Suasana TTS sejuk, tidak panas seperti anggapan orang tentang Timor
- Orang Timor tidak mempunyai budaya menjual makanan jadi sangat sulit mencari 
warung makan disana, kalaupun ada yang menjual biasanya adalah orang Jawa atau 
orang pendatang
- Banyak orang Boti bergigi merah karena biasa menguyah sirih.
- Hanya Telkomsel yang bisa dipakai menjelajah Timor Barat (bukan iklan lho)
- Orang Boti memegang teguh adat diantaranya dengan tidak memeluk agama modern. 
Sampai sekarang kepercayaan asli tetap mereka pegang
- Budaya Indonesia itu kaya sayang sekali kalau kita tidak tahu budaya sendiri.

Akhir kata, selamat menjelajahi Indonesia !!!!!

Sumber :
http://www.indobackpacker.com/2009/05/jelajahsukuboti/
http://androsa.multiply.com/journal/item/53

Album foto Boti
http://androsa.multiply.com/photos/album/74

Kirim email ke