Teman-teman indobackpacker,

 
Saya mau sharing perjalanan saya travelling beberapa hari kemarin..(Saya 
menulis pengalaman ini beberapa hari setelah pulang dari Balikpapan, tapi baru 
dipublish sekarang). Hari kamis tanggal 21 Mei setelah mempertimbangkan untuk 
travelling ke beberapa tempat seperti Jogja, Batam, Padang, Pangkal Pinang dan 
Balikpapan, akhirnya di airport saya memutuskan untuk berangkat ke balipapan. 
Saya naik Mandala Air dan langsung menuju bandar udara Sepinggan.. Biaya 
tiketnya memang relatif mahal karena go show dan akhir pekan kemarin memang 
merupakan hari liburan panjang.. setelah terbang kurang lebih 1 jam 45 menit, 
akhirnya saya mendarat di bandar udara Sepinggan.

¨Taksi dan ramahnya masyarakat Balikpapan¨

Setiba di Sepinggan saya berjalan kaki menuju jalan raya dan naik "taksi" nomor 
6 menuju terminal BP.. sampai di terminal saya naik taksi nomor 7 untuk 
keliling-keliling balikpapan, taksinya menuju kearah pelabuhan, disini kita 
bisa melihat komplek pertamina yang tertata rapi dan asri berseberangan dengan 
kilang-kilang minyak. Hari pertama ini saya menghabiskan waktu keliling 
Balikpapan dengan taksi nomor 6, 7. Hari pertama ini saya sudah bisa keliling 
dan puas melihat berbagai pusat keramaian di balikpapan dengan tarif taksi yang 
tidak mahal yaitu sekitar 3rb sampai 5rb saja sekali naik.

Hal pertama yang menyenangkan dari perjalan hari pertama di balikpapan adalah 
masyarakatnya yang ramah, sopir taksinya yang ramah menunjukkan jalan dan tidak 
mengelabui arah perjalanan lokasi yang kita tanyakan ke mereka.. saya banyak 
ngobrol-ngobrol dengan sopir taksi, mereka bilang bahwa masyarakat di 
balikpapan sudah memahami bahwa mereka harus ramah dengan wisatawan, karena 
wisatawan ini yang nanti akan cerita ke teman-temannya yang lain dan mengundang 
lebih banyak wisatawan lagi yang selanjutnya akan meningkatkan pemasukan bagi 
pekerja di Balikpapan..

Malam jam 10.30 saya memutuskan untuk menginap di hotel Nusantara Citra yang 
tarifnya 125rb semalam dengan kipas dan kamar mandi diluar. Menurut saya 
pelayanan di hotel ini kurang memuaskan, pelayanan dari pegawai hotelnya 
terkesan seadanya saja dan sepertinya tidak niat untuk memberikan pelayanan 
yang terbaik kepada kita sebagai tamunya.    

 

¨Penangkaran Buaya Tritip dan Hutan Lindung Sungai Wain¨

Esok paginya saya melanjutkan perjalanan ke tritip yang merupakan area 
penangkaran buaya. Saya menyarankan teman-teman yang ingin berkunjung kesini 
datang hari minggu saja. Karena hari minggu pengunjungnya ramai dan 
pengelolanya jualan sate buaya, di hari biasa mereka tidak jualan sate buaya. 
Namun disini teman-teman bisa minum arak putih yang sudah lama bercampur dengan 
tangkur (organ kemaluan buaya), konon ramuan ini dapat meningkatkan stamina. 
Saya dan beberapa tentara yang berkunjung kesana minum arak putih hasil 
campuran dengan tangku buaya, segelasnya dijual 5rb rupiah. Sebagai tambahan 
informasi, pengelola penangkaran buaya ini juga bersedia menjual tangkurnya di 
angka 3 juta rupuah, dibawah itu dia ga mau.. Dan sebagai tambahan informasi 
juga, tangkur buaya ini berbeda dengan yang teman-teman sering lihat dijual di 
pinggir jalan.. jadi hati-hati jangan sampai tertipu jika mau beli tangkur 
buaya.


Perjalanan dari tritip dilanjutkan menuju kilo 15 kawasan Hutan Lindung Sungai 
Wain (HLSW), dari Tritip tadi saya menumpang tentara-tentara ini kembali ke 
Balikpapan, naik taksi no 3 ke terminal Damai Indah dan selanjutnya naik taksi 
nomor 8 menyusuri kilo (namanya Jalan Soekarno Hatta yang menghubungkan 
Balikpapan dengan Samarinda). Sampai di kilo 15, saya turun dan naik ojek 
kedalam sepanjang 13 kilometer. Teman-teman bisa kasih 10rb - 15rb untuk jasa 
mereka mengantarkan kita sampai ke pos jaga HLSW. Sesampainya saya disana, 
ternyata baru dua hari yang lalu ada korban warga setempat yang dimakan buaya. 
Untungnya saya diberikan kesempatan untuk mengelilingi waduk penampung air dan 
lokasi kejadian dari jauh. Disini saya bersyukur bisa melihat pemandangan yang 
indah, waduknya dikelilingi hutan dan diatas waduk ada banyak burung elang yang 
terbang mencari makan, sesekali mereka menukik tajam untuk makan ikan yang 
muncul ke permukaan waduk. Selain elang, saya juga melihat ribuan burung 
alang-alang yang mandi di waduk, semakin sore burung alang-alang yang mandi di 
kawasan ini semakin banyak dan menjadi tontonan yang luar biasa mengagumkan.
Perjalanan sore ini ditutup dengan barisan wareg (monyet kecil) yang berbaris 
menuju Hutan Lindung Sungai Wain. Mereka baru saja makan dari perkebuanan 
kelapa sawit dan sore ini mereka mengambil jalan pintas untuk masuk ke hutan 
melewati waduk. Sesaat pemandu Hutan Lindung menyampaikan bahwa ada barisan 
wareg yang akan menyeberang jembatan menuju hutan, saya perhatikan mereka 
berbaris dan lucu sekali. Kejadian ini seperti yang ada difilm kartun di TV, 
saya membayangkan mereka adalah manusia perantau yang membawa bungkusan hasil 
kerja mereka hari ini di perkebunan kelapa sawit. Visualisasi ini sirna sudah 
setelah pemandu saya ini berlari menuju wareg-wareg tersebut. Saya tertawa 
karena mereka tunggang langgang berlarian keatas pohon. Barisannya luar jalan. 
Disini saya sempat mengabadikan mereka bergelayutan di pohon-pohon. Akhirnya 
perjalanan mengelilingi waduk Hutan Lindung Sungai Wain ini saya akhiri dan 
selanjutnya saya menuju kilo 38 tempat konservasi orang utan.

¨Kilo 38 yang Bukan lagi Konservasi Orang Utan¨

Saya diantar oleh pemandu Hutan Lindung Sungai Wain kembali ke jalan besar. 
Selama perjalanan, beliau cerita bahwa beberapa hari ini setelah kejadian buaya 
yang memakan manusia itu, kawasan Hutan Lindung Sungai Wain tertutup untuk 
umum. Namun beliau mengatakan bahwa diareal luar Hutan Lindung ada beberapa 
tempat peristirahatan yang nyaman. Sewanya antara 200 rb per malam. Saya yakin 
tarif ini masih bisa di negosiasikan lagi.

Sampai di jalan besar kilo 15 saya naik taksi nomor 8 menuju kilo 38 perjalanan 
yangsaya tempuh menyenangkan dan dalam perjalan ini saya dapat melihat 
pemandangan yang ada di sekitar saya. Untuk teman-teman yang nanti akan ke kilo 
38, anda akan lihat plang besar ¨Bukit Bangkirai¨, nah disini saya berhenti 
dan naik keatas menuju kantor yang saya kira adalah temapat konservasi orang 
utan. Disana saya tidak menemukan aktivitas operasional konservasi orang utan 
karena ternyata konservasinya sudah pindah ke Samboja Lestari. Walaupun 
aktivitasnya sudah pindah, namun di lokasi ini masih ada sekitar 25 orang utan 
yang masih sakit dirawat disini. Teman-teman, disini saya bertemu seorang ahli 
kehutanan yang menjelaskan kepada saya bahwa sejatinya wilayah konservasi orang 
utan berbeda dengan kebun binatang. Konservasi bertujuan untuk mempersiapakan 
orangutan kembali ke hutan, oleh karena itu mereka ini dijauhkan dari kontak 
fisik dengan manusia dan diminimalisir tatap muka dengan manusia. Berdasarkan 
pemahaman ini, maka saya mengerti kenapa wilayah konservasi orangutan ini 
dipindahkan ke daerah yang lebih steril dan minim interaksi dengan manusia.

Akhirnya saya mengakhiri perjalanan saya berdiskusi dengan 2 orqng manager 
Samboja lestari yang diperkenalkan kepada saya oleh pak adi susilo, teman yang 
juga adalah ahli kehutanan dan dosen terbang di Michigan State University. Hari 
ini saya tidak berkesempatan untuk berkunjung ke Samboja Lestari, namun saya 
nyatakan kepada teman-teman kalau ada waktu saya akan berkunjung kesana.

¨Samarinda, Tenggarong dan Pulau Kumala¨

Saya kembali lagi ke menginap di Balikpapan dan pindah ke hotel Beriman. Lokasi 
Hotel Beriman ada di sekitar terminal Damai Indah. Tepatnya sih dekat pos 
plisi, jadi kalo sdah samapai di terminal, anda tinggal berjalan saja menuju 
simpang lampu merah dan hotelnya ada disekitar itu. Saya merekomendasikan 
teman-teman untuk menginap di hotel ini karena baru saja direnovasi, bersih dan 
ada berbagai paket yang ditawarkan. Dari yang paling murah yaitu 80rb, temapt 
tidur double, dan pakai kipas. Sampai 175rb dengan AC dan TV. Pelayanan di 
hotel in memuaskan dan pelayannya ramah dalam melayani tamunya.

Pagi harinya saya berangkat lagi menuju Samarinda dan selanjutnya ke 
Tenggarong. Perjalanan ke Samarinda saya tempuh dengan bis selama 2 jam, dan 
biayanya sebesar 26rb. Sesampainya di terminal setelah mengantar seorang teman 
yang menjadi teman saya ngobrol selama 2 jam di perjalanan, saya kembali lagi 
naik ojek dengan biaya 10rb ke seberang jembatan Sungai Mahakam. Dari sini 
memang ada taksi meuju ke Tenggarong, namun mereka lama sekali berangkatnya. 
Akhirnya saya memutuskan untuk naik ojek dengan biaya sebesar 50 rb dari 
jembatan ke Pulau Kumala Tenggarong. Jarak dari jembatan ke Pulau Kumala sejauh 
40km dan akhirnya saya sampai disini dengan selamat.

Di sepanjang tepian yang melingkari pulau Kumala ini ada beberapa anak muda 
yang asik bersenda gurau dan memancing. Dari kejauhan saya bisa melihat ada 
perahu yang melintasi sungai antara Tenggarong dengan Pulau Kumala. Teman-teman 
yang mau meuju Pulau Kumala dapat naik perahu ini dengan tariff 3rb per 
orangnya. Di Tenggarong yang mempunyai PAD paling besar Di Indonesia, ternyata 
hanya ada & angkutan, angkutan ini akan berjalan menyusuri tepian sungai yang 
memisahkan pulau kumala, selanjutnya masuk menuju ke pasar, terus ke museum 
Mulawarman yang berdekatan dengan boscha / planetarium, samapai akhirnya 
taksinya kembali lagi berputar menuju tepian sungai.  Sebagai informasi, di 
Pulau Kumala ini ada beberapa wahana seperti cable car yang sudah tidak 
beroperasi lagi. Menurut pengakuan warga, objek wiasta ini sudah mulai tidak 
terurus sejak Syaukani terkena kasus dan masuk penjara.

Sayang sekali padahal objek wisata yang satu ini potensial untuk dikembangkan 
oleh pemda setempat, namun karena urusan kepemimpinan pemerintah daerah setmpat 
yang tidak stabil maka oprasional kawasan wisata juga terhambat, akhirnya objek 
wisata ini tidak dapat memuaskan warga yang datang.

¨Bukit Bangkirai¨

Malam itu juga saya berangkat pulang ke Samarinda dan langsung menuju Blikpapan 
beristirahat. Esoknya saya berencana untuk berkunjung ke Bukit Bangkirai yang 
ada di kilo 38. Esok paginya di sebelah hotel beriman, saya makan siang ikan 
kakap bakar, untuk diketahui teman-teman biaya makan di Balikpapan termasuk 
mahal. Makan ikan kakap dan es the manis 17rb rupiah, begitu juga dengan makan 
coto Makassar yang khas di Balipapan, biayanya sebesar 14rb plus es the manis. 
Kembali lagi ke perjalanan ke Bukit Bngkirai, saya tinggal jalan keki ke 
terminal Dalai Indah dan selanjutnya naik taksi 08. Sebagai masukan untuk 
teman-teman, dari terminak ini sebenarnya kita juga bias naik bis Samarinda 
Balikpapan dengan biaya kurang lebih sama namun dengan waktu perjalanan yang 
lebih cepat.

Sesampainya di Bukit Bangkirai, saya bertanya-tanya dengan warg setempat yang 
ada diwarung, dari keterangan mereka, total jarak dari simpang kilo 38 ke Bukit 
Bangkirai 20km. Memang ada taksi L300 yang masuk kedalam, namun taksi ini hanya 
sapai di simpang jalan besar ke areal bukit Bangkirai, total 13kilo dan dari 
simpang itu kedalam jauhnya 7kilo yang harus dilalui dengan jalan kaki karena 
tidak ada taksi maupun ojek yang mangkal disana. Berdasarkan pertimbangan ini, 
maka saya memutuskan untuk naik ojek kedalam Bukit Bangkirai. Ojek yang 
mengantar saya adalah suami dari penjaga warung tempat saya bertanya, dia 
mengojek hanya sebagai pekerjaan sampingan saja, pekerjaan utamanya adalah 
engineer di pabrik potong ayam.

Kami memulai perjalanan dari simpang itu kedalam, jalanan menanjak dan kurang 
bagus karena jalanan ini juga dlalui oleh mobil pengangkut beban yang berat 
seperti truk 10 roda batubara. Samapi di simpang jalan raya ke Bukit Bangkirai 
kondisi jalannya semakin rusak, beberapa kali saya turun dari motor dan jalan 
kaki, mengantisipasi motornya selip karena jalanannya berlumpur dan tanah liat. 
Sepanjang perjalan saya menduga-duga apakah jalan ini memang kurang bagus dari 
awalnya atau sudah rusak seperti jalanan lain yang dilalui truk besar. Ternyata 
teman yang siang ini mengantar saya ke Bukit Bangkirai menceritakan bahwa pada 
awalnya jalanan ke Bukit Bangkirai bagus, naming sejak ada peraturan yang 
membolehkan pertambangan batubara didalam hutan lindng, maka perum perhutani 
juga mengijinkan truktruk besar itu melalui jalana ke Bukit Bangkirai. Hasilna 
jalanan rusak dan terkadang wisatawan tidak diijinkan masuk ke kawasan Bukit 
Bangkirai jika jalanan berlumpur setelah hujan. Sesampainya di Bukit Bangkirai, 
kami disambut ramah di pintu gerbangnya, per orang yang masuk ke kawasan wisata 
bukit bangkirai dikenkan tiket 3rb rupiah dan motor 2rb. Tiket masuk yang 
sebenarnya murahuntuk kawasan ekowisata seperti Bukit Bangkirai.

Dik awasan ini ada beberapa objek yang dapat dikunjungi. Kita dapat dating ke 
taman anggrek, yang ternyata tidak terurus dengan rapid an terkesan kuran 
gbersih. Selanjutnya kita dapat mlihat banyak pohon besar di dalam hutan, nalun 
ternyata untuk dapat melihat pohon-pohon ini sebaiknya saya dating pagi hari 
dan bersama pemandu karena pohon-pohonnya agak jauh kedalam hutan. Yang 
terakhir adalah anda dapat menikmati canopy bridge yang sangat menantang. 
Canopy bridge adalah jembatan yang dibangun diatas pohon canopy setinggi 30m. 
Jadi kita harus naik tangga keatas sejauh 30m kemudian sesqmpqinyq di puncqk 
kitq dqpqt meleaqti pohon  yqng sqtu ke pohon lain melalui jembatan. Pengalaman 
ini luar biasa untuk saya karena saya berada di atas ketinggian 30m dan bias 
melihat landscape hutan lindung disekitar saya. Butuh tenaga besar untuk naik 
kepuncaknya, sehingga sesampainya saya di puncak pohon, saya beristirahat dulu 
beberapa menit sekalian mengambil dokumentasi moment tersebut. Melalui jembatan 
diatas ketinggian 30 m ini membuat saya ingat momen-momen seperti di film 
Indiana Jones. Ada jembatan kayu yang terbentang antara 2 jurang, jembatan ini 
digantung dengan tali sling baja yang diameternya tebal, total panjang jembatan 
antar pohon ini adalah 64m, ketika anda melewati jembatan ini maka seakan-akan 
bobot badan anda seakan-akan menekan elasitisitas jembatan itu kebawah. Setelah 
saya melalui bentangan jembatan pertama, ada beberapa orang perempuan yang 
melewati jembatan tersebut dan menjerit-jerit karena ketakutan ketika mereka 
melewati jembatan tersebut. 

Setelah saya melalui bentangan jembatan pertama, maka selanjutnya saya melalui 
jembatan kedua yang menghubungkan pohon paling depan dengan pohon yang saya 
injak sekarang. Saya melalui jembatan ini dan ketika sampai di pohon paling 
depan tersebut, maka saya dapat melihat landscape hutan lindung dimana Bukit 
Bangkirai berada di tengah-tengahnya. Sepanjang mata memandang, pohon yang ada 
di sekeliling Bukit Bangkirai ini sangat rimbun. Mereka terdiri dari berbagai 
spesies tumbuhan. Ketika anda berada di puncak pohon yang paling luar ini, anda 
dapat membayangkan kejadiannya seperti di film Tarzan, ketika Tarzan 
memandang-mandang hutan yang sangat luas dari rumahnya yang berada di atas 
pohon.


TO BE CONTINUE

Akhirnya, setelah puas memandang-mandang luasnya hutan di Bukit Bangkirai, maka 
saya turun kebawah untuk bercakap-cakap dengan penjaga Bukit Bangkirai. 
Penjaganya menyampaikan bahwa 

¨Samboja Lestari: Pulau Orang Utan, Pulau Beruang Madu, Samboja Lodge dan 
1800hektar Reforestrasi Hutan¨

¨Sepinggan dan Riva Duta wisata Balikpapan¨
 
¨Indonesia, Pemerintah, Ekotourisme dan Indonesia masa depan¨

Kirim email ke