Teman;

Sebelum berangkat saya sempat melempar beberapa pertanyaan ke Milis. 
Terimakasih atas responsnya, dan berikut umpan balik saya setelah mengalami 
sendiri hal-hal yang saya tanyakan di Milist.

SITUASI UMUM.
Terimakasih rekan Aria Widyanto buat update situasi. Benar bahwa off-season 
seperti ini banyak penginapan/tea house/toko yang tutup dan ditinggal 
pemiliknya. Jadi `local knowledge' guide/porter sangat penting untuk bisa maju 
satu desa sebelum matahari terbenam untuk memastikan bahwa ada penginapan yang 
buka di desa berikut.

Bahkan klinik di Periche yang tadinya membuat saya agak nyaman kalo harus 
menghadapi keadaan darurat, juga ternyata tutup, dan akses ke dukungan medis 
terdekat hanya ada di Kundhe-Kumjung.

Saya tiba sedikit sebelum moonsoon, sehingga sepanjang trek cuaca cukup 
bersahabat. Tapi tiga hari terakhir sebelum pulang meninggalkan kathmandu, 
hujan selalu turun, dan koran mulai memberitakan longsor dibeberapa tempat. 
Wabah kolera juga mengikuti di salah satu distrik.

ACUTE MOUNTAIN SICKNESS(AMS)
Terimasih untuk Rekan....(maaf emailnya terhapus), yang menyarankan 
mengkonsumsi Bee Polen setiap hari sebelum masuk ke ketinggian untuk 
menghindari AMS.

Saya minum madu tiap pagi, dan untungnya tidak mengalami gejala AMS.

Tapi sulit juga untuk meng-isolasi faktor mana yang mengakibatkan tidak 
timbulnya AMS. Melihat poster yang ditempel beberapa tempat disana, tampaknya 
ada tim riset yang mencari trekker untuk jadi volunteer untuk mengukur korelasi 
jumlah konsumsi gula dengan timbulnya AMS. Tampaknya ada indikasi kalo cukup 
gula yang di konsumsi, AMS cenderung tidak timbul.

Lain dari itu, saya jalan mulai dari Jiri, dimana beberapa kali melewati daerah 
dengan ketinggian diatas 3000-m, sampai akhirnya sampai di Namche(3400-m). 
Sehari aklimatisasi di Namche dan setelah itu beberapakali nakal karena di 
beberapa etape yang menurut buku panduan dilalui dalam dua hari, oleh guide 
saya dibikin jadi sehari. 

Sherpa ternyata punya teori sendiri tentang AMS. Ang Sona Lhakpa Sherpa, 
rupanya memperhatikan ketika saya aklimatisasi di Namche. Menurut dia;"If you 
are ok down there, you are ok here". Hal tersebut dia sampaikan ketika memberi 
tahu bahwa kami akan menempuh rute Periche(4200m) – Gorak Shep(5200-m) dalam 8 
jam. Menurut LP, untuk rute tersebut biasanya ditempuh dengan menginap semalam 
di Lobuche (4900-m). 

Hal yang sama kami ulangi lagi ketika dari Portche Tenga(3700-m) ke 
Gokyo(4800-m). Tapi kali ini di Gokyo Sherpa saya yang masuk ke kamar dengan 
kepala berbalur bawang putih. Sakit kepala katanya, tapi karena angin dingin 
dan bukan karena naik terlalu cepat. 

Harus saya percaya ilmuwan ato Sherpa? Saya pilih percaya Sherpa saya.

WATER PURIFIER
Akhirnya saya dapet di toko Zephyr, sebelah STC senayan; Micropur Forte MF1T, 
berupa tablet desinfektan air. Kata penjualnya tablet ini keluaran Katadyn. 
Satu tablet untuk satu liter air. Harga Rp 3000 per tablet. Rasa air juga tidak 
terlalu terganggu.

Menggunakan water purifier adalah yang paling praktis dan ekonomis untuk 
trekking di Sagarmatha mengingat; karena ketinggian, air mendidih dibawah 
temperatur 100 derajat(toh bakterinya cuma pingsan). Harga air masak relatif 
tinggi. Solusi membeli air minum kemasan buat saya juga tidak memberi rasa 
nyaman, mengingat saya melihat di salah satu toko, setumpuk plastik merek air 
botol yang belum di tempel ke botol.

Alternatif lain; di daerah Thamel banyak toko yang menjual cairan Iodine untuk 
desinfektan air.

TINGKAT KESULITAN TREK
Dengan ketinggian maksimum diatas 5500 meter, trek Sagarmatha bisa di golongkan 
sebagai trek yang mudah. Penginapan dengan selimut hangat ada ditiap 
perhentian, dan selalu dilengkapi dapur yang siap memasak makanan yang relatif 
akrab di lidah (Tuna Pizza di 5200-meter!). Ketersediaan supply logistik juga 
bukan masalah.

Variable yang tak-terkontrol adalah munculnya AMS. Pun itu terjadi, dapat 
ditangani dengan turun dan mencoba kembali untuk mencapai ketinggian (selama 
persediaan Rupee masih ada).

Temperatur rendah dan angin memang sesuatu yang tidak biasa buat manusia tropis 
seperti kita, tapi faktor tersebut bisa diatasi dengan peralatan. Untuk bulan 
July, fleece jacket dan raincoat dilapisan luar ternyata cukup nyaman. First 
layer sinthetic juga sangat membantu (saya mendapat dari joeitem.multiply.com), 
yang bertahan selama perjalanan hanya dengan beberapa kali cuci dan cepat 
kering.

Paling optimum memang menggunakan Lukla sebagai pintu masuk dan keluar. Trek 
dari Jiri tidak terlalu istimewa.


Kirim email ke