Saya pernah ke Buru tapi itu sudah lama sekali, sudah hampir 14 tahun lalu 
(sekitar Oktober 1995).  Waktu itu sama sekali tanpa "panduan".  Saya baru tahu 
jadual keberangkatan ferry ke Namlea (pelabuhan utama Buru) pun setelah sampai 
di Ambon.  Kalaupun ada yang dianggap panduan, paling datang dari 2 buah buku 
yakni "Sebuah Rumah Nun di Sana" terjemahan karya sastrawan Indo-Belanda (?) 
Beb Vuyk dan "Nyanyi Sunyi Seorang Bisu" tulisan Pramoedya Ananta Toer.  Buku 
pertama saya peroleh di loakan, buku kedua waktu buku terlarang (kalau tidak 
salah dilarang per April 1995).  Buru memang terra incognita, tanah tak 
dikenal.  Paling banter orang tahu Buru dari 2 hal: minyak kayu putih (buku 
pertama) dan tapol (buku kedua).  Pergi ke Buru tanpa menyambangi hal-hal yang 
terkait dengan kedua subyek memang kurang afdol jadinya .. he-he.

Untuk yang pertama (kayu putih -- kayuput oil) kita bisa minta tolong orang 
setempat untuk mengantar ke tempat penyulingan tradisional.  Waktu itu yang 
menemani saya transmigran asal Ciamis di unit XIV (Savanajaya?).  Berdua kami 
naik sepeda menerabas hutan sekunder hingga di kaki bendungan Waemeten (saya 
lupa nama tepatnya).  Sepeda diparkir di kaki bendungan, kami berdua 
menyeberang Sungai Waemeten melewati mercu bendungnya.  Selanjutnya jalan masuk 
hutan sekitar 1-2 km untuk sampai di tempat penyulingan.  Di penyulingan saya 
dijamu dengan beraneka cerita mulai dari cara penyulingan hingga jenis-jenis 
kayuputih sesuai berat jenisnya.  Pulang dari penyulingan saya tak boleh 
langsung nggeblas.  Saya ditahan untuk makan siang bersama di rumah si 
pengantar.

Untuk yang kedua panduannya lebih banyak ke intuisi dan feeling .. he-he.  Ada 
banyak orang (ex-tapol) yang enggan pulang dan menetap di sana.  Kalau mau 
'peta' yang lebih lengkap bisa dibaca rubrik selingan di TEMPO (entah tahun 
2005 atau 2005) yang berisi reportase perjalanan Amarzan Lubis ke Buru.  
Amarzan sangat menguasai lika-liku 'Gulag Archipelago' Indonesia itu lantaran 
pernah di sana.  Yang saya tangkap dari tulisan Pak Amarzan, banyak hal-hal 
baru di sana.  Salah satunya, di Namlea kini sudah ada hotel berbintang padahal 
saat saya ke sana (setahu saya tentunya) satu-satunya penginapan ada di sudut 
pasar bernama "Aktin".  Jika ingin sedikit tahu situasi di sana di akhir 60-an, 
bisa dibaca tulisan pendek Goenawan Mohamad (GM) "Suatu Hari dalam Kehidupan 
Pramoedya Ananta Toer".  Saya baca tulisan GM itu di salah satu bukunya tapi 
sayang lupa judulnya.

Kalau jadi ke Buru saya mau ngreporti.  Mohon sudi berbagi info terbaru di sana.

Salam dari Sangatta
6-September-2009


 



________________________________
From: truly hitosoro <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Saturday, 29 August 2009 1:41:20
Subject: [indobackpacker] Mohon Info Pulau Buru

  
Temans,

Libur Lebaran ini, saya berencana untuk pergi ke Ambon, lalu lanjut ke Pulau
Buru. Mengenai Ambon, saya sudah dapat beberapa info yang di-post oleh
teman2 traveller di arsip milis. Namun, info tentang Pulau Buru belum dapat
(atau nyarinya yang gak becus nih...heuheu) . Yah, mungkin ada yang bersedia
berbagi info? Saya akan senang sekali...

Terima kasih sebelumnya.

Salam perjalanan,
truly hitosoro



Recent Activity
        *  58
New Members
        *  2
New PhotosVisit Your Group 
Give Back
Yahoo! for Good
Get inspired
by a good cause.
Y! Toolbar
Get it Free!
easy 1-click access
to your groups.
Yahoo! Groups
Start a group
in 3 easy steps.
Connect with others.
. 




      Start chatting with friends on the all-new Yahoo! Pingbox today! It's 
easy to create your personal chat space on your blogs. 
http://sg.messenger.yahoo.com/pingbox

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke