Part 4 24 Desember: Luang Prabang - Orientasi 08.30 Giling dingin banget pagi hari ini! Karena kita berdua perokok, kita breakfast di meja luar ruangan hotel, sukses deh kena angin dingin. Dua telur dadar, satu sosis, kopi panas, dua baguette, buah potong segar langsung ambles ke perut. Hmmm ke mana hari ini yah?
Saya berniat cari tukang jahit untuk bikin rok dari kain sinh. Tanya sama resepsionis hotel, katanya ada tukang jahit di Phou Si market, gak jauh katanya. Yo wis, kita jalan kaki ke arah Phou Si market. Eh baru beberapa meter dari hotel, di dekat Jo Ma Café ada jalan kecil yang kelihatannya menarik, kita belok kanan untuk iseng2 lihat2 jalan ini. Ada beberapa guest house yang imut2, dan mata saya mendadak melihat seorang wanita sedang menjahit kain di toko mungil sebelah Philaylack Guest House. Yesss ketemu tukang jahit nih! Saya segera jelaskan kepada wanita muda penjahit ini, saya minta dibuatkan rok, tapi mesti jadinya cepat. Dengan bahasa isyarat akhirnya dia mengerti. Dia minta harga 90.000 kip untuk satu rok, lengkap dengan furing. Bisa di ambil nanti sore jam 6 katanya. Cihuy! Kita lanjut lagi jalan kaki ke arah sungai Mekong. Kota kecil Luang Prabang di apit oleh dua sungai, Nam Khan dan Mekong. Terus terang saya sering bingung mana sisi Nam Khan, mana sisi Mekong. Maklum, sense of direction saya parah banget, lha wong kadang2 sering nyasar begitu keluar toilet mall! Banyak hotel & guest house dengan arsitektur campuran Laos-Prancis, dinding tembok, lantai kayu, atap runcing2, di sepanjang sungai. Cantik sekali, unik etnik. Kita jalan kaki ke Dara Market, pasar modern yang kelihatannya baru jadi, masih sepi. Saya beli gelang perak seharga 65.000 kip di sini. Ada toko sinh, wine, elektronik, pompa air, makanan, dll. Jam 3 sore kita stop untuk makan petang. Kita pilih resto di pinggir sungai (Nam khan ato Mekong?), menu kali ini: fish laap (peduessss! Wuih!), sticky rice, fresh spring roll, mie kari, dan makanan unik Luang Prabang: rumput sungai menunya tertulis `sea weed'. Menurut Lonely Planet, tanaman hijau halus mirip rambut yang tumbuh subur di tepi sungai ini patut di coba. Rumput dipetik, dijemur sampai kering, terus di goreng dengan bumbu biji wijen dan cabai kering. Enak deh! Bentuknya sama dengan nori, hanya sedikit lebih tebal. Crunchy, asin dan pedas. Total biaya makan kita kali ini: 80.000 kip, termasuk 2 botol BeerLao. Balik ke hotel sebentar untuk bobo sore. Jam 6 saya berangkat ke tukang jahit untuk ngambil sinh. Eh saya dikenalkan oleh teman mbak penjahit dengan Mia, gadis Batak yang menikah dengan bule Australia dan sekarang menetap di Luang Prabang. Seru banget ngobrol sama Mia, rasanya sudah lamaaa sekali tidak berbahasa Indonesia Kita ngobrol sampai jam 8, ngalor ngidul sambil berdiri di tengah jalan dekat Night Market Akhirnya saya ingat si Patrick pasti sudah kelaparan nungguin saya di hotel, dengan berat hati saya berpisah dengan Mia sambil berjanji akan keep in touch di Facebook. Jemput Patrick di hotel dan kita makan malam di resto tanpa nama pinggir jalan, semangkuk pho panas yang gurih menghangatkan badan, hanya 10.000 kip semangkok besar lengkap dengan segunung sayuran segar. Sisa malam kita habiskan dengan nongkrong di balkoni hotel sambil melihat Night Market yang ramai dan meriah, sambil menenggak wine yang kita beli di Vientiane. Malam Natal lho gak ada suasana Natal di sini. Menurut Mia memang di Luang Prabang gak ada gereja, kalaupun ada pasti `underground' karena dilarang pemerintah. Kita jadi ingat malam Natal yang mulanya khidmat (misa di Christ Church) lalu berakhir meriah (street party!) di Melaka dua tahun lalu, sayang kita tidak bisa mengulangi suasana seperti itu di Luang Prabang. Merry Christmas zzzzzz . 25 Desember: Luang Prabang Royal Palace Museum & Phou Si Hill Hari ini bangun agak siang, hari terakhir di Luang Prabang. Brekkie jam 10, dan mulai jalan kaki jam 11.30. Kita menyusuri jalan Sissavangvong sampai ke ujungnya, berhenti sejenak untuk minum soda. Matahari panas menyengat! Langit biru sekali, kontras dengan cat putih bangunan2 tua di sepanjang jalan ini. Kita belok kiri di ujung jalan, dan lewat gang kecil tembus lagi ke jalan Sissavangvong. Kita menuju ke Royal Palace Museum (Hong Kham). Bangunan putih dengan atap runcing tinggi ini dulunya istana tempat tinggal King Sissavang Vong. Karcis masuk seharga 30.000 kip lumayan mahal Alas kaki harus dilepas, dan tas dititipkan, tidak boleh ada fotografi di dalam museum. Lantai kayu museum mengkilap coklat, ruangan demi ruangan kita telusuri. Kamar tidur Raja, Ratu dan keluarganya, koleksi buku2 & majalah tua, sinh Ratu yang berhias benang emas dan kostum lengkap penari Ramayana, hiasan kepalanya bagus banget... Selesai dari Museum, kita menyeberang jalan untuk ke bukit Phou Si. Karcis masuk 20.000 kip. Ada tulisan biru di anak tangga yang pertama: "190 steps up" dan "138 steps down". Haduh mudah2an gak tinggi2 tangganya pada dinding bukit, terlihat anak tangga dari semen yang lebar dan landai zig-zag sampai ke puncak. Piece of cake man Nafas ngos2an di puncak, paru2 berpolusi sih Pemandangan kota kecil Luang Prabang yang di kelilingi bukit hijau dan sungai keren abis! Ada kuil (wat) di puncak bukit, bagus di foto dengan latar belakang langit biru. Puas sesi foto2 narsis, kita turun dan bergegas balik ke hotel untuk mandi dan siap2 makan malam. Kali ini kita dinner di tepi Mekong, makan chicken laap, minum Lao-Lao (whisky lokal), sticky rice, keripik rumput sungai, cumi goreng, tumis sayuran, aduh kenyang banget deh Balik ke Night Market, belanja2 lagi sedikit, terus ke hotel untuk bobo 26 Desember: Luang Prabang Vang Vieng naik bus Sehari sebelumnya kita sudah booking bus untuk ke Vang Vieng lewat hotel. Harga tiket per orang sekitar 180.000 kip. Pagi hari jam 8 kita di jemput naik minivan dan di drop di stasiun bus dalam waktu 10 menit. Bus yang kita tumpangi bentuknya rada jadoel, lebih kecil sedikit dari Patas di Jakarta. Jam 9 pagi bus berangkat, penuh sesak oleh penumpang. Ada beberapa pemuda lokal yang tidak kebagian tempat duduk, mereka duduk di kursi plastik di koridor bus. Perjalanan Luang Prabang ke Vang Vieng makan waktu sekitar 6 jam, termasuk lunch break 1 jam. Harap diperhatikan, bagi mereka yang mudah mabuk laut/darat/udara, perjalanan bus ini melewati pegunungan yang berliku non-stop, jadi minum obat sebelumnya yah. Ada dua orang lokal yang muntah, turis2 asing sih nyantai aja. Di bus sudah di persiapkan banyak kantung plastik untuk mereka yang perutnya gak tahan di gojlok laju bus yang tiada henti mengitari gunung dan bukit. Pemandangan sepanjang jalan sangat indah, hijau di mana2, diselingi pemukiman rumah2 kayu sederhana penduduk lokal. Banyak yang sedang mengumpulkan bunga ungu halus alang2 yang mirip bulu ekor burung unta, entah mau dijadikan apa. Terlihat betapa miskin mereka, rumah gubuk di tebing bukit yang reyot dan rapuh, anak2 ingusan berbaju kotor berlarian di mana2. Makan siang kita kali ini di resto di tepi bukit, terlihat bukit karst menjulang tinggi di latar belakang. Jam 1 kita lanjut lagi, wangi minyak angin tercium di bus, banyak yang tidur pulas. Akhirnya kita tiba di terminal bus Vang Vien tepat jam 3 sore. Hanya 4 turis yang turun di kota ini termasuk kita, sisanya meneruskan perjalanan ke Vientiane. Kita naik tuktuk untuk masuk ke dalam kota, dalam hitungan menit kita sudah sampai di pusatnya. Karena kita go-show alias belum booking hotel, kita minta diturunkan di depan hotel Elephant Crossing. Hotel yang direkomen oleh Lonely Planet ini penuh, untungnya kita boleh menitipkan bagasi di resepsionis sementara kita jalan kaki mencari kamar. Tidak jauh dari hotel ini, ada hotel Ae Kham. Sekilas hotel ini mirip rumah tinggal, tingkat pertama ada toko souvenir dan sewa sepeda, tingkat ke dua kamar2 hotel. Bersih, putih dan baru. Pemilik hotel buka harga 260.00 kip semalam, saya tawar sampai akhirnya dapat 240.000 kip. Menurut sang pemilik, hotel ini baru buka 2 bulan. Pantesan bersih banget! Pas di sebelah hotel lagi ada yang bangun rumah, tapi gak terlalu mengganggu. Kamarnya sederhana, ada springbed, kulkas, kamar mandi dengan air panas. Sayang dari jendela kamar pemandangannya jalan raya, kamar yang menghadap sungai sudah penuh. Di hari yang sudah menjelang senja ini, dari kejauhan terlihat bukit karst yang memang menjadi daya tarik utama Vang Vieng. Patrick mendadak kena flu, jadi malam ini kita istirahat di kamar setelah dinner di resto sebelah hotel. Nasi goreng 20.000 kip (porsi raksasa!) dan falafel (40.000 kip) kita habiskan, terus saya beli snack `pancake', ini martabak terigu yang tipis dan renyah, bisa milih berbagai topping; madu, kacang, coklat (Hershey's!), selai kacang, strawberry, keju. Harganya 10.000 kip per porsi, hmmm enaknya di makan panas2. To be continued...
