Merasakan Keramahan Tim Medis Rumah Sakit Terapung


"DULU lihat di televisi, sekarang menikmati sendiri." Syarifah Nurhayati (38), warga asal Lhokseukon, Aceh Utara, mengungkapkan kekagumannya berkesempatan menginjakkan kaki di US Navy Ships (USNS) Mercy, kapal rumah sakit milik Angkatan Laut Amerika Serikat.

Bukan hanya itu, ia juga sempat bermalam berhari-hari di kapal yang lego jangkar di sekitar 60 mil dari batas pantai Banda Aceh itu. "Saya diberi kesempatan berkunjung ke sini, karena anak saya, Ainatul Ummah (5) dirawat di tempat ini," ia menambahkan.

Ainatul Ummah yang menderita tumor, menjalani operasi di kapal raksasa bercat putih. "Orang Amerika itu membawa kami ke sini dengan helikopter," kata Syarifah kepada Pembaruan yang berkunjung ke kapal itu, Jumat (11/3) lalu.

Sejak umur sembilan bulan, kata Syarifah, Ainatul Ummah menderita sakit perut. Menginjak usia 4 tahun, Syarifah mulai intens mengupayakan pengobatan anaknya itu ke berbagai tempat, namun anaknya tak juga kunjung sembuh. Satu hal yang ia sering dengar, anaknya hanya bisa diobati oleh dokter di luar negeri, dan itu hanya bisa terlaksana kalau ia punya banyak uang.

"Saya pernah melihat di televisi kapal ini melakukan kegiatan seperti yang dilakukan di NAD saat ini. Waktu itu kapal ini di Irak, ketika sedang terjadi Perang Teluk. Lalu ada seorang anak yang mengalami penyakit persis sama seperti yang dialami anak saya, berhasil diobati dokter bule itu. Ternyata, apa yang saya lihat dan dengar di televisi sekarang bisa saya nikmati," ujar Syarifah, yang duduk di samping pembaringan anaknya. Walau terpancar kegembiraan di wajahnya, ia tak mampu menyembunyikan rasa harunya. Air matanya yang mengembang, turun membasahi pipi.

"Sungguh besar kekuasaan Allah. Apa yang pernah saya lihat di televisi dulu, kini saya bisa menikmati. Senangnya lagi, putri saya kini sudah sembuh. Ia bisa menikmati hidup seperti anak-anak lain di Lhokseukon (Aceh Utara, Red)," katanya.

Syarifah dan anaknya diangkut dengan helikopter ke RS Mercy, Selasa (8/3). Ainatul menjalani operasi keesokan harinya. Setelah dioperasi, anaknya bersama belasan pasien lain ditempatkan di sal penyembuhan yang berukuran 10 X 10 meter. Di dalam sal itu bertugas sejumlah dokter spesialis berbagai penyakit, juga seseorang yang bertugas menghibur pasien. Masing-masing pasien diperbolehkan dijaga orangtua atau saudara dekat, hanya satu orang. Bukan hanya kenyamanan, semua pasien maupun penjaga pasien, juga merasakan keramahan awak kapal dan tim medis USNS Mercy.

Siap Melayani

Indah Purnama Sari (20), warga Banda Aceh, juga menjalani operasi pengangkatan tumor. Ia kini sudah dinyatakan sembuh.

"Badan terasa enak. Yang lebih mengasyikkan, begitu sadar setelah menjalani operasi, saya dihibur oleh orang berbadan tinggi, berwajah ganteng, yang ramah kepada semua pasien. Di kapal ini, semua siap melayani. Padahal, semua pasien yang dirawat tak dipungut biaya. Seumur hidup saya tak pernah merasakan kebaikan seorang tenaga medis seperti yang ditunjukkan dokter-dokter di tempat itu," Indah bercerita.

Beberapa lama menjalani pengobatan dan perawatan pascaoperasi di kapal itu, ia merasa sedih juga ketika Jumat lalu diperbolehkan meninggalkan USNS Mercy. Indah tersenyum sedih. Ia bakal kehilangan kebiasaan saling menyapa, selamat pagi, selamat siang, selamat malam, apa kabar, bagaimana keadaanmu, dalam bahasa Inggris, yang mulai fasih ia ucapkan. Beberapa hari di kapal itu membuatnya "ketularan" mampu sedikit-sedikit berbahasa Inggris.

Commanding Officer Medical Treatment Facility mengatakan, tugas utama yang diemban seluruh tim medis dan awak kapal itu adalah menyelamatkan nyawa manusia.

"Kami bertugas untuk misi kemanusiaan di NAD, membantu korban tsunami dalam bidang medis. Sama sekali kami tidak membedakan golongan, ras, suku dan apa pun namanya. Dua bulan setelah tsunami, memang cukup banyak warga NAD penderita penyakit tumor yang dioperasi di RS Mercy. Mereka bukan hanya dari Banda Aceh, tetapi juga daerah lain," katanya.

Ahli bedah di rumah sakit kapal itu, dokter Heauen, mengatakan, sejak berada di perairan Banda Aceh, 4 Februari lalu, ia bersama tim medis lain telah banyak mengoperasi warga yang menderita penyakit tumor. Walaupun umumnya bukan korban tsunami, tetapi tim medis tetap membantu.

"Memang awalnya kita memprioritaskan bantuan bagi korban tsunami. Mereka umumnya menderita sakit paru-paru, patah kaki, tangan, tulang rusuk, dan luka berat," katanya.

Pasien yang dirujuk ke kapal itu diangkut dengan helikopter. Setiap pasien disambut dengan cara yang lain dari yang lain. Begitu pasien tiba di kapal, para dokter berdiri menyambut pasien, memegang dan memeriksa satu per satu menggunakan berbagai alat canggih.

Meskipun tidak bisa berbahasa Indonesia, tetapi tim medis tetap mengajak bicara pasien, menatap mata, memberikan empati, berbicara dengan nurani, lalu seakan tahu apa yang diinginkan pasien. Pasien langsung merasa rileks.

Pasien yang dirawat di tempat itu, khususnya penderita penyakit tumor yang datang dari berbagai pelosok di Provinsi NAD. Umumnya mengaku sudah berobat ke mana-mana, bahkan telah menghabiskan waktu bertahun-tahun.

Kapal berbadan besar bertingkat delapan dengan ukuran panjang 300 meter itu, menurut komandan kapal Kapten Mark Llewellyn, tiba di Aceh pada 4 Februari lalu. Rumah sakit terapung itu mengakhiri misinya di NAD pada 16 Maret ini. "Tugas kami di sini selesai," ujarnya.

PEMBARUAN/MUHAMMAD HAMZAH



=================================
 (�`�._ http://acorbusie.multiply.com _.���)
=================================


Do you Yahoo!?
Yahoo! Small Business - Try our new resources site!

=================
http://indofirstaid.com/milis 
Pengiriman pesan ke milis bisa melalui [email protected]
http://indofirstaid.com/forum
Forum diskusi komunitas indofirstaid terbuka buat siapa saja
http://www.webterbaik.com/?komentar=90#isi
Beri Komentar buat situs indofirstaid.com sebagai webterbaik



Yahoo! Groups Sponsor
ADVERTISEMENT
click here


Yahoo! Groups Links

Kirim email ke