Info: Menolong korban Aconcagua - Mengapa tidak menggunakan helikopter ?Apr 18, 
'05 9:33 AM ET
for everyone
Didiek Samsu dan Norman Edwin, pendaki gunung Indonesia, mendapat musibah dan 
meninggal di Puncak Aconcagua. Sulit dan lama proses membawanya turun. Mengapa 
harus menggunakan kereta salju atau seekor bagal ? Mengapa tidak diangkat saja 
dengan helikopter ?

 

Dua pendaki Indonesia itu ditemukan meninggal di puncak Gunung Aconcagua, 
Argentina, Amerika Selatan, pada ketinggian dan waktu yang berbeda. Didiek 
Samsu ditemukan 23 Maret pada ketinggian 6.400 m dan Norman Edwin ditemukan 2 
April di ketinggian 6.600 m. Beda 200 m di ketinggian hampir 22.000 kaki. Pada 
ketingian 22.000 kaki itu, tebing dan lereng Aconcagua yang terjal sudah banyak 
diselimuti salju. Tebal salju mencapai 50-60 cm. Di tempat itulah dua pendaki 
Mapala UI yang sebelumnya dinyatakan hilang, ditemukan tewas oleh tim SAR 
Argentina, Patrulla Socorro.

 

Mencari hilangnya kedua pendaki Indonesia itu sebelumnya menjadi pokok 
persoalan. Patrulla Socorro berhasil menemukan korban, meskipun harus agak 
lama. Memang bukan mudah mencari di antara tebing dan jurang bersalju itu. Dan 
setelah itu persoalan baru timbul. Bagaimana membawa kedua jenazah itu turun?

 

Semula, banyak orang mengira bahwa untuk membawa turun jasad Didiek dan Norman, 
bukan soal lagi. Apalagi di zaman modern saat ini. Terbangkan helikopter ke 
sana, mendarat atau hovering di tempat kejadian, masukkan korban ke kabin dan 
terbang lagi ke bawah. Selesai. Itu perkiraan. Tetapi kenyataannya tidak 
semudah itu. Karena ternyata helikopter memiliki kemampuan terbatas dan tidak 
mampu terbang ke puncak Gunung Aconcagua. Ada dua sebab utamanya, kemampuan 
helikopternya dan kemampuan awak pesawatnya.

 

Mengapa sulit ?

Keadaan udara pada ketinggian 6.600 m atau hampir 22.000 kaki dihitung dari 
permukaan laut, entah itu di puncak gunung atau di awang-awang, bukanlah 
keadaan yang menguntungkan bagi manusia maupun helikopter. Manusia, siapa saja, 
akan terpengaruh. Pada ketinggian 22.000 kaki itu keadaan tekanan udara sudah 
menjadi kurang dari separo tekanan di permukaan laut, menjadi 335 mmHg. Kadar 
oksigennya sudah sangat tipis, persentasenya sangat kecil dibandingkan kadar 
oksigen di darat. Suhunya ? Sudah sangat dingin, 24,6 derajat Celcius di bawah 
nol, atau minus (-) 24,6 derajat. Tekanan parsiel gas oksigen tinggal 80 mmHg 
atau setengah tekanan oksigen di darat. Tekanan di permukaan laut 760 mmHg dan 
tekanan parsiel O2-nya 160 mmHg dengan berat udara 14,7 pon per square inch 
(PSI).

 

Pada keadaan itu, orang tidak akan tahan tanpa bantuan alat, seperti 
selimut/baju tebal atau masker oksigen untuk membantu pernafasan. Dan situasi 
udara setengah atmosfir ketinggian 18.000 – 20.000 kaki itu dijadikan standar 
untuk menguji penerbang maupun calon penerbang, karena situasi udara di tempat 
itu sama dengan setengah atmosfir. Tekanan parsiel gas oksigen tinggal 80 mmHg 
atau setengahnya tekanan oksigen didarat. Dalam ujian kemampuan calon penerbang 
di Lembaga Kesehatan Penerbangan dan Ruang Angkasa (Lakespra) ‘dr. 
Saryanto’, para calon dimasukkan ke dalam altitude chamber. Mereka duduk 
berderet dan diberi persoalan. Soal hitungan itu bentuknya sangat sederhana dan 
sangat mudah seperti 2+2, 3+2, 4+3 dan sejenisnya. Setelah mereka siap, 
kemudian ruang dibuat sama dengan kondisi pada ketingian 18.000 kaki. Semua 
calon mulai mengerjakan soal yang ada di tangannya. Tidak lebih dari 20 menit. 
Apa yang terjadi?

 

Pengaruh ketinggian mulai nampak. Sebagian besar mereka tidak mampu mengerjakan 
dengan benar soal hitungan kelas 1 SD permulaan itu. Malah ada yang linglung, 
dipanggil diam saja. Mereka sudah tidak mampu menguasai diri. Itulah 
tanda-tanda ia terkena hipoksia, kekurangan gas oksigen. Secepatnya petugas 
ruang (yang selalu mengenakan masker oksigen), membantu calon tersebut 
menggunakan masker oksigen yang tersedia didepannya, sebelum calon penerbang 
itu jatuh pingsan.

 

Keadaan seperti itu pun terjadi di puncak gunung, seperti Aconcagua yang 
tingginya lebih 18.000 kaki. Karena itulah maka pendaki gunung pun harus 
melakukan uji kemampuan dalam altitude chamber seperti para calon penerbang. 
Sama halnya dengan orang terbang di awang-awang terbuka, maka menuju ketinggian 
dengan cara mendaki gunung, akan terkena pengaruh ketinggian. Bedanya, bila 
dengan pesawat terbang, reaksi pengaruh berlangsung cepat karena pencapaian 
ketinggian dapat dilakukan dengan cepat. Bagi pendaki gunung, untuk mencapai 
ketinggian seperti Aconcagua itu ditempuh dalam beberapa hari, sehingga selama 
perjalanan, penyesuaian dengan keadaan lingkungan berlangsung.

 

Namun, apa pun cara mencapai ketinggian itu, daerah di ketinggian di atas 
18.000 kaki bukanlah tempat hidup manusia. Karena di sana atmosfir memiliki 
keadaan yang tidak lengkap, kurang dari separo keadaan di darat tempat habitat 
manusia. Rendahnya tekanan parsiel gas oksigen menyebabkan tekanan parsiel 
dalam paru-paru juga menjadi rendah, akibatnya orang akan kekurangan oksigen, 
hypoxia. Seseorang yang berada pada situasi yang tekanan parsiel gas O2-nya 
turun 25 persen saja, akan terkena pengaruh menurunnya kecerdasaan berfikir. 
Karena itulah, maka suatu penerjunan bebas yang tanpa menggunakan masker 
oksigen, hanya boleh dilakukan dari ketinggian terbang maksimum 10.000 kaki, 
batas toleransi manusia pada ketinggian.

 

Cepat lambatnya seseorang terpengaruh hipoksia, tergantung pada kondisi tubuh, 
umur, latihan, aktifitas tubuh, kepekaan seseorang serta pengalaman terhadap 
pengaruh hipoksia (lihat tabel).

 

Semakin tinggi, orang lebih cepat terkena pengaruh hipoksia. Pada ketinggian 
50.00 kaki atau 15.240 m dengan suhu (-) 56,5 derajat Celcius dan tekanan 
parsiel oksigen yang tinggal 20 mmHg, maka orang hanya bisa bertahan tidak 
lebih 10 detik saja.

 

Mengapa heli tidak bisa ?

Suatu proses pertolongan korban kecelakaan pesawat terbang di gunung yang 
tingginya 5.000 kaki, terkadang mengalami kesulitan. Bukan helikopternya yang 
tidak mampu, tetapi justru keadaan cuaca yang seringkali tidak mendukung. 
Helikopter terbang pada ketinggian 5.000 kaki masih bisa dilakukan. Tetapi 
terbang pada 22.000 kaki seperti di Gunung Aconcagua, adalah persoalan. 
Helikopter bisa terbang karena timbulnya gaya angkat pada baling-baling rotor 
yang berputar. Karena itulah maka helikopter disebut juga rotary wing. Dan 
untuk mampu mengangkat helikopter beserta isi kabinnya, diperlukan tenaga gaya 
angkat yang besar. Di daerah rendah, gaya angkat mudah terjadi, karena udara 
yang padat. Dengan gaya angkat yang besar itu, maka helikopter mampu malakukan 
hovering, melayang di tempat, untuk melakukan pertolongan beberapa menit. Untuk 
hovering diperlukan gaya angkat yang lebih besar dari pada gaya yang diperlukan 
untuk terbang biasa.

 

Di ketinggian 22.000 kaki, helikopter tidak akan mendapatkan gaya angkat yang 
diperlukan, karena renggangnya udara. Apalagi untuk hovering yang mesti 
dilakukan sebuah helikopter di saat akan take-off, waktu mendarat atau sedang 
menolong korban di daerah yang sulit. Karena tidak selalu bisa mendarat, maka 
digunakan cara hoist, menurunkan dan menaikkan penolong serta korban melalui 
kabel baja penarik yang dipasang di sisi kiri/kanan helikopter. Dengan cara ini 
mengharuskan helikopter melakukan hovering.

 

Masalah lain adalah awak pesawat dan tim penolongnya. Mereka tidak akan mampu 
berlama-lama di ketinggian 22.000 kaki tanpa bantuan oksigen. Mereka juga harus 
menjaga diri agar tidak hipoksia. Sulit memang. Itulah sebab mengapa helikopter 
tidak digunakan dalam pertolongan di Gunung Aconcagua. Tingginya tempat, 
kencangnya angin di puncak, sampai 240 km/jam dan badai salju, membahayakan 
siapa saja yang ada di sana termasuk helikopter. Karena itu, mereka memilih 
menggunakan kereta salju dan bagal. (soe)

Sumber: Angkasa no.9 Juni 1992 tahun II

Foto-foto: dok. Mapala UI




 


=================================
 (�`�._ http://acorbusie.multiply.com _.���)
=================================






------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
In low income neighborhoods, 84% do not own computers.
At Network for Good, help bridge the Digital Divide!
http://us.click.yahoo.com/V_qgJD/3MnJAA/xGEGAA/5HyolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Kirimkan pesan [email protected]
=======================================
http://indofirstaid.com/forum
Diskusi masalah first aid, rescue dan emergency care   
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/indofirstaid/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke