hallo semua...
menarik untuk di cermati mengenai masalah ini, apa yang dikatakan oleh mas 
agung dan lelita sari, adalah realita yang kita alami sekarang. ilmu 
kegawatdarutan berkembang dengna cepat dalam beberapa dekade ini.dan begitu 
banyak perubahan yang terjadi.kita di indonesia sangat terbatas dalam 
informasi, terutama buku buku kita udah tidak up to date lagi, ada baiknya 
seorang instruktur selalu mencari informasi terbaru dari buku buku luar atau 
internet, atau konsultasi dengan pakar pakar medis. dan kemudian menyesuaikan 
dengan kondisi dan keadaan disini. dan memang selancar apapun dia dalan teori, 
tapi pasti akan menemui hambatan juga dalam praktek jika dia kurang terjun 
langsung di lapangan. banyak hal di teori yang tidak sesuai atau sulit 
dilaksanakan di lapangan.
karena itu pengalaman untuk menangani korban secara langsung sangat penting. 
pengalaman dan skill, tidak bisa didapat dgn mudah karena butuh waktu yang 
lama. saya jadi teringat kata kata salah satu instruktur saya yang pernah 
berkata, " ujian praktek di manikin dapat 100. tapi waktu menangani pasien, 
pasien meninggal"
adalah suatu kewajiban buat kita untuk mengajari dan membagi pengetahuan yang 
kita miliki kepada orang lain, dan orang yang berkecimpung di dunia gawat 
darurat adalah sangat penting untuk selalu terlibat dalam penanganan korban 
secara langsung. termasuk peserta pelatihan ada baiknya bisa melibatkan diri 
dalam kegiatan seperti itu. sehingga mutu kita bisa bagus.
semoga para instruktur atau pelaksana pelatihan bukan hanya mementingkan segi 
komersilnya aja, tapi ada tanggung jawab dan rasa peduli untuk keberhasilan 
anak didiknya.
semoga gawat darurat indonesia bisa semakin maju.

salam 
roy
BSB Sulut/ RSUP Manado


Halo teman-teman,
apa yang disampaikan oleh Mas agung adalah sangat benar, karena saya sudah 
sejak tahun 1993 mengikuti perkembangan pelatihan-pelatihan P3K yang 
diselenggarakan disekolah, di pecinta alam, rata-rata pengetahuan dan 
ketrampilan yang disampaikan sudah out of date.
Kebanyakan lagi para anggota PMR dan KSR dilatih oleh pelatihnya bukan untuk 
menolong tapi untuk mengikuti dan memenangkan lomba. Hasilnya pada saat 
dihadapkan pada kasus yang sesungguhnya kebanyakan tidak percaya diri untuk 
melakukan tindakan pertolongan pertama.
banyak hal-hal yang salah kaprah diajarkan oleh para pelatih, misalanya 
menolong orang pingsan. Diajarkan harus dibawa ketempat teduh, pakaian yang 
mengikat dilonggarkan, diberi minum dan di beri wangi-wangian atau amoniak..
Pingsan adalah mekanisme alamiah tubuh untuk mengalirkan darah yang  terkumpul 
di tungkai untuk dialirkan kembali ke otak. Pertolongan pertama yang tepat 
adalah tinggikan tungkai dan kipasi, jangan dikerumuni. Melepas pakaian yang 
mengikat, secara logika orang pakai ikat pinggang kan nggak sampai kesesakan, 
pakai dasi juga nggak mencekik, pakai BH kan juga gak kenceng-kenceng. Jadi 
ngapain harus dibuka-buka ? Wangi-wangian hanya digunakan untuk mengetahui 
alias mengetes apakah orang tersebut sudah sadar atau belum, bukan untuk 
menyadarkan. Lha kalau orangnya koma mau dikasih wangi-wangian sebotol juga 
nggak akan sadar. Minum hanya boleh diberikan pada orang yang sadar penuh, 
karena dikhawatirkan pada orang yang setengah sadar minum akan masuk kesaluran 
pernapasan. Ini yang banyak terjadi pada kasus-kasus kecelakaan lalu lintas, 
terjadi KP3 (kecelakaan pada pertolongan pertama)
Banyak sekali hal-hal yang harus diluruskan, oleh karena itu pensosialisasian 
(?) yang baik sangatlah diperlukan.
Untuk para anggota pecinta alam, biasanya materi pertolongan pertama di dalam 
pendidikan dasar mereka hanya diberikan dalam hitungan sejam dua jam. Untuk 
sekedar pengetahuan it's oke, tapi untuk bisa sampai  melakukan tindakan 
pertolongan pertama dibutuhkan suatu latihan yang panjang dan rutin. Karena 
untuk bisa memutuskan tindakan apa yang harus dilakukan pada seseorang yang 
cedera apalagi di tempat yang terpencil (mis:gunung) dibutuhkan pengetahuan dan 
skill yang prima. 
Oke saya rasa itu tambahan dari saya..
Itu artinya kita harus lebih giat belajar dan berlatih dan menyebarluaskan 
pertolongan pertama ini di masyarakat.
salam
Lita

Agung Sarono <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Kawan-kawan:
Untuk masalah P3k atau PP atau PPGD sebenarnya hanyalah masalah istilah... Di 
masyarakat awam yang paling umum ya P3K, kalau anda bilang anda terlatih first 
aid atau PP atau PPGD, mereka akan mengerutkan dahi...
Yang penting adalah bagaimana sebenarnya hal itu dilakukan...
Selama ini pelatihan dari beberapa provider (khususnya yang menggunakan buku 
MFR sebagai acuan dasar) sering melatih peserta menangani kedaruratan dengan 
level sebagai first responder yang sebenarnya tidak tepat... Contoh, menangani 
orang dengan cedera kepala dan tulang belakang, sering mereka diajarkan 
mengangkat dengan menggunaka alat / tandu yang khusus (seperti spinal board) 
padahal alat tersebut tidak ada di masyarakat... dan mengangkat pada kasus 
cedera tulang belakang tidaklah wajib (istilahnya 'nice to know' bukan 'must 
know' atau 'should know')
Seorang first aider adalah orang yang dilatih untuk melakukan pertolongan 
pertama dengan menggunakan alat seadanya, kalau ada alat ya bagus, tetapi kalau 
tidak? Ya harus menggunakan apa saja yang ada! 
Nah inilah yang kadang masih belum dimengerti oleh para instruktur first aid, 
mereka menggunakan teknik medis untuk awam, akhirnya ya jaka sembung mbawa 
gitar... Nggak nyambung jreng!...
Untuk pertolongan pertama yang diajarkan di sekolah sebagai ekstrakurikuler 
sering sudah out of date! Contoh menangani gigitan binatang berbisa dengan 
mengikat torniket, padahal ini sudah tidak disarankan lagi! Jadi nampaknya para 
praktisi kedaruratan pra rumah sakit sudah saatnya menentukan tingkatan untuk 
awam (FA) dan awam terlatih (MFR); atau paramedis.
Ada yang mau nambahin?
AS

nurul muafidah <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Salam hormat,
Apa yang anda tanyakan sebenarnya bukanlah pertanyaan yang wajar. Apakah anda 
pernah mempelajari P3K di sekolah ? mungkin di SMU atau di SMP ? di SMU dan SMP 
terdapat ekstrakurikuler yg menekuni dan belajar mengenai P3K. tidak harus 
memiliki background medis seperti dokter atau perawat. dan tidak harus menempuh 
pendidikan sebagai dokter atau perawat. tapi pendidikan tersebut memang harus 
dipelajari dan memahami P3K.
Mungkin dengan mengikuti pendidikan di PMI pasti akan dipelajari P3K. tapi yang 
sering saya dapatkan di internet. selalu ada pelatihan mengenai P3K.
Perlu saudara ketahuai bahwa P3K sudah tidak digunakan lagi dalam pertolongan 
pertama. karena di dalamnya terdapat permasalahan dan kekurangan dalam materi 
maupun pelaksanaan di lapangan. sekarang telah direvisi dan diperbaiki menjadi 
Pertolongan Pertama (PP). Saudara dapat browsing di websit e Palang Merah 
Indonesia.
Apalagi sekarang banyak sekali pelatihan yang pesertanya memiliki latar 
belakang pendidikan medis.
terima kasih
lelita sari <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Sejawat yang terhormat,
untuk pertolongan pertama sebaiknya tetap dilakukan pelatihan. Karena P3K 
adalah ketrampilan yang sulit jika dipelajari hanya melalui membaca atau 
melihat filmnya. Kecuali anda memiliki basic atau latar belakang medis tentu 
tidak akan terlalu sulit mengaplikasikan apa yang anda baca atau lihat dalam 
tindakan nyata.
Pelatihan bisa dilakukan dengan bekerja sama dengan instansi lain yang memang 
memiliki kualifikasi untuk melakukan pelatihan pertolongan pertama.
Jika anda berminat saya bisa membantu.
Terima kasih
Salam
Lelita

Þµjåñggåmåñî$ <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Kepada rekan rekan....

Baru baru ini saya membentuk tim kesiapsiagaan dan tanggap darurat 
untuk perusahaan saya bekerja,dalam hal tanggap kebakaran...saya 
b erbagi cara penanggulangan kebakaran dllnya namu untuk hal P3K dan 
penanganan kondisi darurat huruhara saya kurang mengereti....
mohon pencerahan dimana saya dapatkan tip tip atau informasi melakukan 
P3K dan penanganan darurat huru hara tanpa harus ikut pelatihan ( 
mungkin dalam bentuk gambar seperti komik atau lainnya )

terima kasih.








25 Juni 2005: 2 Tahun IndoFirstAid.com
=======================================
Donaatur IndoFirstAid
Bank BNI cab UGM Yogya 0038436942 A/n. Yudhistira O. 
Kirimkan pesan melalui [email protected] 


NB:
Alamat Homepage:
http://go.to/roy-t
http://hear.at/roy-t
http://hear.at/roy
%0


-- 
_______________________________________________
NEW! Lycos Dating Search. The only place to search multiple dating sites at 
once.
http://datingsearch.lycos.com





25 Juni 2005: 2 Tahun IndoFirstAid.com
=======================================
Donaatur IndoFirstAid
Bank BNI cab UGM Yogya 0038436942 A/n. Yudhistira O. 
Kirimkan pesan melalui [email protected] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/indofirstaid/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke