Jatuh Jatuh merupakan mekanisme cedera yang paling umum. Keparahan trauma tergantung pada jarak, permukaan, serta bagian tubuh yang terkena pertama kali. Jatuh dengan kaki sebagai tumpuan Jatuh dengan kaki sebagai tumpuan menyebabkan energi bergerak naik searah sistem skeletal. Fraktur di tumit atau dislokasi merupakan hal yang umum terjadi. Jika lutut ditekuk pada saat terjadi tumbukan, maka sebagian besar energi terhenti dan memungkinkan terjadinya cedera di sekitar lutut. Jika lutut tetap lurus saat tumbukan, maka energi akan terus bergerak melalui tulang paha hingga ke pinggul atau pelvis sehingga memungkinkan terjadinya cedera di daerah tersebut. Jika energi cukup kuat, tulang punggung akan menyerap energi pada setiap lengkung lumbal, mid-thorakal dan servikal. Orang yang jatuh dari ketinggian sekitar tiga kali dari tinggi tubuhnya atau lebih akan menderita cedera spinal akibat pergerakan energi tersebut. Bila jatuh dari ketinggian lebih dari 20 kaki, maka organ dalam sering mengalami cedera akibat adanya deselerasi seperti hati, limpa, ginjal dan jantung. Menahan jatuhnya badan dengan tangan saat jatuh ke arah depan merupakan hal yang alami. Energi terhenti pertama di bagian pergelangan tangan, yang sering menyebabkan patah tulang di daerah tersebut yang sering disebut fraktur Colles. Sedangkan sendi siku dan bahu merupakan bagian lain yang memiliki potensi besar terjadinya cedera. Jika tubuh terlempar ke belakang, maka cedera umum terjadi di kepala, punggung dan pelvis. Jatuh dengan kepala sebagai tumpuan Cedera akibat jatuh dengan pola ini dimulai dengan tangan yang berusaha menahan dengan melebar hingga ke bahu. Kepala akan terdongakkan atau tertekuk atau bahkan tertekan yang akan menyebabkan kerusakan yang luas di servikal. Karena tubuh terus bergerak ke bawah, tubuh serta tungkai akan terlempar ke depan atau belakang. Cedera pada dada, tulang punggung bagian bawah serta pelvis juga sering terjadi. Cedera Tembus Cedera tembus disebabkan oleh obyek yang dapat menembus permukaan tubuh seperti peluru, paku atau pisau. Jumlah kerusakan yang terjadi tergantung pada besarnya energi kinetis yang disalurkan ke jaringan dan bagian tubuh yang terkena. Dari kedua faktor ini, besarnya energi kinetic disalurkan ke jaringan merupakan indicator terbaik untuk mengkaji kerusakan potensial yang terjadi. Contoh, luka tembus akibat tembakan peluru senapan akan menimbulkan kerusakan yang lebih parah daripada tusukan pisau bila terjadi pada daerah yang sama. Cedera tembus dikelompokkan menjadi cedera velositas rendah, velositas medium dan velositas tinggi. Cedera Tembus Velositas Rendah Suatu pisau atau benda tajam yang lain menyebabkan kerusakan langsung di daerah tusukan dan struktur di bawahnya. Panjang obyek penusuk juga berperan dalam keparahan cedera yang terjadi. Cedera yang terjadi hanya pada struktur yang dilewati secara langsung oleh obyek penembus. Cedera Tembus Velositas Medium dan Tinggi Proyektil dengan velositas medium dan tinggi biasanya berupa peluru atau pecahan misil. Senapan penabur (shotgun) dan senjata genggam (pistol) merupakan senjata yang melontarkan proyektil dengan velositas medium. Sedangkan senjata serbu militer merupakan tipe senjata yang melontarkan proyektil dengan velositas tinggi. Kerusakan yang diakibatkan oleh proyektil velositas medium dan tinggi tergantung pada dua faktor: trajektori dan disipasi energi. Trajektori adalah arah dan alur gerak peluru. Normalnya, suatu peluru saat ditembakkan akan mengikuti suatu lengkung arah atau jalur tertentu. Namun, semakin cepat peluru melesat maka semakin lurus arah dan jalur peluru tersebut. Disipasi energi adalah bagaimana energi kinetis peluru yang disalurkan ke tubuh dari suatu kekuatan yang menahannya. Pada kasus proyektil velositas medium dan tinggi, disipasi energi dipengaruhi oleh Drag (hambatan), Profile (profil) dan Cavitation (kavitasi). Drag Faktor-faktor yang memperlambat suatu peluru, termasuk tahanan angin, hambatan oleh jaringan, dll. Profile Titik tumbuk peluru merupakan profil dari peluru tersebut. Semakin besar ukuran titik tumbuk semakin besar energi yang disalurkan. Cavitation Sering disebut sebagi perluasan alur masuk peluru. Merupakan lubang di jaringan tubuh yang dihasilkan oleh energi kinetis peluru. Lubang ini lebih besar daripada lubang masuk peluru. Karenanya, luka yang dihasilkan lebih besar dari diameter peluru tersebut. Kadang kala, karena energi kinetis peluru sedemikian besar, peluru dapat menembus jaringan di sebaliknya. Oleh karena itu selalu kaji adanya lubang keluar peluru (exit wound). Luka Tembak Masuk Dari sekian banyak fatalitas luka tembak akibat senjata api, sebagian besar terjadi di tubuh, disusul di kepala dan hanya sebagian kecil di bawah pinggang. Kepala Ketika energi proyektil memasuki tengkorak dan mulai mengalami disipasi, jaringan otak secara alamiah akan tertekan secara berat (ingat kepala adalah ruang tertutup yang dibatasi jaringan tulang tengkorak yang kuat). Bila peluru mengenai wajah maka jalan napas akan rusak atau hancur tergantung pada velositas peluru. Dada Jaringan paru relative tahan terhadap kavitasi proyektil. Alveoli membentuk massa berongga yang mudah bergerak. Sedangkan jantung tidak tahan terhadap kavitasi sebagaimana jantung. Namun lapisan terluar yang meliputi pembuluh pulmoner, aorta dan jantung merupakan jaringan yang kuat dan elastic. Jaringan ini mungkin mampu menutupi luka akibat luka tembus velositas rendah, namun tidak mampu mengatasi kavitasi akibat luka tembus velositas medium dan tinggi. Bila terjadi cedera di antara garis putting dada dan pinggang, maka selalu curigai kemungkinan adanya cedera abdominal juga. Abdomen Abdomen sering mengalami cedera sekunder saat dada mengalami cedera. Ruang abdominal merupakan ruang yang besar yang berisi jaringan yang berisi cairan, udara, jaraing padat dan jaringan tulang. Jaringan yang berisi udara dan cairan lebih tahan terhadap kavitasi daripada jaraingan padat. Ekstremitas Ekstremitas terdiri dari tulang, otot, pembuluh darah dan jaringan saraf. Luka tembak sering menyebabkan tulang pecah dan pecahan ini dapat mengakibatkan luka sekunder. Pecahan ini dapat bersifat seperti misil atau proyektil yang merusak jaringan lain di sekitarnya. Akibatnya jaringan di sekitar akan rusak sehingga fungsi sensorik, motorik dan bahkan aliran sirkulasi akan terhambat atau bahkan hancur. Cedera akibat ledakan (Blast Injuries) Gambar 015 Mekanisme cedera akibat ledakan Cedera dapat diakibatkan oleh ledakan berbagai zat termasuk gas alam, bahan bakar, petasan atau mesiu. Apapun penyebabnya, cedera ini memiliki tiga jenis cedera yaitu: Cedera Fase Primer; merupakan cedera yang terjadi akibat gelombang kejut yang dihasilkan oleh energi proses ledakan. Cedera yang paling umum terjadi di organ-organ yang berisi udara, termasuk paru-paru, perut, dan telinga bagian dalam. Selain itu gelombang kejut yang terjadi juga mempengaruhi bagian otak di dalam rongga kepala. Cedera fase primer merupakan cedera yang paling berat, meskipun sering tidak menunjukkan adanya tanda-tanda eksternal yang jelas. Cedera Fase Sekunder; cedera sering diakibatkan oleh benda-benda yang terlempar oleh gelombang kejut energi ledakan. Cedera fase ini, menunjukkan berbagai tanda yang lebih nyata seperti laserasi (robek), patah tulang dan luka bakar Cedera Fase Tersier; Terjadi akibat pasien terlembar menjauh dari sumber ledakan. Cedera yang terjadi polanya mirip dengan korban yang terlempar dari sebuah kendaraan. Tingkat keparahan yang terjadi tergantung pada jarak lemparan dan titik tumbuk di tubuh korban,. Dari ketiga jenis cedera yang terjadi, cedera fase primer sering mengakibatkan kematian karena cedera yang terjadi tidak terdeteksi pada saat pemeriksaan awal. The Golden Hour Golden Hour telah ditetapkan menjadi parameter standar untuk pelayanan gawat darurat. Berbagai kajian ilmiah menunjukkan bahwa pasien dengan cedera yang sangat parah akan memiliki kesempatan untuk bertahan hidup yang lebih besar bila mendapatkan tindakan pembedahan definitive dalam waktu 1 jam sejak mengalami cedera. Namun, berbagai layanan gawat darurat juga memiliki prinsip platinum 10 menit yang diartikan bahwa tim tanggap darurat harus mampu mengatasi masalah-masalah yang mengancam nyawa pada korban dalam waktu 10 menit, sebelum korban siap untuk ditransportasi. Namun, itu semua kembali terpulang kepada kemampuan paramedic dalam mengkaji dan menganalisa kondisi korban secara menyeluruh. Pengkajian yang mempertimbangkan mekanisme cedera akan sangat membantu tim tanggap darurat medis melakukan tindakan medis selanjutnya.
(Anytime anywhere We are ready to help) Click: http://asarono.tripod.com ____________________________________________________ Yahoo! Sports Rekindle the Rivalries. Sign up for Fantasy Football http://football.fantasysports.yahoo.com 25 Juni 2005: 2 Tahun IndoFirstAid.com ======================================= Donatur IndoFirstAid melalui Bank BNI cab UGM Yogya 0038436942 A/n. Yudhistira O. Kirimkan pesan melalui [email protected] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/indofirstaid/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

