Harga Obat Naik 15 sampai 20 Persen
Link
Pembelian Obat Untuk Puskesmas Rp 1,7 M Lolos
LAMONGAN - Kenaikan harga BBM juga berimbas pada kenaikan harga obat-obatan. Di Lamongan harga obat-obatan naik antara 15 sampai 20 persen pasca kenaikan harga BBM. "Kenaikan harga obat antara 15 sampai 20 persen," kata pemilik Apotik Mojopahit Lamongan, M Saifudin kepada Radar Bojonegoro, kemarin.
Menurut dia, kenaikan harga obat bersamaan dengan kenaikan harga barang lainnya, sebagai dampak kenaikan harga BBM tersebut, dikhawatirkan akan mengurangi kemampuan daya beli masyarakat terhadap obat-obatan. "Kalau barang lain mungkin bisa ditunda pembeliannya, tetapi kalau obat-obatan sifatnya harus dibeli saat itu juga karena menyangkut sakit seseorang. Kalau kemampuan daya beli masyarakat menurun, atau mereka menunda membeli obat karena ketidakmampuannya, tentu dampaknya akan besar," paparnya.
Terkait kenaikan harga obat tersebut, menurut Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Lamongan itu, para dokter ikut mengalami dilematis untuk menentukan taripnya. "Akhirnya banyak kalangan dokter yang memilih tidak menaikkan taripnya agar tidak terlalu membebani masyarakat," paparnya.
Sementara itu, menurut Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Lamongan, Moch Sochieb, kenaikan harga obat tersebut tidak sampai berdampak pada pembelian obat untuk keperluan puskesmas dan instalasi kesehatan yang berada di bawah Dinkes. Sebab pembelian obat tersebut telah dilakukan sebelum kenaikan harga tersebut. "Ada anggaran sekitar Rp 1,7 miliar untuk pembelian obat bagi puskesmas dan instalasi kesehatan milik pemkab lainnya. Namun pembelian itu sudah dilakukan sejak awal September lalu ketika harga obat belum naik, sehingga kami tidak perlu melakukan penambahan anggaran," paparan.(feb)
Link
Pembelian Obat Untuk Puskesmas Rp 1,7 M Lolos
LAMONGAN - Kenaikan harga BBM juga berimbas pada kenaikan harga obat-obatan. Di Lamongan harga obat-obatan naik antara 15 sampai 20 persen pasca kenaikan harga BBM. "Kenaikan harga obat antara 15 sampai 20 persen," kata pemilik Apotik Mojopahit Lamongan, M Saifudin kepada Radar Bojonegoro, kemarin.
Menurut dia, kenaikan harga obat bersamaan dengan kenaikan harga barang lainnya, sebagai dampak kenaikan harga BBM tersebut, dikhawatirkan akan mengurangi kemampuan daya beli masyarakat terhadap obat-obatan. "Kalau barang lain mungkin bisa ditunda pembeliannya, tetapi kalau obat-obatan sifatnya harus dibeli saat itu juga karena menyangkut sakit seseorang. Kalau kemampuan daya beli masyarakat menurun, atau mereka menunda membeli obat karena ketidakmampuannya, tentu dampaknya akan besar," paparnya.
Terkait kenaikan harga obat tersebut, menurut Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Lamongan itu, para dokter ikut mengalami dilematis untuk menentukan taripnya. "Akhirnya banyak kalangan dokter yang memilih tidak menaikkan taripnya agar tidak terlalu membebani masyarakat," paparnya.
Sementara itu, menurut Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Lamongan, Moch Sochieb, kenaikan harga obat tersebut tidak sampai berdampak pada pembelian obat untuk keperluan puskesmas dan instalasi kesehatan yang berada di bawah Dinkes. Sebab pembelian obat tersebut telah dilakukan sebelum kenaikan harga tersebut. "Ada anggaran sekitar Rp 1,7 miliar untuk pembelian obat bagi puskesmas dan instalasi kesehatan milik pemkab lainnya. Namun pembelian itu sudah dilakukan sejak awal September lalu ketika harga obat belum naik, sehingga kami tidak perlu melakukan penambahan anggaran," paparan.(feb)
Yahoo! Music Unlimited - Access over 1 million songs. Try it free.
25 Juni 2005: 2 Tahun IndoFirstAid.com
=======================================
Donatur IndoFirstAid melalui
Bank BNI cab UGM Yogya 0038436942 A/n. Yudhistira O.
Kirimkan pesan melalui [email protected]
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "indofirstaid" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.

