Salam First Aid..
 
Saya setuju nih dengan Mas Yudhis.. malah, saya udah sempat nulis ulang, sharing pengalaman yang saya janjikan dulu itu (yang sempat hilang karena hard-disk saya 'gugur dalam perjuangan'..).
 
Dalam sharing saya, ada 'tips' untuk membuat sendiri air steril yang bisa dipakai untuk mencuci mata dan membasuh luka ringan, dan ada beberapa 'tips' lain yang mungkin bisa jadi masukan untuk membuat kotak P3K sendiri..
 
Semoga bermanfaat..
 
----------------------------------
 
Saat saya bekerja sebagai Petugas P3K di asrama kampus, keterbatasan sertifikat saya menyebabkan saya harus bisa menolong korban dengan peralatan dan fasilitas yang sangat mendasar. Seperti yang saya jelaskan di email sebelumnya, kami tidak diperbolehkan memberikan obat pada korban/’pasien’ (Secara formal memang saya tidak boleh menggunakan istilah PASIEN karena saya bukan staff medis. Saya -dan teman2 satu tim dulu- hanya sering menggunakan kata ‘pasien’ untuk mengganti kata ‘korban’ karena kata ‘korban’/’casualty’ kok rasanya seram begitu..).
 
Di asrama, kasus first aid yang paling sering terjadi adalah serangan asma (urutan ketiga), luka kecil saat masak di dapur atau kegiatan/bergurau dengan teman2 di asrama (urutan kedua) dan konsumsi miras yang kurang bertanggung jawab (urutan pertama). Kasus miras ini terutama terjadi pada mahasiswa tingkat 1 yang baru pertama kali tinggal jauh dari rumah dan orang tua.
 
Untuk kasus2 asma, kami tidak boleh memberikan obat kecuali kalau si pasien dalam keadaan mampu untuk memberikan informasi pada kami, dimana obat mereka disimpan dan apakah memang sudah waktunya mereka mengkonsumsi obat tersebut (termasuk spray). Kalau tidak maka yang boleh kami lakukan hanyalah membantu mereka berkonsentrasi dan menenangkan diri agar mereka bisa mulai bernafas dengan teratur lagi.
 
Dalam kasus2 ringan, kami biasa membantu pasien mengatur pernafasan dengan bantuan kantong kertas (seperti kantong muntah pesawat/kantong take-away McDonalds gitu), tujuannya hanya supaya konsentrasi pasien sepenuhnya terarah pada mengatur nafas dan melupakan sejenak pikiran2 lain yang mengganggu kestabilan nafasnya.
 
Dalam kasus2 serangan asma yang cukup berat, kami boleh ‘memandikan’ pasien dengan air hangat/beruap untuk melonggarkan pernafasannya (tentu saja syaratnya, si pasien dan si officer harus sama jenis kelaminnya).
 
Untuk kasus2 luka ringan, kami juga tidak boleh menggunakan betadine langsung ke atas luka atau memakaikan band aid yang sudah ada betadine-nya (karena, betadine adalah obat). Yang boleh kami lakukan adalah, mencuci luka dengan air steril. Air steril ini ada yang dijual dalam tabung2 plastik kecil (paling kecil 30ml). Tapi, pada umumnya, air steril tabung ini hanya kami gunakan untuk persediaan di kotak P3K kalau kami harus bertugas di luar lingkungan asrama (seperti waktu kegiatan olah raga, dll.), sementara di dalam asrama sendiri, kami membuat sendiri air steril untuk persediaan di ruang P3K.
 
Membuat air steril ini sebenarnya sangat mudah dan semua orang bisa membuatnya. Air disaring dari endapan kemudian direbus hingga mendidih. Setelah mendidih, air didinginkan dalam tempat tertutup. Saat air sudah dingin, air tersebut bisa disebut air steril dan dapat dipergunakan untuk membasuh/mencuci luka ringan. Air steril ini juga dapat digunakan untuk mengairi mata dalam kasus kelilipan, kemasukan asap atau serangga, dan untuk membersihkan luka bakar minor (keselomot).
 
Sedikit tambahan tentang mata, kami sudah tidak lagi mempraktekkan mencuci mata dengan wadah, melainkan mengairi mata dengan air yang mengalir (kalau bisa air steril yang cukup banyak). Caranya, mata dialiri air dari sisi yang dekat hidung, ke arah sisi yang dekat telinga, saat kepala dimiringkan ke arah mata yang dialiri air.
 
Pada saat air steril tidak tersedia, yang boleh kami lakukan pada saat itu adalah, mencampurkan 1 mangkok steril (kidney bowl) air keran (kalau di Australia, air keran sudah bebas bakteri dan siap minum), dengan dettol sebanyak 1 tutup botol. Larutan dettol ini hanya boleh digunakan untuk luka ringan, bukan untuk mata atau luka bakar ringan.
 
Saya kurang tau dengan perkembangan P3K di tanah air saat ini tapi, pada saat saya menjalani latihan di Pramuka dan PMR dulu, saya tidak pernah dibiasakan untuk menggunakan sarung tangan medis. Sementara, sewaktu di Australia, seseorang yang memiliki sertifikat First Aid atau bekerja sebagai petugas First Aid, biasanya akan selalu membawa minimal 2 pasang sarung tangan medis yang masih steril di saku/tas mereka dan 1 buah EAR (Expired Air Resuscitation) mask yang sekali pakai-buang.
 
Kami harus selalu membawa sarung tangan medis kemanapun juga, karena kami harus mengenakan sarung tangan pada saat menolong pasien. Awalnya, perlu ‘pembiasaan’ juga saat menggunting perban dan memakaikannya untuk menempelkan kain kassa di atas luka, tapi akhirnya terbiasa juga..
 
Fungsi lain dari sarung tangan medis itu adalah, untuk ‘tempat sampah’ pertama, dari semua sisa2 peralatan yang dipakai untuk merawat luka pasien (kapas untuk mencuci luka, kain kassa untuk membersihkan luka, bungkus band aid, dll., yang biasanya ada darah pasien, dan pasangan si sarung tangan tersebut). Kemudian, si sarung tangan yang dijadikan tempat sampah itu harus diikat (seperti mengikat balon yang diisi angin), dan dibuang ke tempat sampah MEDIS.
 
Sampah2 medis yang terkumpul secara berkala dibawa ke tempat2 yang ditentukan, di antaranya, Rumah Sakit terdekat, yang biasanya sudah punya tempat tertentu untuk ‘memproses’ sisa2 sampah medis demi keamanan lingkungan.
 
Nah, kalau untuk kasus konsumsi miras yang kurang bertanggung jawab, kami memang tidak terlalu ber-‘baik hati’, terutama kalau kasus itu bukan yang pertama kali untuk seseorang tertentu (prosedur tetap kami jalani, tapi pasti ada laporan lengkap yang biasanya akan ditanggapi kepala asrama dengan mengeluarkan surat peringatan).
 
Kalau si pasien masih dalam keadaan cukup baik, maka kami hanya akan mengirim mahasiswa tersebut ke kamarnya dan meletakkan tempat sampah di samping tempat tidurnya (daripada dia diomel ‘cleaner’ besok paginya). Kami wajib mengecek kondisi pasien (denyut nadi, pernafasan dan warna kulit, kalau diperlukan), setiap 20 menit.
 
Kalau si pasien mulai meracau karena ‘agak’ tidak sadarkan diri dan mulai ‘mengotori’ area lantai asrama (seringkali mereka muntah dan mimisan), kami boleh membersihkan pakaian mereka dan sekaligus untuk sedikit ‘menyadarkan’ mereka, dengan cara mengguyur mereka dengan air dingin, lalu membantu mereka berganti pakaian (syaratnya lagi2, si pasien dan si petugas P3K harus sama jenis kelaminnya).
 
Dalam kasus2 darurat dimana petugas P3K yang bertugas kebetulan berlainan jenis kelamin dengan pasien, maka harus diusahakan agar ada saksi yang hubungannya cukup dekat dengan pasien yang jenis kelaminnya sama dengan si pasien (tetangga kamar/sahabat, tapi BUKAN pacar, kecuali kalo daruraaaattt banget, gak ada orang lain lagi dan mereka pacaran udah lebih dari 6 bulan!). Kalau semua itu tidak bisa terpenuhi, maka, dengan seberat hati apapun, terpaksa kami harus membangunkan kepala asrama atau wakil kepala asrama untuk jadi saksi (Ini terjadi 1 kali selama saya bekerja. Saya dan supervisor saya yang bertugas sama2 perempuan, sementara si pasien yang mabuk itu laki2. Jadi, kami memanggil wakil kepala asrama untuk jadi saksi kami). Perlu saya tambahkan bahwa kebijakan tentang ‘jenis kelamin’ ini memang bukan peraturan dari St. John Ambulance atau pemerintah Australia. Kebijakan ini datangnya dari pihak universitas dan dewan asrama untuk menjaga kepentingan mahasiswa/penghuni asrama.
 
Saya sempat menyebut EAR mask sekali pakai-buang di atas tadi. Sekedar info, saya memang belum pernah melihat di apotik2 di tanah air, tapi, mungkin rumah sakit2 di tanah air sudah ada yang punya. St. John Australia juga menerima pesanan, tapi saya tidak tau apakah mereka melayani pesanan dari luar negri. Topeng pernafasan ini hanya merupakan selembar plastik (cukup lebar untuk menutup seluruh bagian mulut) dengan lubang di bagian tengah plastik yang dilengkapi dengan semacam alat tiup (agak mirip seperti untuk bola plastik atau pelampung renang anak2). Topeng ini dijual dalam bentuk sachet yang hanya sedikit lebih lebar dari tissue basahnya KFC, tapi kurang-lebih sama tipisnya (jadi, bisa masuk ke dalam saku baju/celana dengan sangat mudah).
 
Menggunakan topeng ini memang tidak terlalu nyaman (terutama kalau belum pernah mencoba sama sekali), karena plastiknya cenderung menempel di wajah, dan si petugas P3K harus hati2 jangan sampai hidung pasien tertutup plastik topeng. Tapi, setelah kita terbiasa menggunakannya, membawa2  topeng yang tipis dan ringan ini jauh lebih mudah ketimbang topeng plastik yang model lama (yang sebesar kepalan tangan dan kaku itu).
 
Segini dulu yaa, rekan2, supaya gak pada bosan membacanya.
 
Terima kasih
 
-indri-
 
yudhis97 <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Kalau saya boorwater jangan dipakai karena sudah tidak dibenarkan
lagi untuk mencuci luka atau mata (ataupun sebagai zat pengawet dalam
makanan), karena kandungan borax (kalau nggak salah mengandung
borium) yang toksis terhadap saraf apalagi di mata. Cuma
referensinya lupa jika ada yang tahu mohon ditambah ya...
Untuk kompres luka biasanya larutan permangan atau rivanol (ini
lebih mudah dicari).
Untuk kompres atau menguyur mata sekarang banyak tetes mata yang
tipe "moise" (biasanya buat lelah mata kalau didepan komputer) atau
make tetes mata biasa saja.


--- In [email protected], "james.harwitz"
<[EMAIL PROTECTED]>wrote:
>
> Dear Bro,
>
> Sekedar info f/ sharing isi First Aid box:
> 1. Betadine liquid (i btl)
> 2. Kasa roll (4)
> 3. Elastic bandage 4,5 inch (2)
> 4. Mitella (2)
> 5. Gauze box (1)
> 6. Boorwater (1)
> 7. Eye wash cup (1)
> 8. Obat analgesik (10 tab)
>
> Untuk harganya tergantung lokasi di mana membelinya.
> Sebagai perkiraan, untuk di jakarta semua barang di atas kira-2 150-
> 175 ribuan.
> Semoga bermanfat.
>
> Rgds,
> James
>
> --- In [email protected], "deman_putra"
<[EMAIL PROTECTED]>
> wrote:
> >
> > Dear all..
> >
> > Saya ingin membuat kotak P3K sendiri. Isinya kira-kira : obat dan
> > peralatan utk menghentikan pendarahan, patah tulang, benturan
> dll...
> > Nanti saya beli sendiri di Apotek .. Juga perkiraan harganya.
> >
> > Mungkin rekan-rekan ada yang bisa sharing ...
> >
> > tks
> > deman
> >
>








------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Ever feel sad or cry for no reason at all? Depression. Narrated by Kate Hudson.
http://us.click.yahoo.com/Qn4NpD/ubOLAA/xGEGAA/5HyolB/TM
--------------------------------------------------------------------~->

---------------------------------------------------
Kirimkan pesan melalui [email protected]
Forum Diskusi http://forum.indofirstaid.com
Lowongan Kerja http://loker.indofirstaid.com
Pasang Iklan http://iklan.indofirstaid.com
Iklan Baris http://iklanbaris.indofirstaid.com

Bantu kami menjalankan IndoFirstAid.com melalui
Bank BNI Cab UGM Yogya 0038436942 A/n. Yudhistira O.
Bank BCA KCP Mangkubumi 1260440850 A/n. Yudhistira O.
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/indofirstaid/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/




__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com

---------------------------------------------------
Kirimkan pesan melalui [email protected]
Forum Diskusi http://forum.indofirstaid.com
Lowongan Kerja http://loker.indofirstaid.com
Pasang Iklan  http://iklan.indofirstaid.com
Iklan Baris http://iklanbaris.indofirstaid.com

Bantu kami menjalankan IndoFirstAid.com melalui
Bank BNI Cab UGM Yogya 0038436942 A/n. Yudhistira O.
Bank BCA KCP Mangkubumi 1260440850 A/n. Yudhistira O.




YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke