LEBIH 25 PERSEN HUTAN PAPUA TELAH DIBAGI-BAGI KE PERUSAHAAN HPH
Jakarta, (ANTARA News) - Lebih dari 25 persen hutan alam yang ada di Papua telah dibagi-bagikan sebagai konsesi Hak Pengusahaan Hutan (HPH) kepada perusahaan-perusahaan penebangan yang mengekspor produk kayu ke Jepang, AS, Uni Eropa dan Cina, kata Greenpeace Asia Tengggara. "Perusahaan tersebut telah menggunduli banyak hutan-hutan di Indonesia. Jadi mereka harus dihentikan sebelum hutan utuh terakhir kita di Papua habis," kata Direktur Eksekutif Greepeace Asia Tenggara Emmy Hafild di Jakarta, Rabu (12/4). Menurut dia, Pemerintah Indonesia harus memberlakukan moratorium terhadap kegiatan penebangan komersial berskala besar dalam cakupan hutan utuh Indonesia, dimulai dengan Papua. "Kebijakan-kebijakan nasional dan daerah juga hendaknya dikaji ulang. Tata guna ruang yang tepat juga harus diberlakukan," ujarnya. Angka-angka yang diperoleh dari Departemen Kehutanan menunjukkan bahwa pada akhir 2005, Pemerintah telah mengeluarkan HPH pada 11,6 juta hektar hutan di Papua kepada 65 perusahaan penebangan. Bila ditelaah lebih lanjut, kata dia, perusahaan-perusahaan dimiliki oleh hanya segelintir perusahaan nasional seperti Kayu Lapis Indonesia, Korindo Group (Korea, Indonesia), Barito Pacific (Inggris, Indonesia), Djajanti Group (Indonesia), PT Hanurata (Indonesia) dan PT Wapoga Mutiara Timber (anak perusahanan Rimbunan Hijau, Malaysia). Greenpeace baru-baru ini meluncurkan peta baru yang menunjukkan bahwa hutan-hutan alam di dunia berada dalam keadaan kritis, peta itu juga memberikan bukti bahwa kurang dari 10 persen dari wilayah daratan bumi saat ini yang tetap berupa hutan utuh. Menurut laporan itu, sebagian besar hutan utuh dari hutan alam di wilayah Asia Pasifik telah ditebangi oleh karena permintaan kayu murah dari Jepang, AS, Uni Eropa, dan Cina. "Peta itu memberikan bukti baru dan penting kepada pemerintah akan pentingnya meningkatkan perlindungan hutan alam di seluruh dunia dan khususnya di sini di mana hutan-hutan ditebangi lebih cepat dari tempat manapun di dunia," kata Emmy. Di wilayah Asia Pasifik, kata dia, hampir seluruh hutan yang terletak di dataran rendah telah habis. Sementara itu di dunia hanya bersisa tujuh hutan utuh yaitu di Papua, Amazon, Palagonia, Kongo, Great Bear Rainforest, Eropa dan Rusia. Emmy mengatakan bahwa dalam misinya melindungi hutan-hutan di Papua, kapal utama Greenpeace yaitu Rainbow Warrior merapat dan berada di papua selama lebih kurang satu bulan untuk melakukan kajian lingkungan dan sosial. Dikatakan, belum lama ini Rainbow Warrior menemukan kargo kayu yang akan meninggalkan Papua menuju Jepang, Korea dan AS. "Rainbow Warrior akan merapat di Jakarta pada 22 April dan tinggal selama tiga hari," katanya.(*) LKBN ANTARA Copyright © 2005 Apr 12 16:44 LAJU KERUSAKAN HUTAN DI ASIA PASIFIK TERCEPAT DI DUNIA Jakarta, (ANTARA News) - Laju kerusakan hutan di wilayah Asia Pasifik adalah yang tercepat di dunia di mana setiap dua detik hutan seukuran lapangan sepak bola hancur. Pernyataan tersebut dikemukakan oleh Direktur Eksekutif Forest Watch Indonesia (LSM peduli lingkungan) Christian Poerba di Jakarta, Rabu (12/4). Dia mengatakan hutan alam yang berada di bawah ancaman terbesar adalah hutan-hutan firdaus yaitu rangkaian hutan yang menghijau di Asia Tenggara yang membentang di kepulauan Indonesia dan berlanjut hingga ke Papua Nugini dan kepulauan Solomon di Pasifik. "Sebagian besar hutan utuh di Indonesia telah ditebangi, sekitar 72 persen hutan di Indonesia telah habis, yang tersisa hanya di Papua. Sementara itu 60 persen hutan di Papua Nugini pun bernasib sama," katanya. Laporan Greenpeace menyebutkan bahwa laju deforestasi atau perusakan hutan di Indonesia adalah yang tertinggi di dunia mencapai paling tidak 1,9 juta hektar dalam lima tahun terakhir, 2000 hingga 2005, jika dihitung secara konservatif sedangkan fakta di lapangan diperkirakan dapat mencapai 2,8 juta hektar per tahun. Menurut dia, pembalakan liar di sepanjang bentangan hutan firdaus itu telah mengakibatkan rusaknya lingkungan serta mendorong percepatan punahnya tumbuhan dan hewan dalam jumlah yang mencengangkan. Indonesia adalah tempat tinggal dari 10 persen keanekaragaman hayati, kerusakan hutan mengakibatkan orangutan, gajah, macan, badak dan lebih dari 1.500 spesies burung dan ribuan spesies tumbuhan terancam punah. Hutan tersebut juga merupakan rumah bagi 50 juta masyarakat adat yang hidup turun temurun dan mengelola hutan Indonesia selama ribuan tahun tanpa merusaknya namun kegiatan industri saat ini justru telah membuka sebagian besar tutupan hutan asli Indonesia. Di Indonesia diperkirakan 70 hingga 80 persen penebangan adalah penebangan liar. Sisa Hutan Pada kesempatan itu Christian juga menjelaskan situasi terakhir di papua. Menurut dia, luas hutan alam yang relatif tidak tersentuh manusia di pulau Papua (Indonesia dan Papua Nugini) adalah 34,9 juta hektar sedangkan kawasan konsesi hutan sebesar 31,2 juta hektar. "Antara hutan alam dan kawasan konsesi ada yang tumpang tindih sehingga setelah di `overlap` ternyata sisa hutan alam yang relatif aman hanya 20,8 juta hektar," katanya. Sedangkan khusus untuk Papua wilayah Indonesia, kata dia, hutan alam yang relatif aman hanya sekitar 17,9 juta hektar yang setelah di `overlap` dengan kawasan konsesi hanya tersisa 13,8 juta hektar. "13,8 juta hektar itu artinya hanya sekitar 30 persen dari luas seluruh hutan Papua di Indonesia yaitu 39,6 juta hektar," katanya. Mengingat tiap konsesi Hak Penggunaan Hutan (HPH) pada umumnya berjangka waktu antara 20 sampai 30 tahun, kata dia, maka jika tidak ada tindakan untuk menyelamatkan hutan, hutan di Indonesia pada 20 atau 30 tahun mendatang hanya tersisa 13,8 juta hektar. "Itupun kalau tidak ada ijin konsesi baru," katanya.(*) LKBN ANTARA Copyright © 2005 Apr 12 16:42 GREENPEACE GANDENG MASYARAKAT LOKAL UNTUK SELAMATKAN HUTAN ALAM Jakarta, (ANTARA News) - Koordinator Solusi Masalah Kerusakan Hutan Greenpeace Asia Tenggara Bustar Maitar mengatakan bahwa Greenpeace bekerjasama dengan masyarakat untuk membuat standar pengelolaan hutan berbasis masyarakat untuk menyelamatkan hutan alam yang tersisa. "Sudah 10 tahun terakhir Greenpeace tidak hanya melakukan aksi menentang perbuatan yang mengakibatkan kerusakan lingkungan tetapi juga menawarkan solusi untuk menyelamatkan hutan," kata Bustar di Jakarta, Rabu (12/4). Untuk kegiatan itu, kata dia, Greenpeace melibatkan pemerintah di seluruh dunia untuk mengadopsi dan menegakkan langkah-langkah tegas guna melindungi hutan alam, termasuk hutan-hutan firdaus yang relatif belum tersentuh manusia. Cara-cara yang dilakukan, dia menambahkan, adalah dengan membentuk jaringan daerah-daerah lindung global, melarang impor kayu dan produk kayu ilegal, memperomosikan pengelolaan hutan yang bertanggungjawab secara sosial dan ekologis di seluruh dunia. Serta mendukung usaha-usaha negara yang memproduksi kayu dalam memerangi korupsi dan menguatkan penegakan hukum. Dikatakan, inisiatif tersebut telah membantu menutup kegiatan-kegiatan kehutanan yang korup dan memulai alternatif-alternatif yang dijalankan oleh masyarakat seperti program `eco-forestry` di Papua Nugini dan Kepulauan Solomon. "Greenpeace sedang memulai proyek baru di Papua dalam menyiapkan usaha-usaha wiraswasta bagi masyarakat setempat. Inisiatif ini akan membantu melindungi apa yang tersisa dari wilayah hutan alam asli terbesar," katanya. Dampak Ekologi Sementara itu Direktur Eksekutif Greenpeace Asia Tenggara Emmy Hafild mengatakan bahwa dampak ekologi yang harus dibayar akibat kerusakan hutan seringkali tidak terpikirkan oleh sejumlah pihak. "Saya ingat kebakaran hutan pertama kali setelah 100 tahun di Kalimantan pada 1983, tepat 15 tahun setelah terjadi penebangan hutan besar-besaran," katanya. Kemudian, lanjutnya, peristiwa kedua terjadi pada 1987. Yang semula hanya di Kalimantan Timur kemudian meluas ke seluruh Kalimantan dan kini setiap tahun ada kebakaran hutan di Kalimantan. Lebih lanjut dia mengatakan, sebelumnya hampir semua sungai di Kalimantan dapat dilayari tetapi kini banyak sungai yang kering pada musim kemarau dan selalu banjir di musim hujan. "Belum lagi dari dampak ekonomi. Masyarakat yang tadinya bergantung pada perusahaan-perusahaan penebangan mendadak kehilangan pekerjaan ketika perusahaan itu pindah mengincar hutan yang lebih hijau setelah Kalimantan gundul," katanya. Menurut dia, pola yang sama seakan berulang, jika sebelumnya penebangan hutan besar-besaran terjadi di Jawa, kemudian Sumatra dan Kalimantan maka kini perusahaan penebangan besar mulai mengincar Papua, hutan terakhir Indonesia.(*) LKBN ANTARA Copyright © 2005 __________________________________________________ Do You Yahoo!? Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around http://mail.yahoo.com __________________________________________________ Do You Yahoo!? Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around http://mail.yahoo.com Bantu Komunitas IndoFirstAid.com Bank BCA KCP Mangkubumi 1260440850 A/n. Yudhistira O. Pemasangan Iklan silahkan hubungi [EMAIL PROTECTED] ======================================================= [Untuk Pemilik Situs] Ingin mendapat berpenghasilan online hanya dengan menampilkan banner. Bergabunglah dengan Friendfinder sebuah jaringan komunitas, blog, chatrooms, forum dsb. Pendaftaran gratis dan anda bisa mereferensikan dengan orang lain. http://friendfinder.com/go/g772835-pmem ======================================================== [Dukung Kami] Cukup satu klik iklan Google, anda membantu pendanaan indofirstaid.com http://indofirstaid.com/situs/index.php?option=com_loudmouth Ruang ini di iklankan bila berminat hubungi [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/indofirstaid/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

