Dari milis tetangga, sekedar perluasan wawasan, guna menyeimbangkan isu ramalan Permadi tgl 29/5 di Metro TV
Ma'rufin Sudibyo <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Catatan kecil tentang Gempa Yogya 27 Mei 2006 1. Magnitude dan energi Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) mencatat gempa Yogya memiliki magnitude 5,9 Skala Richter dengan posisi episentrum 37 km di selatan Yogya, tepat di dasar Samudera Hindia, dengan kedalaman sumber gempa 33 km dari permukaan laut. Data dari United States Geological Survey (USGS) sedikit lebih lengkap, dimana gempa ini memiliki body-wave magnitude (Mb) 6,0 skala Richter, surface magnitude (Ms) 6,3 skala Richter dan moment magnitude (Mw) 6,3 skala Magnitudo. Namun posisi episentrumnya berbeda jauh dengan data BMG, sebab terletak 20 km selatan Yogya, atau persis di bawah Parangtritis - Samas, pada kedalaman 35 km. Dari data ini kita bisa menghitung berapa besar energi yang diradiasikan gempa ini. Dengan persamaan log E = 1,5 Ms + 4,8 didapatkan energi gempa ini dalam rentang 4,467 . 10^13 Joule - 1,778 . 10^14 Joule atau 11 - 43 kiloton TNT. Bila dihitung berdasarkan persamaan Kanamori yang lebih kompleks, dimana E = (Mo/2) . 10^-11 dengan log Mo = 1,5 Mw + 16 didapatkan E = 1,409 . 10^14 Joule atau 34 kiloton TNT dengan momen seismik (Mo) = 2,818 . 10^25 dyne-cm. USGS malah mencatat momen seismik lebih besar (4,2 . 10^25 dyne-cm, atau hampir dua kali lipat). Sebagai pembanding, letusan bom Little Boy di atas Hiroshima pada akhir Perang Dunia II melepaskan energi sebesar 19 - 20 kiloton TNT. Artinya, energi gempa ini memang cukup besar. 2. Deformasi dan kompresi Moment magnitude (dan juga momen seismik) pada gempa ini jelas menunjukkan terjadinya deformasi di lokasi sumber gempa. Dengan mengambil data BMG, plotting posisi episentrum gempa utama dan gempa2 susulan pada peta memperlihatkan adanya patahan di dasar Samudera Hindia berarah barat daya - timur laut dengan panjang sekitar 100 km dan lebar sekitar 20 km. Dengan momen seismik 2,828 . 10^25 dyne-cm, patahan ini telah bergeser sejauh 5 cm (rata-rata). Namun bila kita gunakan momen seismik dari USGS, pergeseran rata-ratanya sebesar 7,5 cm. Terjadinya pergeseran ini barangkali akan terkuak bila diadakan survey laut dalam di lokasi sumber gempa. Angka pergeseran ini sekilas memang tidak jauh berbeda dengan kecepatan pendesakan Lempeng Australia yang besarnya (rata-rata) 6 cm / tahun ke utara - timur laut, mendesak Lempeng Sunda yang stabil, hingga menghasilkan zona subduksi berupa palung Jawa sekitar 150 km di selatan patahan ini dan sekaligus memproduksi zona Benioff-Wadati di kedalaman 100 - 200 km pada Jawa bagian selatan dan 600 km di Laut Jawa. Namun harus diingat bahwa pergeseran sebesar 5 - 7,5 cm pada patahan ini berlangsung hanya dalam waktu 1 menit. USGS Rapid Moment-Tensor Solution memperlihatkan patahan yang menjadi sumber gempa Yogya ini merupakan patahan geser (pure strike-slip). Distribusi episentrum gempa2 susulan menunjukkan pergeseran itu menuju ke barat daya, sehingga patahan ini telah menekan segmen2 yang berada di sebelah barat sumber gempa dan terbuka kemungkinan segmen2 itu akan menjadi sumber gempa selanjutnya di masa yang akan datang. USGS Rapid Moment-Tensor Solution juga memperlihatkan, dari sumber gempa ini dihasilkan kompresi terbesar yang mengarah ke timur laut - barat daya. Sementara sumbu kompresi minimum mengarah ke barat laut - tenggara. Barangkali hal ini menjadi salah satu penyebab mengapa kerusakan parah justru terjadi dalam sumbu imajiner Bantul - Yogyakarta - Klaten - Boyolali. Secara umum bisa dikatakan kerusakan terjadi pada daerah di dalam segitiga dengan sumbu Magelang - Bantul dan Bantul - Pacitan sebagai sisi terluarnya. Di luar segitiga ini, seperti daerah Purworejo, Kebumen, Purwokerto, Cilacap dan sekitarnya, tidak nampak kerusakan yang signifikan (kecuali sekedar kasus khusus). 3. Guncangan Besarnya guncangan di sumber gempa dinyatakan dalam hubungan Io = 1,5M - 0,75. Maka kita mendapatkan intensitas gempa di hiposentrum sebesar 8 - 9 MMI. Data yang dihimpun BMG menunjukkan intensitas gempa di kota Yogya mencapai 5 - 6 MMI. Sementara di Semarang mencapai 3 MMI atau setara dengan getaran yang diakibatkan lewatnya truk besar. Dari sini bisa dimunculkan hubungan antara intensitas pada daerah berjarak d kilometer dari hiposentrum dengan intensitas hiposentrum dalam bentuk ln I - ln Io = k.d dengan koefisien atenuasi (k) = -0,00789. Dengan persamaan ini, maka bisa dihitung bahwa intensitas gempa di Bantul mencapai 6 MMI, di Malang 1 MMI dan Jakarta nol. Terdapat hubungan antara intensitas setempat dengan percepatan tanah maksimal dalam bentuk log a = I/3 dengan a percepatan dalam satuan cm/detik^2. Dari persamaan ini kita mendapatkan percepatan di Bantul mencapai 12 % G, di Yogya 6 % G, di Semarang 1 % G dan di Malang 0,24 % G. Data berbeda diajukan USGS. Lewat laporan 40 responden USGS Community Internet Intensity Map yang berada di 18 kota berbeda di Pulau Jawa, didapatkan intensitas gempa di kota Yogya mencapai 8 MMI, Solo 5 MMI, Semarang 5 MMI, Purworejo - Kebumen 7 MMI, Malang 4 - 5 MMI, Surabaya dan Jakarta masing2 2 - 3 MMI. Untuk data ini, didapatkan koefisien atenuasi (k) = -0,00328. Sehingga setelah dihitung, intensitas di Bantul mencapai 8 MMI dengan percepatan 38 % G, Yogya 8 MMI dengan percepatan 35 % G, Magelang - Klaten 7 MMI dengan percepatan 17 dan 31 % G, Malang 4 MMI dengan percepatan 1,9 % G dan Jakarta 2 MMI dengan percepatan 0,5 % G. Pada intensitas 8 MMI, dengan percepatan > 34 % G, terjadi potensi kerusakan yang menengah hingga parah. Intensitas 7 MMI memiliki percepatan 18 - 34 % G mengasilkan potensi kerusakan menengah. Intensitas 6 MMI dengan percepatan 9,2 - 18 % G menghasilkan potensi kerusakan yang ringan. Potensi kerusakan paling ringan dimiliki intensitas 5 MMI dengan percepatan < 9,2 % G. 4. Tsunami ? Isu besar yang mengemuka pasca gempa utama di Yogyakarta adalah munculnya tsunami. Ribuan orang berlarian mencari tempat2 yang lebih tinggi seperti Kaliurang, meninggalkan kawasan Bantul - Yogyakarta di tengah gencarnya isu air laut sudah naik menenggelamkan Parangtritis dan mencapai Bantul. Isu ini sebenarnya bisa dimentahkan bila kita mengetahui bahwa kota Yogya dan sekitarnya berada pada ketinggian 114 m dari permukaan laut dan puluhan km dari garis pantai, sehingga hampir tidak mungkin air laut bisa mencapai kota ini, kecuali jika tsunami itu memiliki ketinggian > 500 meter, alias megatsunami, sejenis tsunami yang hanya bisa muncul akibat tumbukan komet / asteroid raksasa ke lautan. Namun, bila anda ada di Yogya pas hari Sabtu lalu, anda akan tahu sendiri betapa kepanikan luar biasa muncul dan dalam kondisi ini yang muncul lebih banyak histeria massif di tengah keguncangan besar dan situasi serba tidak pasti (great disruption, kata Francis Fukuyama dalam bukunya yang terkenal " The End of History..."). Lagipula alam bawah sadar masyarakat Indonesia akan gempa dan tsunami sudah ' termatangkan ' betul lewat pemberitaan ekstramassif bencana gempa dan tsunami dahsyat 26 Desember 2004 silam. Iida (1958) menyebutkan tsunami (yang signifikan / merusak) hanya akan terjadi bila magnitude gempa mencapai M = 6,42 + 0,01 H dengan H adalah kedalaman hiposentrum (dalam km). Selain itu dalam pergeseran patahan harus terdapat komponen pergerakan vertikal (dip-slip) selain komponen pergerakan lateral (strike-slip). Dr. George Pararas-Carayannis menyebutkan secara umum perbandingan antara komponen strike-slip (x) dan dip-slip (z) memiliki nilai x / z = 10 / 3. Carayannis juga yang menyatakan energi tsunami dalam hubungan E = (rho.g.A.z^2)/6 dengan rho densitas air laut (1,03 g/cc) dan g percepatan gravitasi (981 cm/detik^2) dan A luas patahan. Dalam kasus gempa Yogya, dengan patahan sepanjang 100 km, lebar 20 km, pergeseran rata-rata 5 - 7,5 cm, komponen dip-slip nya diperhitungkan sebesar 1,4 - 2,2 cm. Dengan demikian energi tsunami nya mencapai 6,136 .10^8 Joule hingga 1,515 . 10^9 Joule atau 150 - 360 kilogram TNT saja, alias lebih kecil dibanding energi yang tersimpan dalam sebuah bom konvensional yang selalu ditenteng ke mana2 oleh skuadron pesawat tempur. Untuk bisa menghasilkan tsunami yang merusak, dengan hiposentrum gempa sedalam 33 km itu, maka magnitude gempanya harus > 6,7 skala Richter. Dengan energi sekecil itu, bila kita mengikuti model pembangkitan tsunami seperti yang dipaparkan Samuel Glasstone dan Philip Dolan (1972) - dari hasil eksperimen detonasi senjata nuklir bawah permukaan laut - kita mendapatkan bahwa pada jarak 10 km dari episentrum, pada tempat yang berupa laut dalam (kedalamannya > 1.000 meter), maka tinggi tsunami produk gempa Yogya kemarin itu hanya 0,2 - 0,4 cm. Jika pada jarak 10 km itu ternyata tidak lagi berupa laut dalam, namun garis pantai, dengan faktor penguatan gelombang (run up) 40 kali lipat (ini sudah nilai maksimal) oleh pendangkalan dasar laut dan berdesakannya massa air laut sebelum mencapai bibir pantai, maka tinggi tsunami di bibir pantai mencapai 8 - 16 cm saja. Dengan persamaannya Bretschneider dan Wybro, tsunami setinggi ini hanya akan menggenangi daratan hingga sejauh 2,6 - 5,6 meter dari bibir pantai. Sehingga potensi bahayanya adalah nol. 5. Epilog Semoga catatan kecil ini bisa berguna bagi rekan2, terutama yang mau meneliti lebih jauh lagi aspek2 yang terkandung dalam gempa Yogya ini. Namun dalam waktu dekat ini, yang paling diperlukan adalah bantuan, juga sukarelawan. Dengan berjalannya waktu, mayat2 itu sudah mulai rusak dan sulit untuk digali hanya dengan tangan saja. Korban mungkin bisa mencapai angka 7.000 jiwa. Belum lagi puluhan ribu lainnya yang gak lagi punya atap berteduh, yang luka, yang dua tiga hari menahan lapar, yang bergeletakan di pinggir2 jalan dengan tatapan mata kosong, seperti tanpa harapan lagi. Belum lagi yang terbaring di alun-alun, pelataran rumah sakit, bahkan ada di lapangan tenis yang panas dan keras ! Sejauh mata memandang hanya ada puing. Jangan bayangkan lagi eksotisnya Yogya atau Parangtritis, itu sudah musnah. Uluran kita sangat diperlukan, rekan.. catatan kecil dari puing2 yang (dulu) bernama Bantul Ma'rufin ======================= (Dan) Patahan Itu Hidup Lagi ? BMG menyatakan gempa Yogya 27 Mei 2006 ini memiliki episentrum di dasar Samudera Hindia pada koordinat 8,26deg LS 110,31deg BT, dalam jarak 37 km di selatan kota Yogya. Sementara USGS menyatakan posisi episentrum justru ada di kawasan Pantai Samas atau tepatnya di muara Sungai Opak, pada koordinat 8,007deg LS 110,286deg BT sejauh 20 km ke arah selatan dari kota Yogya. Sementara EMSC - dari Eropa - menyatakan pusat gempa justru ada di sebelah timur Yogya, tepatnya di bawah kawasan Piyungan - Patuk pada koordinat 7,851deg LS 110,463deg BT sejauh 12 km dari Yogya. Namun ketiga lembaga itu sama2 menyatakan bahwa gempa tektonik ini berasal dari pure strike- slip alias pergeseran mendatar, bukan gerak naik / turun sebagaimana yang biasa terjadi pada zona subduksi. Lepas dari pihak mana yang paling akurat, posisi2 episentrum ini cukup menarik. Episentrum-nya USGS berada tepat di sebuah patahan yang berarah timur laut - barat daya dan membentang mulai dari kawasan utara Candi Prambanan hingga ke muara Sungai Opak. Episentrum-nya EMSC berada persis di bawah bukit2 kapur Pegunungan Sewu yang menjadi bagian horst patahan ini. Sementara episentrum-nya BMG, ternyata juga terletak di sekitar garis imajiner perpanjangan patahan ini ke selatan, menerus ke Samudera Hindia. Apa yang bisa diartikan dari sini ? (Hampir pasti) bisa dikatakan gempa kuat di Yogya berkaitan dengan aktivitas patahan Sungai Opak ini. Mungkin hal ini juga yang bisa menjelaskan mengapa daerah dengan kerusakan terparah (dan korban jiwa terbesar) ada di sumbu imajiner Bantul - Klaten, karena memang patahan ini membentang dari Bantul selatan hingga Klaten selatan (kawasan Prambanan). Barangkali hal ini juga yang bisa menjelaskan ambruknya stasiun KA Prambanan (sementara stasiun2 lainnya hanya rusak ringan) serta melengkung dan patahnya rel KA di antara stasiun Srowot - Prambanan, suatu hal yang " luar biasa " bagi sebuah gempa dengan magnitude 5,9 - 6,3 skala Richter, yang lebih kecil dibanding misalnya gempa Nias ataupun gempa Kep. Mentawai tahun silam. Tentang patahan ini, bila anda pernah berwisata ke Parangtritis, sebelum memasuki gerbang kawasan wisata itu anda akan melintasi jembatan gantung yang membentang di atas sebuah sungai. Itulah Sungai Opak. Selain melintasi sungai, persis di jembatan ini anda sebenarnya juga sedang melintasi patahan Sungai Opak, yang terpendam di bawah endapan vulkanik Gunung Merapi. Panorama di sebelah selatan jembatan tadi berbeda dibanding sebelah utara yang relatif datar. Selain bukit2 kapur, di sini juga terdapat mata air panas (hot springs) Parangwedang, yang tidak berkaitan dengan aktivitas vulkanik ataupun post-vulkanik, namun disebabkan oleh patahan. Rupanya ruang di bawah horst diisi oleh magma, namun bidang patahannya masih cukup kuat untuk menahan tekanan magma - beda dengan patahan sejenis di utara, yang tak sanggup menahan tekanan magma hingga magma bisa muncul ke permukaan Bumi lewat bidang patahan dan terbentuklah jajaran gunung-gunung api Merapi, Merbabu dan Ungaran. Meski begitu magma di bawah horst tadi sudah cukup mampu untuk memanaskan air bawah tanah, yang kemudian keluar melewati bidang patahan sebagai air panas. Patahan ini pernah diteliti di akhir 1980-an dan disimpulkan bahwa ia telah mati. Sehingga tidak pernah diperhitungkan sebagai salah satu potensi bahaya bagi Yogyakarta dan sekitarnya. Fokus potensi bahaya di Yogya kemudian lebih ditekankan pada ancaman letusan Merapi serta gerakan tanah. Gempa tektonik - kalaupun ada - dianggap diletupkan oleh zona subduksi yang berada 300 km di selatan Yogya. Jauh hari sebelumnya Yogya dan sekitarnya juga pernah diguncang gempa besar pada Juni 1867, dengan magnitude sekitar 7. Gempa ini menimbulkan kerusakan dan korban yang luar biasa hingga manuskrip Kraton Yogya mencatatnya dengan candrasengkala " obah lapis pitung bumi " alias bergeraknya tujuh lapisan bumi, yang terjemahannya menunjukkan angka tahun 1867 Masehi. Candrasengkala ini menunjukkan betapa hebatnya guncangan tanah saat itu, hingga disebutkan menyebabkan bergeraknya tujuh lapisan bumi. Disini harus diingat bahwa kata " pitu (tujuh) " dalam kesusastraan Jawa merupakan kata serapan dari sastra Arab, dan digunakan untuk menyatakan hal yang jamak. Demikian besarnya guncangan saat itu hingga istana air Tamansari (yang dibangun Hamengku Buwono 1 seabad sebelumnya) rusak berat dan tidak pernah lagi ditempati / diperbaiki sampai saat ini. Tugu golong gilig yang menjadi lambang kota Yogya sampai ambruk dan terbelah menjadi tiga bagian. Tanah longsor terjadi di mana-mana, dan dari sini muncullah toponimi " Terban " yang kemudian menjadi nama sebuah daerah di pinggir Sungai Code, di sebelah selatan kampus UGM. Kini patahan itu (nampaknya) hidup kembali. Dan di sana, di bawah lembah Sungai Opak, gempa2 susulan terus berkejaran. Sekilas pergeseran patahan ini memang tidak besar. Bila gempa megathrust 26 Des 2004 menimbulkan pergeseran (rata-rata) 15 m dan (maksimal) 20 m, di gempa Yogya 'hanya' 5 - 10 cm. Namun bila kita bandingkan pergeseran ini dengan pergerakan patahan2 sejenis, yang banyak eksis di Jawa Barat seperti patahan Lembang - Cimandiri - Baribis, dimana kecepatannya (rata-rata) 0,2 mm / tahun, maka nampak pergeserannya cukup besar. Apa yang menyebabkan patahan ini hidup kembali, apakah gempa megathrust 2004 silam ? Atau aktivitas Merapi yang memang sedang memuncak setelah istirahat berkepanjangan 5 tahun terakhir (hal yang memang tidak biasa) ? Kita tidak tahu. Demikian juga, bagaimana masa depan patahan ini dan apa pengaruh getaran gempanya bagi dapur2 magma jajaran gunung2 api Merapi, Merbabu dan Lawu ? Kita juga tidak tahu, dan (harapannya) semoga tidak muncul hal lain yang lebih buruk. Sebab rakyat Philipina telah merasakan betapa sebuah gempa besar pada pertengahan Juli 1990 - yang menghancurleburkan kawasan Baguio - dengan pusat berjarak 100 km dari Gunung Pinatubo ternyata sanggup membangunkan gunung yang telah 600 tahun terlelap (dan tererosi berat) dengan munculnya erupsi freatik pada awal April 1991 yang terus berkembang hingga puncaknya menghasilkan letusan dahsyat ultraplinian pada pertengahan Juni 1991 dengan semburan abu mencapai ketinggian 34 km. Bumi bercinta, manusia menangis, kata van Bemmelen. Dan jujur saja, membayangkan semua kemungkinan2 itu, membuat saya pribadi jadi bergidik ngeri. Apalagi Merbabu dan Lawu memang sudah sangat lama terlelap, dan Merapi 1.000 tahun silam punya sejarah letusan teramat besar, hingga sanggup meruntuhkan dinding barat dayanya dan mengalirkan milyaran ton material vulkanik yang selanjutnya membentur Pegunungan Menoreh, membentuk perbukitan Gendol dan mengubur candi Borobudur... ----- Original Message ----- From: <[email protected]> To: <[email protected]> Sent: Monday, June 05, 2006 11:50 PM Subject: [indofirstaid.com]: Digest Number 679 There are 3 messages in this issue. Topics in this digest: 1. gempa lagi??? mohon konfirmasi??? From: "arif rahman" [EMAIL PROTECTED] 2. Re: gempa lagi??? mohon konfirmasi??? From: "yudhis97" [EMAIL PROTECTED] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Get to your groups with one click. Know instantly when new email arrives http://us.click.yahoo.com/.7bhrC/MGxNAA/yQLSAA/5HyolB/TM --------------------------------------------------------------------~-> Bantu Komunitas IndoFirstAid.com Bank BCA KCP Mangkubumi 1260440850 A/n. Yudhistira O. Pemasangan Iklan silahkan hubungi [EMAIL PROTECTED] ======================================================= [Untuk Pemilik Situs] Ingin mendapat berpenghasilan online hanya dengan menampilkan banner. Bergabunglah dengan Friendfinder sebuah jaringan komunitas, blog, chatrooms, forum dsb. Pendaftaran gratis dan anda bisa mereferensikan dengan orang lain. http://indofirstaid.net/iklan.html ======================================================== Clicksor.com introduces a quick and easy way to earn money by simply referring friends, family, co-workers and acquaintances who owns a website to join our Clicksor publishers program. http://www.clicksor.com/?ref=32938 ========================================================= Ruang ini di iklankan bila berminat hubungi [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/indofirstaid/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

