Saya berada di Muarasipongi 1 hari setelah gempa yang menewaskan 4 orang itu, Ketika itu saya dan beberapa rekan-rekan ORARI memasang repeater (stasiun pancar ulang) di Tower milik TVRI di Desa Maga yang terletak 20 Km dari Kotanopan atau 40 Km dari Muarasipongi. Ada 2 alternatif pemilihan tower yaitu TVRI di Maga atau tower Microwave telkom di Bukit Bapagar Muarasipongi (yang akhirnya rubuh). Pemilihan tower TVRI dengan pertimbangan tower tersebut tingginya 120 m dan mudah melakukan link ke repeater yang berada di Sanggarudang yang terlebih dahulu sudah di link ke Medan sehingga dengan harapan hanya menggunakan Handheld transceiver (HT/transeiver genggam) saja sudah dapat berkomunikasi ke POSKO Satkorlak di Medan. Seteleah repeater dipasang dilakukan uji coba transmit dari Muarasipongi (lokasi bencana), perjalanan dari Maga ke Muarasipongi sempat terjebak longsor selama 3 jam. Setelah tiba di Muarasipongi, apa yang terjadi ? Repeater yang dipasang di Maga tersebut tidak sampai di Muarasipongi (hanya mencapai Aek Botung) karena muarasipongi terutup bukit (dikelilingi bukit sehingga menyulitkan frekuensi VHF untuk menembusnya). Di Muarasipongi (570 Km dari Medan) tidak terdapat fasilitas telepon Fix, telepon kabel (PSTN) PT Telkom). Disana hanya ada 1 BTS Indosat yang padam saat itu. Untungnya saya juga membawa radio Single Side Band (SSB) yang saya baya saat uji coba tersebut. Ketika Melapor ke Satlak penggulangan bencana, ternyata saat itu sangat dibutuhkan telekomunikasi, tanpa pikir panjang (karena signal repeater tidak sampai di Muarasipongi) saya menurunkan radio Single Side Band (SSB) berikut Antena Tuner dan memasangnya di Belakang Tenda Satlak PB tepatnya di Kantor Polisi Patroli Jalan Raya (PJR) yang rusak berat akibat gempa. Uji coba komunikasi ke Satkorlak Penaggulangan Bencana di Medan dilakukan, dan saya berhasil melakukan kontak radio dengan Satkorlak. Setelah uji coba berhasil teman-temman saya kembali ke Maga untuk memperbaiki repeater sehingga saya tinggal sendiri di Muarasipongi sebagai operator radio SSB (walaupun senula tidak direncanakan pada hari itu). Karena saya tinggal tanpa rencana, maka perlengkapan saya tertinggal di Stasiun Transmisi TVRI di Maga. Ketika malam tiba udara Muarasipongi cukup dingin saya harus berjuang melawan dinginnya malam akibat tanpa perlengkapan, baru besok paginya perlengkapan saya baru tiba dari Maga. Minggu 24 Desember 2006 pagi karena tidak ada kegiatan saya melepas kesunyian Muarasipongi dengan menyapa reken-rekan ORARI di Mataram juga di Jakarta bahkan pada frekuensi 7.043 MHz saya menyapa rekan-rekan amatir radio di Johor Malaysia yang juga tertimpa bencana banjir. Minggu pagi itu juga saya berkomunikasi dengan Bapak IGK Manila (YB0AA) yang saat itu berada di Bandung. Minggu sore saya melihat truk tentara yang baru saja membawa pengungsi yang baru kembali dari Kotanopan ke Dusun Godang Muarasipongi, dan Menjelang Magrib rekan-rekan dari Taruna Siaga Bencana (TAGANA)departemen sosial menyapa saya menyatakan pamit kepada saya untuk kembali ke Medan dan selanjutnya ke Besitang yang terkena banjir. Sore itu juga saya melihat sekelompok mahasiswa dari Padang yang baru saja menyampaikan bantuan selanjutnya akan kembali ke Padang. Hujan turun di sore minggu (24 Desember 2006) saya kembali ke Posko SATLAK dan kembali kedepan radio komunikasi ICOM IC 718 dan berbicara dengan seorang sahabat Denny Sinaga YB6HJE di Perapat dan melaporkan bahwa telah turun hujan dengan lebatnya. Malam pukul 20:30 WIB tiba-tiba saja Listrik PLN terputus, padahal siang tadinya saya baru mengembalikan genset ke Maga, untungnya ada aki Yuasa N70 cukup untuk menggerakkan radio SSB ku, sekelompok penduduk lari tan tentu arah, seorang ibu datang ke Posko sambil berteriak "tolong selamatkan suami ku, tolong selamatkan anakku", Saya pun berlari ke arah berlawanan dengan arah penduduk yang berlari tersebut. Astaga !!!! bukit runtuh menimpa rumah-rumah penduduk. Saya kembali ke Posko untuk melaporkan apa yang saya lihat dengan mengatakan "terjadi tanah longsor yang menimpa rumah penduduk, kemungkinan besar ada korban jiwa". Setelah melaporkan ke Satkorlak di Medan, saya kembali di lokasi longsoran itu dan saya berjalan diantara lumpur, terlihat api menyala, memercik keudara, semula saya mengira itu listrik tegangan tinggi yang runtuh, karena disitu cukup banyak air saya mesti hati-hati takut tersengat listrik. Tiba-tiba apai yang memercik tadi meledak dan membesar, rupanya itu tempat penyimpanan bensin rekan-rekan offroader IOF (Indonesia offroad Federation. Saya kembali lagi kedepan radio dan melaporkan bahwa basecamp IOF juga tersapu longsor. Perncarian korban dilakukan dengan backhaw (beko) dan Skopel selama hampir 2 jam di kegelapan malam itu. Akhirnya ditemukan korban 1 orang tewas dan 7 orang luka-luka. Pencarian malam itu dihentikan karena alasan keselamatan jiwa petugas akibat adanya longsor susulan. Pagi tahggal 25 Desember 2006 pencarian dilanjutkan, satu demi satu jenazah ditemukan. Hal yang paling menyedikan ketika Jenazah seorang ibu yang tewas dengan memeluk bayinya yang berusia 4 hari (belakangan diketahui nama ibu itu adalah Aminah berusia 28 th dan bayinya bernama Inovan). Dia melahirkan bayinya 4 hari sebelumnya di Pengungsian Kotanopan. Sore itu dia pulang karena merasa sudah aman, tetapi malamnya ajal menjemputnya. Setelah 5 hari di Muara sipongi, bersahabat dengan gempa yang datang setiap hari, ada perintah Danrem Kawal samudra untuk memindahkan Posko ke Kotanopan dan mengosongkan Muarasipongi. Seluruh penduduk diungsikan ke Kotanopan, tidak hanya penduduk tentara (TNI) juga. Seorang rekan TNI bergurau dengan mengatakan, kami tidak lari, tetapi perintah komandan yang menyuruh lari. Hingga saya meninggalkan Posko Kotanopan korban tewas mencapai 33 Orang. Perjalanan menyedihkan ... Seperti yang ditulis Ebit .. Perjalanan ini terasa sangat menyedihkan sayang engkau tak duduk disampingku kawan ....
Zulkarman Syafrin (Relawan ORARI dengan Callsign YB6PLG) --- In [email protected], "Rendra Hertiadhi" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Dear all, > > Hari ini tim IOF Peduli di Mandailing Natal ditarik mundur ke Sidempuan karena di Muara Sipongi situasinya tidak mendukung untuk membuka Posko (rawan longsor). Seluruh kendaraan sudah berhasil dievakuasi dan ditarik mundur ke Sidempuan. Sebelum meninggalkan Muara Sipongi tim IOF Peduli meninggalkan bantuan logistik berupa sembako di desa Sibinail, Tamiang Mudo dan Rantololo untuk kebutuhan penduduk selama 2 minggu. > > Tim IOF Peduli Komda Sumut akan melakukan koordinasi dan konsolidasi untuk operasi selanjutnya. > > Demikian disampaikan sebagai informasi. > > IOF Peduli - HQ > Rendra Hertiadhi (Ronny) >

