Ehem... bicara mengenai Calo darah ya...!!! Cuman mo cerita yg ada di Denpasar-Bali sebagai contoh... Dan sepertinya di Daerah lain juga tidak jauh berbeda!!!
Pertama, kalo stock darah lagi banyak di UTD mungkin si Keluarga korban tinggal bayar biaya pengolahan darah saja Untuk kemudian berdasarkan surat dokter yang menangani pasien... maka si keluarga korban diperkenankan untuk membawa itu darah dari UTD dan dilanjutkan ke dokter yang menanganinya... Sedangkan... kalau darah di UTD stock-nya tidak ada/minim stock maka UTD menyarankan untuk mencari donor darah dari pihak keluarga atau teman... dll yang setidaknya golongan darahnya sejenis Nach... ini mungkin salah satu orang yang mas yoga masih bingung dia itu calo darah ato keluarga pasien!!! Untuk menghilangkan keraguan itu... biasanya pencari darah menyampaikan bahwa darahnya untuk Pasien ini... yang dirawat di kamar ini... misalnya!!! kalau masih belom yakin ya silakan dicek berdasarkan informasi tersebut... Sepanjang saya donor, saya tidak pernah menemukan kasus calo darah... sebab sistem di UTD dibuat sedemikian rupa!!! Dan kalaupun ada isu bahwa darah yang didapat adalah dengan membayar beberapa ratus ribu rupiah.... Nach itu dia persepsi yang salah... Memang ada pembayarannya... dan semua pembayaran dilakukan di UTD sebagai pelaksana teknis, Jadi tidak ada yang via calo!!! Intinya bahwa darah yang akan dipakai seorang pasien khan harus aman... jadi mulai dari awal pengambilan darah... diperlukan kantong... diperlukan tes hepatitis, HIV dll sampai dengan ketika akan dipakai darah harus dicross check lagi dengan darah pasien... apakah bener2 sudah cocok (walaupun satu golongan neh...) Dan semua itu perlu biaya toch... nach inilah yang sebenarnya dibayar oleh si pasien or keluarganya!!! Biasanya disebut biaya pengganti pengelolahan darah... dan untuk itu semua kasarannya menghabiskan sampai dg Rp 600-an rb Sedangkan di Bali... nilai itu bisa ditekan terkait adanya subsidi dan bantuan donatur... Dan juga diterapkan subsidi silang... artinya bagi yang menghuni kelas ekonomi tentu pembayarannya akan berbeda dengan pasien yang berada di kelas pavilium... artinya kelas ekonomi membayar lebih murah daripada kelas pavil... Oke temans... sepertinya itu share dari akoe Mungkin temans dari daerah laen bisa memberikan gambaran yang lain terkait daerahnya... Silakan... Regards Topanix Bali On 1/23/07, Gde Yulian Yogadhita <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
wah keren, cuma saya juga jadi mau numpang tanya, gimana caranya bedain keluarga pasien dengan calo darah, kadang saya dan teman-teman di Gelanggang Mahasiswa UGM sering dihubungi oleh pencari donor, namun saya ragu, apakah si pencari ini benar-benar keluarga atau calo darah --- In [email protected] <indofirstaid%40yahoogroups.com>, aqis fairuz <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Donor darah tuh buat saya sudah menjadi kebutuhan, selain bisa membantu saudara2 kita yang sedang membutuhkan juga kita bisa kontrol kesehatan secara berkala, juga gratis. > Hanya sekarang saya sudah 3 tahun gak bisa donor lagi mungkin insyaallah bulan depan kalo sudah ada di desa akan kembali menjadi donor karena sekarang kebetulan lagi ada di korea selatan. Sebetulnya saat pertama datang di korea tuh saya dah muter muter nyari markasnya palang merah rencananya sih mau rutin donor darah tapi begitu ketemu UTD korea malah ditolak gak tahu tuh apa alasannya, mungkin karena orang asing /apa padahal sudah saya ceritakan bahwa saya di rumah sudah rutin tapi tetap aja ditolak.!!! > Biasanya klo sudah jatuh tempo tapi lupa karena sesuatu hal eh itu badan rasanya lemes banget gak bergairah, tapi setelah di donor badan tuh kembali segar kaya batere abis di charger. ( apalagi klo di UTD kota Bandung tuh klo abis diambil darah tuh dikasih telor rebus, teh kotak , viliron juga biskuit sekedar pengganti aus, hehehehe, gak koq saya niat nya juga mo nolong gak punya misi apa apa juga tuk jaga kesehatan. > Dan saya kalau mo donor tuh suka tanya dulu ada yang butuh darah trombosit gak? karena saya akan merasa bahagia sekali kalau pas donor ada yang butuh trombosit, kenapa ? karena bisa langsung di pakai sama pasien tersebut. itulah suatu kebahagian buat saya bisa menolong orang lain. malah akhir akhir ini tuh jadi ketagihan untuk donor trombosit. makanya suka telat terus kalau beberapa hari menjelang jatuh tempo kadang saya suka nitip no. tlp. sama petugas UTD kalau 2 ada yang memerlukan darah trombosit silahkan tlp saya kapanpun, dan saya maaf tidak mengharapkan sesuatu apapun dari keluarga pasien niat saya dari awal juga hanya untu menolong dan kesehatan saya, dan saya sudah mengenalkan sama anak saya yang berumur 3 tahun tuk mengenal palang merah/donor darah. alhamdulillah mungkin sekarang klo gak lupa sudah 60x donor darah. > Selama saya masih bisa saya akan terus mendonorkan darah saya. > nb: yang badannya gemuk diatas 60 mari bertrombosit ria......... > wassalam > ------ParYanto____ > Corps Sukarela > Palang Merah Indonesia Cabang Kota Bandung > > Mas Topan <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Donor emang banyak manfaatnya lho... > Selain menumbuhkan jiwa sosial kita dalam membantu sesama... > disisi lain... > Donor merupakan Keuntungan bagi kita karena... seperti yang disampaikan mbak lelita bahwa sel darah kita akan selalu terbaharui > Juga... ada tes darah gratiss tuch... sebab darah kita musti di tes/uji saring untuk HIV.. Hepatitis dan penyakit2 lain yang menular melalui darah beserta komponennya sebelum darah tersebut pakai biar safe ato aman gituuuu > So kalo darah kita aman... selanjutnya bisa dipakai oleh pasien/ yang membutuhkan > Sedang... kalo darah ada penyakit/virus... maka kita akan diberitahu dari Unit Transfusi Darah... kalo darah kita ada apa2nya misalnya > Dan pastinya kita akan di openin/di urusin lach ma UTD sampai kondisi kita lebih fine getoch > > Ku juga punya cerita unik tentang asal muasal donor-koe... > Sebenernya aku termasuk orang yang paling takut ma jarum suntik... cuman dasar nasib sebab pada kegiatan kampus > selama satu periode kepengurusan aku dapat jatah tugas sebagai koordinator kegiatan donor darah... > Kegiatan pertama begitu mendebarkan... sampai2 gw gak bisa tidur plus sampai kebawa-bawa mimpi gara2 ultimatum temen2 bahwa koordinator musti ngasih contoh duluan untuk kegiatan donor yang akan dilakasanakan... > Bahkan tak jarang aku menggali informasi bagaimana seh donor itu... sakit tidak... dsbg-nya > Dan detik2 donor dilaksanaan... sebagai awalan... temen2 langsung mendorongku ke bed pengambilan darah... > Yach... semoga tak terjadi apa2 pikir-koe... > Dan ketika jarum menusuk venaku dan darah mulai mengalir... aku membathin... > Walach... donor gini aza tha... tak sesakit yang kubanyangkan... > > So untuk selanjutnya... jadinya rutin dech ngikut donor darah... > Hayoooo... yang lain... yang masih takut jarum suntik... > Donor Darah tidak sakit koq... > Yuuuukkk menolong sesama melalui kegiatan Donor Darah Oke > > Regards-Topanix > Denpasar Bali > > > On 1/21/07, g.a.r.i.e.s <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > ngomong2 donor darah, di syarat donor khan harusnya 17 tahun baru bisa donor, tapi saya usia 16 tahun donor udah 3 kali, sekarang saya udah 35 kali donor padahal usia saya baru 25 tahun. > > Awalnya coba-coba tapi kok jadi ketagihan, kalo udah donor badan jadi segerrrrrrrr... > > anggi utami <anggi.utami@ gmail.com> wrote: > Bapak, dan rekan 2x yang lain, terima kasih atas tanggapannya > > > > On 1/21/07, abdul basith <[EMAIL PROTECTED]> wrote: saya memang hampir rutin tiap 3 bulan sekali donor darah... > seneng lo bisa donor darah.. > > Aimee <anggi.utami @gmail.com> wrote: > Halo...senang sekali kalo rekan disini mau share > trims > ke [EMAIL PROTECTED]<bankdarahindonesia%40yahoogroups.com>atau via milis ini saja > tx > > > > > > --------------------------------- > TV dinner still cooling? > Check out "Tonight's Picks" on Yahoo! TV. > > > > > > > > > > > > > > > > > > --------------------------------- > Don't get soaked. Take a quick peak at the forecast > with theYahoo! Search weather shortcut. > > > > > > > > > > > > > --------------------------------- > Don't get soaked. Take a quick peak at the forecast > with theYahoo! Search weather shortcut. >

