FSTAJ 2007, Sebuah Festival Untuk Anak-Anak Jalanan
   
  Budaya bertutur di Indonesia sudah sejak lama dilakukan selama turun-temurun. 
Dalam penyampaian budaya bertutur ini ada banyak sekali pelajaran mengenai budi 
pekerti, tradisi, suri tauladan, pendidikan moral dan nilai-nilai 
kemasyarakatan yang dijunjung tinggi. Beberapa abad kemudian, budaya bertutur 
mulai berubah menjadi budaya baca tulis, karena masyarakat mulai mengganggap 
bahwa budaya bertutur makin lama makin hilang sedangkan membiasakan diri dengan 
budaya tulis akan membuat sebuah tulisan menjadi lebih bertahan lama dan lebih 
banyak bisa dibaca dan dipelajari masyarakat.
   
  Persoalan lain, ternyata budaya tulis yang dilakukan oleh masyarakat dibuat 
dalam bahasa setempat atau bahasa daerah. Dengan demikian, sejarah atau cerita 
rakyat hanya diketahui oleh masyarakat setempat saja. Padahal untuk dapat 
berempati dengan masyarakat daerah, kita bisa menelusuri keragaman budaya dan 
cerita rakyat yang mereka miliki. Untunglah saat ini sudah banyak dilakukan 
penerjemahan cerita rakyat dari bahasa daerah ke dalam bahasa Indonesia, 
sehingga budaya dan cerita rakyat dapat dinikmati oleh masyarakat Indonesia 
secara umum. Malahan saat ini, cerita rakyat sudah mulai dimasukkan ke dalam 
mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia karena salah satu tujuan dan fungsi 
mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia seperti yang tertera dalam Kurikulum 
2004, yaitu sebagai sarana pemahaman keberanekaragaman budaya Indonesia melalui 
khazanah kesusastraan Indonesia.
   
  Atas dasar pembelajaran keberanekaragaman budaya Indonesia itulah, Festival 
Seni dan Teknologi Anak Jalanan 2007 (FSTAJ 2007) yang akan diselenggarakan 
oleh KKS Melati bermaksud memperkenalkan khasanah cerita rakyat nusantara 
kepada anak jalanan dan masyarakat luas pada umumnya. ”Banyak pelajaran tentang 
budi pekerti, tradisi, suri tauladan, dan pendidikan moral di dalam cerita 
rakyat. Jadi bolehlah sekali-kali kita belajar tentang itu semua dari anak-anak 
jalanan, sekalian mengapresiasi penampilan mereka,” tegas R Novian 
Kurniawibawa, Project Officer FSTAJ 2007 ini.
   
  Sebanyak 21 rumah singgah di DKI Jakarta telah mengkonfirmasi kesediaan 
mereka untuk mengikuti Festival Seni dan Teknologi Anak Jalanan (FSTAJ) 2007 
yang akan digelar oleh Kelompok Kerja Sosial (KKS) melati.  Hari Minggu, 7 
Oktober 2007 mereka berkumpul di rumah melati untuk melakukan pengundian 
judul-judul cerita rakyat yang akan mereka tampilkan. Ada 21 judul cerita yang 
terpilih dari sekitar 45 judul cerita rakyat yang telah disiapkan.
   
  Cerita-cerita rakyat yang akan dipentaskan pada festival tersebut, 
diantaranya adalah: Si Pitung - Jakarta, Karang Bolong – Banten, Buaya Ajaib – 
Papua, Caadara – Papua, Danau Lipan – Kaltim, Tupai & Gabus – Kalbar, Telaga 
Bidadari – KalSel,  Danau Toba – SumUt, Pahit Lidah – Sumsel, Dayang Bandir – 
SuMut, Tadulako Bulili – Sulteng, Si Lancang – Riau, Telaga Warna – Jabar, 
Lutung Kasarung – Jabar, Aji Saka – JaTeng, Keong Mas – Jateng, Batu Golog – 
NTB, Sigarlaki dan Limbat – Sulut dan Rusa dan Kulomang – Maluku. 
   
  Uniknya, pada saat pengundian cerita rakyat yang akan mereka tampilkan, 
beberapa rumah singgah saling merekomendasikan rumah singgah lain yang belum 
terdata. Diharapkan akan ada lebih banyak rumah singgah lagi yang akan 
mengkonfirmasikan kesediaan mereka untuk ikut serta dalam festival ini.  Saat 
ini, mereka sedang menyelesaikan pengisian formulir pendaftaran dan pendataan 
rumah singgah lalu mengirimkannya kepada KKS melati. "Jaringan kerja sama KKS 
melati bertambah luas dengan hadirnya 21 rumah singgah ini", kata R Novian 
Kurniawibawa, Project Officer FSTAJ 2007, ketika dikonfirmasi. Saat ini KKS 
melati memiliki jaringan kerja sama dengan sembilan rumah singgah, sekolah anak 
jalanan, dan sekolah dhuafa.
   
  Pada kesempatan pengundian judul tampilan, beragam kendala tercuat dan 
menjadi bahan pemikiran utama bagi panitia penyelenggara. Bapak H Otong dari 
Rumah Singgah Kurnia Jakarta Timur menanyakan biaya transportasi dan makan 
siang untuk anak-anak didiknya pada hari FSTAJ 2007 berlangsung. "Soalnya agak 
sulit mencari biaya transportasinya, Bu", katanya.  Begitu banyak persoalan 
yang masih dihadapi oleh pengelola Rumah Singgah saat ini mulai dari sulitnya 
mendidik anak-anak rumah singgah untuk tidak lagi turun ke jalan, sulitnya 
mencari kegiatan sulitnya mendapatkan akses pendanaan operasional Rumah 
Singgah, dan lainnya. Hal ini merupakan tantangan bagi panitia FSTAJ 2007 untuk 
dapat memfasilitasi mereka semua.
   
  Tentu saja tidak semua Rumah Singgah mengalami kendala yang sama. Ketimpangan 
kondisi di antara rumah singgah yang ada di Jakarta sangat terasa dikarenakan 
perbedaan akses dan kesempatan mereka untuk mendapatkan pendanaan. Rumah 
Singgah yang memiliki akses  dekat kepada pendanaan atau mereka yang memiliki 
program mandiri untuk pendanaan operasional rumah singgah, biasanya memiliki 
dana operasional yang cukup lumayan, dibandingkan dengan mereka yang sedikit 
memiliki akses. Hal itu dibenarkan oleh Krisno dari Rumah Singgah dan Belajar 
Anak Jalanan Setia Kawan Raharja Jakarta Utara.  Itu sebabnya, para pengelola 
rumah singgah merasa bahwa kesempatan untuk saling bertemu diantara mereka 
dapat menjadi ajang saling bertukar pengalaman dan suka duka. Dengan demikian, 
mereka dapat mengembangkan pengelolaan rumah singgah mereka dengan lebih baik 
lagi. 
   
  Adanya Peraturan Daerah (Perda) tentang Ketertiban Umum yang melarang 
masyarakat memberikan uang kepada pengemis dan anak jalanan yang berkeliaran di 
perempatan lampu merah maupun pasar dinilai oleh para pengelola rumah singgah 
cukup meresahkan anak-anak didik mereka karena ruang ekspresi seni mereka 
menjadi terbelenggu. Memang diperlukan jalan keluar untuk membuat mereka 
mandiri dan lepas dari kehidupan jalanan. Bapak Sunato, pengelola Rumah Singgah 
Kinanti Jakarta Utara menyarankan agar kegiatan FSTAJ seperti ini dapat 
dilakukan setiap tahun sehingga kegiatan ekspresi seni anak jalanan dapat 
selalu dinikmati oleh masyarakat banyak.
   
  Tentu saja menarik melihat antusias mereka untuk saling "Unjuk Diri, Unjuk 
Gigi !" agar lebih banyak masyarakat yang mengetahui keberadaan mereka. Harapan 
senantiasa dicurahkan agar mereka dapat terbantu menjadi lebih mandiri dalam 
hidupnya dan  tidak perlu lagi turun ke jalan untuk mengekspresikan rasa seni 
dan kepiawaian berteknologi di jalanan.
   
  Festival Seni dan Teknologi Anak Jalanan 2007 yang akan digelar oleh KKS 
Melati pada tanggal 2 Desember di SMPN 71, Jakarta Timur adalah salah satu cara 
untuk mendekatkan akses dan kesempatan anak-anak jalanan agar dapat 
berkompetisi secara aktif dan positif dalam mengembangkan minat dan kemampuan 
mereka di bidang seni dan teknologi.Selain sebagai ajang mempromosikan kegiatan 
seni dan pembelajaran teknologi informasi yang dilakukan di rumah singgah, 
kegiatan ini juga ditujukan untuk mendorong anak-anak jalanan agar bernaung di 
rumah singgah.
   
  Kebijakan DKI Jakarta yang telah mengeluarkan Peraturan Daerah (Perda) 
tentang Ketertiban Umum yang melarang masyarakat memberikan uang kepada 
pengemis dan anak jalanan yang berkeliaran di perempatan lampu merah maupun 
pasar bukanlah sebuah solusi efektif untuk penanganan masalah anak-anak 
jalanan, karena hingga saat ini belum ada Perda yang dikeluarkan untuk  
memberikan pelatihan dan penanganan kepada anak jalanan. 
   
  Festival ini diharapkan bisa menjadi salah satu ajang unjuk diri dan unjuk 
gigi bagi anak-anak jalanan di rumah singgah dan diharapkan bibit-bibit unggul 
di bidang seni dan teknologi dapat bermunculan, karena anak-anak jalanan 
mendapatkan ruang ekspresi dan apresiasi serta mendapat perhatian dari 
pemerintah maupun audiens yang memiliki jaringan seni serta membuka kesempatan 
di lapangan pekerjaan.
   
  Selain kegiatan Festival Seni berupa perpaduan unsur tari, musik dan drama, 
dalam kegiatan ini juga akan diadakan Pameran Seni dan Teknologi yang 
menampilkan hasil karya seni dan teknologi yang dibuat oleh anak-anak jalanan 
dari 21 rumah singgah di DKI Jakarta.[RN] 
   
  Informasi Lebih Lanjut hubungi :
   
  KKS Melati
  Jl. Ampera II RT 005/09 No. 17A
  Jakarta Selatan 12550
  Email: [EMAIL PROTECTED]
  Website: www.kksmelati.org
   
  R. Novian Kurniawibawa (Project Officer)
  HP. 081310311221 
   
  Tiket pertunjukan Rp. 30.000,-
  Prima 08129405322 atau Diah 08128797258.
   
   



  Salam, 
~Vie 
http://virgina.multiply.com 
http://blog.360.yahoo.com/virghien 
http://kksmelati.multiply.com

 __________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

Kirim email ke