*Diperkirakan, 8 Desember Gelombang Pasang Lebih Besar* [JAKARTA] Gelombang air laut pasang, yang menenggelamkan wilayah Penjaringan, Jakarta Utara, diperkirakan masih akan terjadi hingga Desember 2007. Karena itu, warga diminta tetap waspada dan menghentikan kegiatan melaut untuk sementara waktu.
"Diperkirakan, gelombang pasang lebih besar yang dibarengi tiupan angin kencang sebesar 12 knot akan terjadi 8 Desember mendatang," kata Kepala Subdinas Penerapan Lingkungan dan Jawatan Hidrologi dan Oceanografi TNI AL, Dede Yuliadi, kepada wartawan di Jakarta, Selasa (27/11). Dia meminta agar agar warga tetap waspada dan menghentikan kegiatan melaut untuk sementara waktu."Air pasang yang akan melanda pesisir Jakarta pada Desember nanti, bakal lebih hebat dari sekarang. Sebab, waktu tersebut bertepatan dengan purnama dan pasang mati. Saat ini, air pasang hanya sekitar 1,2 meter, tetapi pada 8 Desember nanti bisa mencapai 2 meter," kata Dede. Dijelaskan, pada saat itu, air laut pasang yang terjadi merupakan yang terbesar sepanjang tahun ini. Gelombang pasang setinggi 1,3 meter dibarengi dengan tiupan angin sebesar 12 knot akan menambah parah wilayah yang terkena. Kondisi itu akan diperburuk dengan lingkungan sekitar yang tidak begitu baik, sehingga cencerung banjir makin besar aplagi drainase tidajk dipelihara dengan baik*. * Belum lagi dengan permukaan tanah di Jakarta yang terus mengalami kemerosotan sekitar sembilan milimeter per tahun. "Sekarang saja, banyak wilayah Jakut yang datarannya di bawah permukaan air laut. Jadi bisa dibayangkan, bagaiman hebatnya air laut pasang Desember nanti, yang bakal merendam pesisir Jakarta dalam beberapa hari. Kondisi sekarang saja sudah menimbulkan kerusakan yang parah," jelasnya. Sementara itu di tempat terpisah, Kepala Seksi Data Informasi Badan Meteorologi dan Geofisika Maritim Tanjung Priok, Sugarin menyatakan, air pasang akan terus terjadi sampai 29 November ini sehingga warga harus terus waspada. "Ketinggian air yang bakal terjadi sekitar 1,1 sampai 1,2 meter, terutama pada siang hari," tegas Sugarin kepada wartawan. Menurutnya, air pasang merupakan fenomena alam biasa akibat gravitasi bulan. Ketinggian air pasang yang terjadi sekarang dipengaruhi bulan purnama. "Saat ini, sedang purnama dan menurut perhitungan dalam kondisi pasang mati sehingga air pasang yang terjadi lebih tinggi," pungkasnya. Sementara itu, Direktur Eksekutif Walhi Jakarta, Selamet Daroyni mengatakan, peristiwa naiknya gelombang pasang di pesisir Jakarta Utara disebabkan perubahan iklim akibat pemanasan global. Kenaikan suhu panas di bumi, akan diikuti dengan kenaikan permukaan air laut. "Tapi hal ini, semakin diperparah oleh buruknya kualitas lingkungan hidup akibat reklamasi dan hilangnya hutan bakau (mangrove*)* di sepanjang Teluk Jakarta," kata Selamet. Dia mengatakan, hilangnya hutan mangrove tidak terlepas dari sikap pemerintah yang mengabaikan penyelamatan lingkungan di sekitar Teluk Jakarta. Hal itu, antara lain terlihat dari beralihnya fungsi hutan mangrove dan rawa di pesisir utara Jakarta menjadi kawasan permukiman mewah. Seperti diketahui, musibah masuknya air laut pasang di Jakarta Utara sejak Senin (26/11) pagi, membuat sekitar 8.000 warga dievakuasi ke tempat yang lebih tinggi. Derasnya arus air juga merobohkan delapan rumah di kawasan Muara Baru, Kecamatan Penjaringan. *Jalan Layang* Gelombang pasang yang melanda Jakarta Utara dan sekitarnya, bisa langsung berpengaruh pada ruas Tol Sedyatmo yang dari dan menuju Bandara Soekarno-Hatta. Untuk mengatasi banjir yang bisa menggenangi ruas jalan tol Bandara setiap kali terjadi air pasang, sebaiknya jalur jalan tol bandara itu diganti dengan jalan layang, khususnya di ruas yang berpotensi tergenang. "Kalau mahal itu sudah pasti. Tetapi coba kalau dibandingkan dengan kerugian yang dialami penumpang dan pihak penerbangan akibat banjir pasang seperti tadi malam? Jalan layang cukup di ruas yang potensial tergenang," kata Peneliti Geologi Teknik dari Puslit Geoteknologi LIPI, Dr Adrin Tohari yang dihubungi di Jakarta, Selasa. Menurut dia, banyak dari ruas jalan tol bandara tersebut berada di bawah permukaan rawa, sehingga jika air rawa meluap tentu saja jalan tol akan tergenang. Pasang maksimum mungkin menyebabkan jebolnya tanggul dan membuat air meluap. "Untuk jangka panjang jalan layang memang paling efektif. Pondasinya bisa menggunakan pondasi dalam atau pondasi tiang bor yang harus menembus tanah keras di bawah endapan rawa," katanya. Alternatif lain, lanjut dia, harus banyak dibangun tanggul yang kuat dan tinggi, waduk penampungan atau drainase bawah tanah untuk mengalirkan air pasang tersebut kembali ke laut. Sedangkan untuk jangka pendek, karena genangan air tersebut lebih disebabkan faktor alam dan teknis, menurut dia, biarkan saja surut secara alami, namun di sisi lain juga harus ada jalur atau cara alternatif untuk mencapai bandara. Ditanya soal penggunaan pompa, menurut dia, pemompaan memang bisa dilakukan untuk menurunkan genangan air dengan mengerahkan sejumlah pompa berkemampuan besar seperti yang digunakan untuk membuang lumpur Sidoarjo, tapi masalahnya mau dibuang ke mana air tersebut sementara sedang terjadi pasang. Sementara itu, Peneliti pada Pusat Pemanfaatan Sains Antariksa Lapan Dr Thomas Djamaluddin mengatakan, posisi bulan saat ini baru saja melewati purnama dan masih berpotensi menyebabkan pasang tinggi. [HBS/Ant/J-9/N-6] -- Life for Success Regards, HENDRY RISJAWAN - YC0LKJ Mind Motivator & Trainer

