Great thought... ________________________________
From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of [EMAIL PROTECTED] Sent: Thursday, March 13, 2008 7:34 AM To: [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [email protected]; Hari ANANTO; Asduki KJP; Masduki KPC; Wijaya NINGRUM; Marah YAKIN; Ikhwan BUKHORI; Husni FREEPORT; Alisa SIREGAR; Dirgantara BAYU; Cahya BILLTONI; Agus SYARIF; Errik Romando ROZAS; Ector PRSETYO; Wulan MGM; Muhamad HIDAYAT; Teguh SUPRIYADI; Bulan SARI; Berrendina Mattarru; Yesiawan ADI; Sholahudin GHOZALI; Setyo HARYONO; Agus HERDIYANTO; Budi SETIAWAN; Heru SUPRIYANTO Subject: [SOS_ex_Reunion] Occupational Health Service Dear All, Mungkin kita saat ini merasa bangga bahwa kita bekerja di perusahaan yang mampu menyewa atau meng-outsourcing pelayanan kesja kepada vendor yang bertaraf 'international' yang siap-sedia anytime-anywhere dalam hal emergency servicenya... Atau mungkin merasa cukup bahwa pelayanan kesja kita melakukan pengobatan / perawatan, atau bahkan bangga karena klinik rawat inap perusahaan memiliki BOR yang tinggi... Tetapi pernahkah kita terbayang, bahwa pelayanan emergency, pengobatan, perawatan, dan BOR yang tinggi adalah 'loss' sebagaimana property damage cost akibat kecelakaan? Bahwa absensi sakit itu sama halnya dengan severity rate akibat kecelakaan LTI? Mungkin kita menganggap bahwa upaya preventif dan promotif yang berfokus pada pengukuran kebisingan, iklim kerja, atau getaran sudah cukup disebut sebagai upaya kesehatan kerja. Sehingga kalaulah sakit karena tertular flu di rumah, atau terkena hepatitis B di lokalisasi adalah hal yang bukan 'core business' kesehatan kerja. Namun, pernahkan terbayang betapa banyak cost yang keluar untuk pengobatan / perawatan kesehatan non occupational illness? Pernahkah kita bandingkan dengan property damage anda? Atau bandingkan dengan kompensasi yang tidak terklaim jamsostek atas PAK/PAHK? Mungkin juga akan mengatakan saya ini sedang 'ngedumel' sendiri karena memimpikan suatu pelayanan kesehatan yang diawaki oleh paramedis dan dokter yang lebih sibuk berkeliling camp dan tempat kerja untuk melakukan walktrough survey, atau keliling lingkungan untuk memastikan sanitasi lingkungan, melakukan konseling terhadap karyawan yang bermasalah di kesehatannya, supaya berperilaku hidup bersih dan sehat. Mungkin juga akan mengatakan saya ini sedang mimpi di siang hari bolong... Yah mungkin sedang ngedumel, karena semua perusahaan yang mengaku 'pelayanan kesehatan kerja' ternyata tidak paham konsep 'workers health for all 2010' nya WHO / ILO. Yah mungkin sedang ngedumel, karena semua perusahaan yang mengaku 'pelayanan kesehatan kerja' ternyata dokter dan perawatnya nggak paham konsep pelayanan kesehatan yang komprehensif, yang lebih senang duduk-duduk di klinik nunggu 'puskesmas' (pusing keseleo masuk angin), daripada harus membuat hazard observation atau critical task inventory.... Yah mungkin juga sedang mimpi di siang hari bolong, sebagaimana WHO / ILO memimpikan hal yang sama dengan saya... At least I am not the only one... Cheers, -------------------------------------------------------- This message (including any attachments) is only for the use of the person(s) for whom it is intended. It may contain Mattel confidential, proprietary and/or trade secret information. If you are not the intended recipient, you should not copy, distribute or use this information for any purpose, and you should delete this message and inform the sender immediately.
<<ATT3002057.jpg>>

