*Lagi... dari milis sebelah,
Tambahan referensi buat temen2 semua!!!

Regards,
Topanix
Bali*

---------- Forwarded message ----------
From: Richard Susilo <[EMAIL PROTECTED]>
Date: 2008/9/3
Subject: [DOKTER] Obat ARV Diberikan Dini
To: [EMAIL PROTECTED]


  Obat ARV Diberikan Dini
Meningkatkan Kemampuan Bertahan Hidup
Kamis, 4 September 2008 | 01:22 WIB

Jakarta, Kompas - Pengobatan antiretroviral atau ARV bagi pasien yang
terinfeksi HIV sebaiknya diberikan lebih dini, yaitu saat CD4―jumlah
limfosit yang melindungi tubuh dari infeksi―kurang dari 350. Hal ini
bertujuan agar pasien lebih mampu bertahan hidup dan terhindar dari infeksi
oportunistik.

Ketua Masyarakat Peduli AIDS Indonesia, Prof Zubairi Djoerban, Rabu (3/9),
di Jakarta, menyatakan, infeksi HIV harus bisa dideteksi lebih dini.

"Saat ini, sebagian besar pasien baru datang berobat ketika sudah
terserang infeksi oportunistik dengan CD4 kurang dari 100, bahkan banyak
yang CD4-nya kurang dari 20," ujarnya.

Sebelumnya, obat ARV baru diberikan kepada pasien yang CD4-nya kurang dari
200 atau kondisi kesehatan orang yang terinfeksi HIV sudah parah. Sebab ada
kekhawatiran pemberian obat ARV lebih dini menimbulkan efek samping yang
bisa memperburuk kondisi kesehatan, bahkan dapat mengancam jiwanya.

Dalam panduan baru pengobatan HIV dari WHO tahun 2006, pasien yang CD4-nya
kurang dari 350 sudah bisa diobati dengan ARV. Jadi, pengobatan diberikan
saat pasien belum menderita infeksi oportunistik. Panduan ini telah
diterapkan di banyak negara di dunia, termasuk negara-negara berkembang.

Hasil penelitian di Perancis menunjukkan, jika pasien yang terinfeksi HIV
diberi obat ARV saat CD4-nya kurang dari 350, pasien lebih cepat meningkat
CD4-nya hingga di atas 500. Jika CD4 pasien bisa bertahan di atas 500
selama lebih dari lima tahun, kemampuannya bertahan hidup hampir sama
dengan orang yang tidak terinfeksi HIV.

Di sejumlah negara maju seperti Amerika Serikat, obat ARV diberikan kepada
pasien saat CD4-nya lebih dari 350 dengan beberapa syarat, seperti
persentase CD4-nya kurang dari 17 persen dan tak ada gangguan ginjal.
Bahkan ada negara merekomendasikan pemberian obat saat CD4-nya lebih dari
600 agar bisa meningkatkan kekebalan tubuh.

"Ada kecenderungan ARV diberikan lebih dini. Setidaknya, Indonesia bisa
mengadopsi panduan baru WHO. Ini perlu disosialisasikan pada para petugas
yang menangani pasien terinfeksi HIV," kata Zubairi.

Perubahan manajemen penatalaksanaan HIV ini perlu diikuti dengan perubahan
kebijakan pemeriksaan HIV. Jika tes HIV hanya dilakukan atas keinginan
pasien seperti selama ini, sebagian besar pasien baru akan mendapat terapi
obat ARV saat CD4-nya sudah sangat rendah.

"Perlu ada perubahan kebijakan terkait tes HIV. Sebaiknya tes HIV
dilakukan atas inisiatif penyedia layanan kesehatan dengan tetap menjaga
kerahasiaan pasien dan menghindari stigmatisasi," ujar Zubairi. (EVY)
-------
Sekolah bahasa Jepang http://PandanCollege.com/ 0361-255-225/
.

 

Kirim email ke