Assalamualaikum..
saya hanya sekedar berbagi pengalaman sebagai orang awam...
pembahasan
masalah teknik-teknik mempertahankan jalan nafas (airway) sungguh
menarik dibahas karena berbeda sudut pandang antara rekan - rekan
paramedis dan orang awam yang terlatih, tetapi semua sama dalam prinsip
yaitu bagaimana membuat penderita bertahan hidup, mencegah kematian,
mencegah kecacatan serta menunjang penyembuhan.
saya pernah
menangani penderita patah tulang leher, waktu itu kejadiannya perestiwa
konser Band Gigi di UIN Jakarta tahun 2004 dimana banyak korban yang
berjatuhan tercatat 2 orang meninggal di Rumah Sakit, dan salah satu
korbannya saya yang menangani. korban tidak respon mengalami patah
tulang leher, pendarahan di kepala disebabkan tertimpa pecahan canopy
berserta orang - orang (penonton yang duduk di canopy ketinggian 20
meter) yang menyertainya. penanganan yang saya lakukan adalah tindakan
airway dengan teknik TDAD (HTCL) karena kondisi sulit untuk jaw
thurst.. saya menyadari bahwa tindakan saya beresiko tetapi selama
perjalanan ke rumah sakit untuk mempertahankan kepala korban saya
menggunakan jaw thurst dan tetap memeriksa nafas dengan nafas yang
masih ada terasa lemah dan denyut nadi lemah Alhamdulillah sampai rumah
sakit korban tetap ada nafas dan nadi dan bertahan selama 1 jam
walaupun korban meninggal dalam penanganan di rumah sakit.
saya
berfikir dengan tindakan saya dulu apakah salah ? karena saya orang
awam yang terpaksa menggunakan tindakan mempertahankan jalan nafas yang
tidak sesuai dengan kasus yang terjadi dengan menghindari kematian
korban dalam perjalanan menuju rumah sakit....
thanks
Agus Rama Dani
___________________________________________________________________________
Dapatkan nama yang Anda sukai!
Sekarang Anda dapat memiliki email di @ymail.com dan @rocketmail.com.
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/id/