PMI Bersama 44 Organisasi Berkoordinasi Tentang Paska Bencana Situ Gintung
 
 
Pasca terjadinya bencana banjir bandang yang melanda Situ Gintung (27/03) 2009 
yang memasuki hari ke 12, PMI bersama sekitar 44 organisasi yang terlibat dalam 
rehabilitasi  secara  psikososial terhadap para korban mengadakan rapat 
koordinasi yang akan menentukan langkah yang akan diambil berdasarkan fakta 
yang ada di lapangan dan penanganannya, di Gedung Markas Pusat PMI, Selasa 
(07/04) 2009.
 
Pertemuan kali ini merupakan lanjutan dari dua pertemuan sebelumnya yang telah 
dilakukan di Departemen Kesehatan dan di Universitas Indonesia yang dilakukan 
oleh 15 organisasi yang menghasilkan wadah yang bernama Forum Kawan. Selain 
itu, dari dua pertemuan awal telah menghasilkan 3 kesepakatan yaitu : setiap 
lembaga yang hadir akan berada di bawah naungan ‘Forum Kawan’, kedua PMI akan 
menjadi leader dari setiap organisasi yang terlibat dan terakhir disusun 
mapping atau peta kekuatan dari setiap organisasi tentang apa yang sudah 
dilakukan dan apa yang akan dilakukan selanjutnya.
 
Menurut Leo Pattiasina,  Kepala Sub. Bidang Program PSP (Psychosocial Support 
Program) menjelaskan, “sebenarnya dua pertemuan awal yang telah dilakukan masih 
membutuhkan satu naungan lagi yang jelas, seperti semua organisasi yang 
terlibat akan berada dalam naungan Depkes (Departemen Kesehatan), karena PSP 
hanyalah merupakan satu sektor saja, dengan pertemuan ini kita jadi tahu apa 
tugas masing-masing dan jelas mapping-nya agar jangan sendiri-sendiri 
menunjukkan eksistensinya,” jelasnya.
 
Sedangkan menurut Dr. Fuad Pahlevi, Kordinator Lapangan Operasi Tanggap Darurat 
PMI untuk Bencana Situ Gintung, lebih menekankan perlunya kerjasama antar 
setiap organisasi, agar jangan membuat pengungsi yang berada di bawah tekanan 
menjadi bosan dan muak akan akan adanya assessment terus menerus dari setiap 
oarganisasi, "saya harap teman-teman yang hadir hari ini dapat meyelesaikan 
persoalan-persoalan yang muncul paska terjadi bencana ini, karena menurut 
pengamatan saya di lapangan masih banyak terjadi overlapping serta tumpang 
tindih dalam hal bantuan sampai pemberian bantuan secara psikologis kepada para 
warga korban bencana", terangnya.
 
"Bayangkan dalam satu hari ada anak yang harus mendapatkan bimbingan atau 
hiburan yang dilakukan dari teman-teman organisasi sebanyak 7 kali, saya yakin 
itu akan membuat mereka merasa lelah dan yang pasti akan bosan sekali dengan 
apa yang dilakukan", tambahnya. 
 
Perlunya koordinasi yang jelas di antara setiap organisasi ini memang 
diperlukan, karena masih banyak korban pengungsian yang tercerai-berai dan 
tidak terkonsentrasi di satu tempat, ini juga harus menjadi perhatian bagi 
setiap organisasi yang terlibat untuk selalu berkoordinasi agar apa yang 
dilakukan tidak tumpang tindih dengan organisasi lain. Selain itu koordinasi 
akan memudahkan mendata jumlah keluarga yang menjadi sasaran bantuan, karena 
banyak data yang masih simpang siur dan banyak warga korban bencana yang tidak 
tinggal di pengungsian melainkan di tetangga mereka.
 
Dalam menyikapi permasalahan ditribusi bantuan yang akan disalurkan, PMI 
renacana nya akan  memberlakukan KKB (Kartu Keluarga Bencana) karena nantinya 
penyaluran bantuan yang dilakukan tepat sasaran, karena ada kasus tentang 
kenaikan jumlah keluarga korban sewaktu adanya pembagian dana yang dilakukan 
oleh pemerintah daerah, dari sekitar 241 Keluarga menjadi membengkak hingga 
menjadi 295 keluarga. 
 
Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi : Dr. Fuad Pahlevi, Koordinator 
Lapangan Operasi tanggap Darurat PMI untuk Bencana Situ Gintung, HP.0812 875 
6756, Leo Pattiasina, Kepala Sub. Bidang PSP, Markas Pusat PMI, Telp. 021-799 
2325 Ext.204, Kontak Media:  Anggun Permana Sidiq, HP. 0856 97777 313
 DIVISI KOMUNIKASI
MARKAS PUSAT
PALANG MERAH INDONESIA 


Telp : +62 21 799 2325, ext 201
Fax : +62 21 799 5188
email : [email protected]
Web : http://pmi.org 




      

Kirim email ke