----------------------------------------------------------
Unsubscribe?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED]
with body mail: "signoff indonews"
need more help?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED]
with body mail: "info refcard"
----------------------------------------------------------
KOLOM SUPANGKAT:
INDONESIA BUKA "PANDORA BOX" TIMTIM: KEMERDEKAAN
Tanpa disengaja, Indonesia telah membuka "Pandora Box" Timtim: kemerdekaan
justru pada saat perundingan Tripartit Indonesia-Portugal-PBB sedang
dilangsung-
kan guna merampungkan usulan Sekjen Kofi Annan untuk Otonomi.
Timing buruk, gagasan buruk bisa semakin terpuruk.
Mengapa ancaman politik mutung justru dicetuskan pada saat perundingan
Tripartit yang menurut Jamsheed Marker sudah hampir rampung? Terobosan
Kofi Annan untuk menyodorkan di meja perundingan Otonomi luas telah dite-
rima dengan baik oleh kedua delegasi dan dalam proses penuntasan masalah
masalah kecil. Baik Indonesia maupun Portugal mendapat keuntungan, demi-
kian juga PBB dan rakyat Timtim sendiri baik yang pro-integrasi maupun yang
pro-kemerdekaan.
Yang terisolasi oleh perundingan Tripartit tahap substansial ini justru Ramos
Horta, bebuyutan Indonesia namun telah menarik keuntungan sebesar besar-
nya dari euphoria yang keluar dari kotak Pandora.
Pihak Indonesia seharusnya sadar betul apa isi kotak Pandora ini, yaitu kemer-
dekaan yang seharusnya tidak dibuka karena justru merupakan tujuan terakhir
golongan anti-integrasi umumnya dan Ramos Horta khususnya.
Preokupasi dengan anti-referendum, Indonesia secara tak sadar membuka ko-
tak terkutuk itu sehingga mungkin bisa negasi gagasan Otonomi yang sudah
diterima oleh kedua pihak sedangkan pihak anti-integrasi dan pro-referendum
sudah "acquiesce" (rela, pasrah) menerimanya.
Indonesia telah mensabot kepentingan politiknya sendiri gara gara preokupasi
jalan pikirannya dengan anti-referendum yang hanya merupakan tahap terakhir
kearah kemerdekaan. Malah kita loncati dan langsung menjerumuskan diri ke-
dalam isyu kemerdekaan dengan ancaman politik mutungnya.
Janganlah menyalahkan golongan pro-kemerdekaan Timtim yang tadinya sudah
acquiesce, kecuali Ramos Horta dkk yang mempunyai garis keras yang secara
a priori menolak gagasan lain kecuali referendum. Sekarang malah kita lebih
"progresif" daripada Ramos Horta yang menuntut referendum untuk kemerdeka-
an dengan langsung melangkahi referendum masuk kedalam masalah kemerde-
kaan.
Akibatnya maka kita memasuki era baru of "point of no return" di mana rakyat
yang pro-kemerdekaan sudah keranjingan politik mutung kita sedangkan rakyat
yang pro-integrasi malah menjadi ketakutan dan minta bantuan senjata dari
Jakarta, suatu pintu gerbang ke arah perang saudara.
Sejumlah delegasi PBB pun termakan oleh politik mutung kita dan mulai meng-
gunjingkan Timtim sebagai "calon anggota baru" PBB. Afrika Selatan bergairah
sekali melihat kemerdekaan Timtim, demikian pula Brazil dan Afrika umumnya
dalam Dewan Keamanan sekarang ini.
Mengapa ahli pikir politik luar negeri Indonesia sampai terjebak oleh
perangkap-
nya sendiri, membuka kotak Pandora yang mengerikan hanya karena preokupasi
referendum-phobianya?
Apakah karena "hakkulyakin" bahwa kita akan kalah mutlak dalam referendum
oleh Ramos Horta lalu "coute que coute" mendobrak referendum dan langsung
masuk kewilayah "point of no return": politik mutung ancaman kemerdekaan
tanpa referendum?
Apakah Kofi Annan bisa menyelamatkan Indonesia dari point of no return?
Oh, poor Indonesia, poor foreign policy makers, Lordie, have mercy on them!
H.S. Hidayat Supangkat
PBB New York.
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 2 Feb 1999 jam 13:02:55 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++