----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
and click banner our sponsor
----------------------------------------------------------
From: Azwir Azis
Tanggapan : MENGAPA GUS DUR, AMIEN RAIS, MEGAWATI, DAN LAIN-LAIN
LEBIH TAKUT TERHADAP RADIKALISME DIBANDING DENGAN MILITERISME ?
Oleh : Azwir, Rakyat biasa.
Ternyata masih ada juga orang yang punya rasa curiga demikian besar terhadap
tokoh-tokoh reformasi kita. Dengan panjang lebar Sdri Lani berbicara
mengenai
ketakutan tokoh-tokoh reformasi akan 'tidak kebagian lahan kekuasaan' dimasa
yang penuh hiruk-pikuk ini.
Saya cuma mau bertanya kepada Sdri Lani dan juga Saudara-saudara sebangsa
yang masih mau menimbang dengan hati yang jernih. Jika jalur pemaksaan
kehendak sebagian golongan yang menamakan dirinya "mewakili rakyat secara
keseluruhan" untuk membentuk Komite Rakyat Indonesia (KRI), siapakah yang
dapat menjamin
bahwa KRI tersebut adalah yang amat sangat demokratis jika dibandingkan
dengan
proses pembentukan DPR dan MPR yang akan kita jalani yang merupakan proses
lanjutan dari Pemilu '99 di era reformasi ini?
Apakah tidak mungkin jika tidak semua rakyat Indonesia mendukung pembentukan
KRI?
Apakah tidak mungkin KRI justru disusupi oleh pihak-pihak yang ingin
mengambil kue keikutsertaan dalam penentuan arah negara kepada yang mereka
inginkan?
Apakah tidak mungkin sejumlah golongan yang saat ini bersatu untuk
mewujudkan KRI akhirnya tidak akan gontok-gontokan sendiri?
Apakah tidak mungkin bila kegagalan yang ditemui akibat ketidakakomodatifan
KRI justru akan menimbulkan perpecahan yang lebih besar di masyarakat?
Terus terang saya ngeri menyerahkan masa depan saya, anak-anak saya,
cucu-cucu saya dan masa depan teman-teman saya ke tangan pembuat arah
kebijakan yang belum
jelas juntrungannya.
Tanggung jawab tersebut tidak hanya untuk hidup saat ini saja di dunia,
melainkan akan terbawa hingga hari peng-hisab-an di akhirat kelak.
Walaupun Pemilu 7 Juni 1999 masih beberapa bulan lagi, saya pikir masih
cukup waktu bagi kita untuk dapat menimbang secara jernih persoalan yang
tengah dihadapi oleh
bangsa kita ini.
Menyalurkan aspirasi dan ide kita tersebut dengan bertarung secara jantan,
sekali lagi, bertarung secara jantan pada Pemilu yang akan datang, dengan
tanpa rasa takut ide kita tidak
didengar oleh rakyat kita yang amat buanyak ini.
Jika dalam perolehan suara dalam Pemilu mendatang kita hanya mendapat secuil
suara, janganlah berkecil hati. Kita harus introspeksi diri, apakah yang
salah
dengan ide yang kita luncurkan, sehingga tidak banyak rakyat yang perduli
dengan ide kita tersebut.
Tokoh-tokoh reformasi kita masing-masing sudah membentuk partai dan
menyalurkan ide dan pemikirannya ke dalam partai yang didirikannya tersebut.
Sekarang
terserah rakyat untuk menilai sesuai tidak dengan hati nurani mereka. Kita
tidak boleh men-drive
mereka untuk menjatuhkan penilaian yang 'harus sama' dengan yang kita
inginkan.
Mudah-mudahan sumbangan pemikiran ini bermanfaat bagi kita semua, amin.
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 22 Dec 1998 jam 08:11:20 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++