---------------------------------------------------------- Visit Indonesia Daily News Online HomePage: http://www.indo-news.com/ and click banner our sponsor ---------------------------------------------------------- Senin, 21 Desember 1998 Jakarta (Bali Post) - Sekjen Barisan Nasional (Barnas) Rahmat Witoelar menganalisis, kehadiran Gus Dur ke Cendana merupakan puncak kemarahannya kepada Soeharto. Selama ini, sepanjang pengamatan Gus Dur, Soeharto masih bermain-main dengan kekuatan yang dia miliki. ''Makanya Gus Dur mendatangi, lalu memberi warning -- peringatan dan mengingatkan -- agar Soeharto tidak neko-neko,'' ujar Rahmat di Jakarta, Minggu (20/12) kemarin. Pengamatan Gus Dur terhadap perilaku Soeharto berlangsung lama. Pemimpin karismatik itu menilai Soeharto masih memanfaatkan pengaruh masa lalu, untuk menghambat proses peradilan dirinya. Sikap ini menjadikan situasi kebangsaan makin mudah memanas. Akibatnya kekisruhan gampang terjadi. Pada awal-awalnya, kata Rahmat, Gus Dur mencoba sabar. Namun perkembangan selanjutnya, tindakan Soeharto makin menjadi-jadi. Trik penghambatan peradilan makin dia kembangkan. Hal tersebut pada hari-hari terakhir membuat Gus Dur kehilangan kesabaran. ''Untuk itu, Gus Dur mendatangi langsung Soeharto ke Cendana. Dia sudah tidak sabar dengan tingkah Soeharto,'' tandas Rahmat. Apa manfaat peringatan dari Gus Dur itu? Rahmat mengatakan, hal tersebut dapat mempercepat proses hukum Soeharto. Peringatan itu bisa menyentuh moralitas pihak-pihak yang selama ini mengurusi masalah Soeharto, khususnya Soeharto sendiri. Di sisi lain, peringatan dari Gus Dur juga memberikan kesejukan bagi suara-suara jalanan, terutama suara mahasiswa. ''Mahasiswa selalu getol menuntut Soeharto segera diadili. Nah, Gus Dur sendiri datang ke Cendana untuk menyentuh moral Soeharto agar tidak menghambat proses hukum,'' papar Rahmat. Di pihak lain, pertemuan Gus Dur-Soeharto membuat politisi ICMI kelabakan. Titik pusat politik yang mereka buru selama ini sudah terpegang Gus Dur. Artinya, politisi ICMI kehilangan kesempatan mendominasi konstelasi politik nasional. Demikian analisis pakar politik LIPI Dr. M. AS Hikam di Jakarta, Minggu kemarin. Sejak Gus Dur bertemu Soeharto, kata Hikam, sejak itu pula inisiatif politis di tingkat elite berada di tangan Gus Dur. Sebelumnya, ICMI juga berniat melakukan hal serupa. Kelompok ini bergerak melalui tangan-tangan Ahmad Tirto Sudiro, AA Baramuli, Amien Rais dan Adi Sasono. ''Ketika tiba-tiba inisiatif itu memihak ke Gus Dur, maka jelas-jelas kelompok ICMI kehilangan kesempatan. Saat ini, satu-satunya cara mereka menghambat inisiatif Gus Dur, adalah menekan Habibie. Mereka minta Habibie -- yang mereka anggap ujung tombak ICMI -- menolak semua gagasan yang muncul dari pembicaraan Soeharto-Gus Dur, termasuk ide dialog nasional,'' papar Hikam. Namun ironisnya, kredibilitas secara nasional, kini sedang teruji. Jika dia keliru menafsirkan makna pertemuan Gus Dur-Soeharto atau salah menganalisis gagasan dialog nasional, kualitas kepemimpinannya bakal dipertanyakan. Publik politik, kata Hikam, akan mengkaji seberapa jauh kemandirian Habibie dari tekanan ICMI. Bagi Habibie sendiri, kemandirian itu berkait langsung dengan karier politik pribadinya. Makin tidak mandiri, karier politik Habibie makin disorot.*** ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 22 Dec 1998 jam 08:12:11 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
