----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
and click banner our sponsor
----------------------------------------------------------

From: mat bingung
Kesulitan bangsa Indonesia untuk menerima kemajuan dapat disebabkan
oleh beberapa hal (ini menurut alam pikiran saya lho) :

1. Sifat paternalistik masyarakat.

Sikap paternalistik orang Indonesia sangat berpengaruh terrhadap kemam-
puan untuk menerima BUDAYA LAIN. Sikap ini didasari oleh sifat feodal
yang dianut masyarakat dan menerapkan dalam iklim yang tidak pas.
Umumnya masyarakat sangat tunduk akan "sabda" dari sang pemimpin se-
perti Raja-raja, para ulama (ustadz), atau orang yang memiliki penga-
ruh (opinion leaser).

Memang sifat paternalistik ini tidak seluruhmuya jelek. Kesemua itu
tergantung paada NAWAITU sang pemimpin untuk membawa masyarakat kepada
suatu pola tertentu.
Bisa saja masyarakat dibawa kearah MILITAN (pejah gesang nderek .....).
atau bisa saja dibuat "melempem" dan pendek pikiran untuk menerima hal-
hal yang baru (kemajuan).
Hal tersebut terjadi mengingat "tingkat intelektual" masyarakat di In-
donesia masih pada taraf yang rendah

2. Gagal dalam mencerdaskan bangsa.

Pendidikan adalah suatu saran untuk mencerdaskan bangsa. Sehingga kemam
puan untuk berpikir logic sulit dicerna oleh masyarakat.
Contoh kegagalan yang terlihat sampai sekarang adalah. Begitu kentalnya
masyarakat dengan DUNIA MISTIK. Membuat masyarakat menyerah pada usaha
untuk memperbaiki diri dan lebih suka suatu kegagalan diterima sebagai
takdir Tuhan.
Para ulama/rohaniawan hanya membicarakan soal akherat atau kehidupan
setelah kematian, dengan iming-iming surga kepada para pengikutnya. Dan
menganjurkan ber-JIHAD  dengan segala cara dengan hadiah menjanjikan
Surga. tidak banyak ulama/rohaniawan yang menganjurkan menuntut ilmu
pengetahuan dunia yang dapat mencerdaskan masyarakat.
Seharusnya para ulama/rohaniawan mendorong semangat masyarakat untuk
untuk mempelajaran ilmu pengetahuan agar mereka mampu menghadapi tuntut-
an dunia sebagai ibadah mereka.

3. Terbelenggu pada arena Mistik.

Terbelenggunya masyarakat pada arena mistik tidak berhasil dibebaskan
oleh para ahli, pemuka agama dan tokoh masyarakat.
Ketakutan masyarakat tidak masuk surga, membuat masyarakat lebih ba-
nyak belajar dunia setelah kematian dibandingkan dengan belajar ilmu
pengetahuan secara tidak seimbang.
Kemajuan dunia hanya bisa dicapai kalau kita belajar iptek. Tetapi be-
lajar iptek tanpa didasari oleh ilmu budi pekerti dan agama membuat ma-
syarakat yang arogan. Oleh karena itu BELAJAR SAMBIL BERDO'A ADALAH
BAIK. TETAPI BERDO'A TANPA BELAJAR ADALAH MENDIKTE TUHAN.

Tuhan tidak akan merubah nasib manusia yang kerjanya hanya berdo'a
saja. Tuhan hanya akan memberikan berkat dan nasib baik hanya kepada
mereka yang mau berusaha. Tuhan tidak akan memberikan surga kepada
seseorang/kelompok/bangsa kalau kehidupan mereka didunia sengsara aki-
bat kebodohanya. Singkatnya Tuhan sangat membenci suatu kaum yang ti-
dak pernah memanfaatkan nikmat yang telah digelar didunia. Tuhan te-
lah memberikan Hutan, air, gunung, hewan, sinar matahari untuk kebaha-
giaan manusia.

4. Perbuatan pemimpin umat yang salah arah.

Perbuatan para pemimpin umat (pemerintah, Pemuka agama. Utadz, pastur
pendeta dll), banyak menjebak masyarakat pada menhalalkan cara untuk
mencapai kekuasaan.
Agama telah disimpangkan dari tujuan semula, Tidak sedikit kekisruhan
telah terjadi karena sentimen agama. Dimana seharusnya agama merupakan
suatu ajaran luhur yang mampu meredam sikap Militan menjadi Iman yang
kuat untuk menghargai sesama.
Sikap militan yang terjadi sampai saat ini, adalah merupakan kegagalan
pemuka agama dalam mendidik masyarakat untuk bisa menikmati dunia se-
cara utuh.

Himbauan :

Kepada para pemimpin politik, pemuka agama. Didiklah masyarakat untuk
belajar iptek dan agama secara seimbang. Pola orang-orang barat dalam
mencerdaskan kaumnya bisa dicontoh. Masyarakat mereka cerdas dan tidak
terbelenggu pada hal-hal mistik, tetapi keyakinan mereka terhadap aga-
ma tidak terkikis. Dan hasilnya mereka menjadi bangsa yang makmur ka-
rena mereka berusaha mengoptimalkan nikmat Tuhan yang tersedia.
Mereka tidak pernah terdengar menggunakan agama sebagai kendaraan po-
litik untuk mencapai kekuasaan.

Hindari pertikaian antar saudara sebangsa dan setanah air dari faham-
faham sekular dan sektarian. Berbicaralah untuk tanah air bukan untuk
golongan/kaum sendiri. Mayoritas bukan untuk diistimewakan dan minori-
tas bukan untuk dihimpit, atau sebaliknya minoritas bukan untuk beron-
tak menghadapi mayoritas.

Kenalkan masyarakat dengan iptek agar mereka tidak malas dalam beru-
saha. Tancapkan semangat untuk tidak menyerah pada "takdir".
Kemorosotan ahlak/budi pekerti yang kita sandang sampai hari pasti
bukan takdir/atau hukuman dari Tuhan. Tetapi lebi banyak disebabkan
oleh kebodohan.

==
Mat Bingung - pro reformasi damai, anti kekerasan

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 22 Dec 1998 jam 08:20:29 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke