---------------------------------------------------------- FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL: go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews. ---------------------------------------------------------- ADIKSI PINJAMAN ASING: JIWA BUDAK SISA KOLONIALISME Alangkah malunya saya menjadi bangsa Indonesia setelah mengamati betapa kita mengkhianati diri sebagai bangsa yang menunjukkan berjiwa budak sisa kolonialisme (inlander) dengan menunjukkan addiksi kepada pinjaman asing. Kita sudah kehilangan harga diri sebagai bangsa merdeka yang berdaulat. Tidak ada bangsa lain yang melarat sekalipun yang telah menunjukkan jiwa budak adiksi kepada pinjaman asing seperti Indonesia. Hutang luar negeri pemerintah dan swasta mungkin sudah mencapai US$200 milyar ditambah $40 milyar hutang baru IMF. Akibat Krismon rejim Suharto meminta bantuan IMF dan tidak ada "a single soul" di Indonesia yang me- nentang pinjaman baru ini walaupun diketahuinya hutang lama $150 milyar tidak bisa terbayar padahal sebagian besar telah diselewengkan melalui sis- tem KKN yang terkutuk. Kita semua tidak ada yang bersedia mencari alternatif lain kecuali pinjaman pinjaman asing yang praktis telah menggadaikan negara dan beberapa gene- rasi bangsa yad. Tidak ada yang bertanya mengapa pemerintahan tidak bisa dijalankan secara mandiri mencerminkan kedaulatan rakyat? Presiden Suharto, Presiden Habibie, birokrat dan konglomerat jahat (KKN), Golkar yang mendominasi DPR, MPR, Dwifungsi ABRI, semuanya mencer- minkan kerendahan harga diri bangsa, dan lebih buruk lagi hatinurani yang tidak bersih setelah menyadari bahwa hutang lama $150 milyar yang telah disalah gunakan itu belum terbayar kembali. Harga diri bangsa, hatinurani sudah dikebelakangkan oleh para pemimpin kita dan tidak ada sepotong orang Indonesia yang protes, kecuali anak anak kita mahasiswa yang ditindas terus sampai saat ini. Krisis kita bukan sekedar multidimensional, tapi sudah merebak keseluruh aspek secara "uncontrollable" (liar) justru pada saat moral mengalami kebe- jatan tak berampun. Sumber pinjaman asing sudah semakin langka, dana IMF dan World Bank dipe- rebutkan bangsa bangsa yang melarat yang memang sudah tidak punya alterna- tif lain seperti Russia, dll. Namun harus diakui pemerintah kita terlalu galak mengambil pinjaman asing yang belum tentu bisa dibayar kembali oleh "tujuh turunan" anak cucu kita. Alangkah terkutuknya kita menjadi nenek moyang yang menyengsarakan anak cucu sendiri! Di manakah hatinurani kita ini? Kalau pinjaman pinjaman yang US$200 milyar itu digunakan secara efisien, ju- jur dan adil untuk pembangunan bangsa dan negra, tidaklah merisaukan, namun buktinya pinjaman World Bank sampai 30% masuk kantung KKN, berapa persen- kan pinjaman IMF yang sudah dan akan masuk KKN, yang akan wasted karena mismanagement, kebocoran di jalanan, dll? H.S. Hidayat Supangkat New York. ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 23 Dec 1998 jam 07:29:09 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
