----------------------------------------------------------
Unsubscribe?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED]
with body mail: "signoff indonews"
need more help?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED]
with body mail: "info refcard"
----------------------------------------------------------
Precedence: bulk
NU KASIH DEADLINE 10 HARI SOAL BERAS JEPANG
JAKARTA (SiaR, 9/2/99), Soal beras bantuan Jepang kepada warga NU
sampai saat ini belum juga jelas kabarnya. Pimpinan Wilayah NU Jatim memberi
deadline 10 hari pada Kabulog untuk menyelesaiakannya. "Kalau tidak
selesai-selesai, kami akan mengambil tindakan sendiri," kata sumber SiaR
tanpa menyebut apa jenis tindakannya.
Bantuan pemerintah matahari terbit itu konon sudah sampai di
Indonesia dan dalam penyimpanan pihak Dolog Jatim. Namun anehnya, keberadaan
beras bantuan di Dolog Jatim tersebut tidak diakui kantor Bulog Jakarta.
Mereka sebaliknya mengatakan beras-beras itu belum datang ke Indonesia.
"Saya tidak tahu apa maksud mereka mempersulit prosedur pengambilan
sumbangan itu. Padahal warga nahdliyin sekarang benar-benar membutuhkannya,"
kata sumber.
Kesimpangsiuran keberaadaan beras bantuan Jepang untuk warga NU ini,
diakui oleh Hasyim Muzadi Ketua PWNU Jatim. Menurut informasi yang diperoleh
PWNU Jatim, Bulog Jatim telah mengakui bahwa beras-beras Jepang itu telah
mendarat dan sekarang ditampung di gudang Dolog. Namun ketika PWNU Jatim
mengurus pengambilan beras tersebut, pihak Dolog Jatim tidak bisa
mengeluarkan tanpa ijin dari Jakarta. Sebaliknya, kantor Bulog Jakarta
menegaskan beras-beras kiriman Jepang belum sampai di Indonesia.
Karena ruwet dan berbelit-belitnya proses pengambilan beras bantuan
Jepang itu, PWNU Jatim memberikan deadline 10 hari untuk penyelesaian. Tapi
jika dalam jangka waktu tersebut tidak juga selesai, maka pihaknya akan
mengirim surat ke presiden Habibie. Selain itu, PWNU Jatim juga akan segera
melakukan klarifikasi ke pihak pemberi bantuan, yaitu Jepang.
"Ini bukan semata-mata masalah beras. Tapi sudah menyangkut
martabat pemerintah di mata rakyat dan negara penyumbang," kata Hasyim.
Ternyata lambannya penyerahan bantuan pihak luar negeri ke warga
nahdliyin tidak hanya soal beras Jepang. Tetapi juga menyangkut soal bantuan
obat-obatan dari Singapura. Bantuan obat-obatan seberat 21,5 ton tersebut
hingga saat ini belum juga sampai ke warga NU Jatim, karena masih tertahan
di pelabuhan Tanjung Perak. Untuk bisa mengeluarkannya, pihak bea cukai
Tanjung Perak minta uang sebesar Rp 423 juta, yang konon sebagai pajak bea
masuk.
"Obat-obatan ini kan merupakan sumbangan dan diperuntukan untuk
masyarakan dengan gratis, oleh sebab itu kami akan kirim surat ke Dirjen
Pajak," tegas Hasyim Muzadi.
Penjegalan bantuan-bantuan luar negeri kepada NU tersebut disinyalir
oleh sejumlah kalangan merupakan langkah politik pemerintah Habibie untuk
membendung dukungan besar terhadap partai NU, yaitu PKB.
"Kalau bantuan itu jadi disalurkan oleh NU langsung, maka masyarkat
akan memandang rendah pemerintah dan memuji-muji NU yang bisa memberi makan
mereka. Kenyataan itu akan dipakai kampanye oleh tokoh-tokoh NU untuk
mendukung PKB. Kasarnya begitu," kata salah seorang pengamat.***
----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 10 Feb 1999 jam 05:48:43 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++