----------------------------------------------------------
Unsubscribe?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED]
with body mail: "signoff indonews"
need more help?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED]
with body mail: "info refcard"
----------------------------------------------------------

From: IZAAC TULALESSY

Ungkap Provokator Butuh Partisipasi Masyarakat

Untuk mengungkap provokator berbagai kerusuhan di Tanah Air yang marak
akhir-akhir ini tidak semata-mata tanggung jawab ABRI, namun memerlukan
partisipasi masyarakat sebagai realisasi dari pertahanan dan keamanan
semesta, yang mengacu pada pasal 30 UUD 1945.

"ABRI dalam sistem pertahanan keamanan semesta memang merupakan inti
yang berkewajiban berada di depan, di mana secara intensif akan berusaha
mengungkapkan provokator atau dalang berbagai aksi kerusuhan. Namun
partisipasi masyarakat sangat dibutuhkan, guna mempercepat prosesnya,"
kata Kasad Jenderal TNI Subagyo HS di Ambon, kemarin.

Penegasan Kasad itu, sekaligus menjawab berbagai permintaan tokoh
masyarakat dan pimpinan agama di Maluku yang disampaikan saat melakukan
tatap muka, yang dihadiri para perwira ABRI dan Keluarga Besar ABRI.

Jenderal Subagyo yang berada di Ambon bersama sejumlah perwira tinggi
(Pati) TNI-AD, termasuk Pangdam VII/Wirabuana, Mayjen TNI Suadi
Marasabessy, mengatakan, ABRI berkeinginan mengungkapkan para
provokator/dalang di balik berbagai kerusuhan.

Oleh karena itu, Kasad mengimbau masyarakat agar secepatnya, memberikan
laporan atau keterangan kepada aparat keamanan bila mencurigai adanya
kegiatan yang dilakukan orang-orang tertentu guna diambil langkah
pengamanan.

Lebih baik lagi, bila laporan atau keterangan itu dilengkapi bukti
sehingga proses pengungkapannya lebih cepat, katanya. "Dengan demikian
pengungkapan adanya provokator itu perlu dipecahkan bersama-sama antara
ABRI dan rakyat," katanya menambahkan.

Ditanya tentang maraknya aksi kerusuhan karena kepentingan elite
politik, ia menjelaskan, sejauh ini belum ditemukan bukti-buktinya, dan
hal itu perlu pembuktian secara intensif.

"Hanya saja perlu diingat bahwa tidak seorang pun di Indonesia ini yang
kebal hukum. Bila terbukti bersalah maka diproses sesuai prosedur hukum
yang berlaku," katanya.

Krisis berkepanjangan

Sementara itu, Kapolri Jenderal Pol Roesmanhadi menegaskan, timbulnya
kejahatan yang diwarnai penjarahan, pembunuhan, dan penganiayaan di
Tanah Air belakangan ini termasuk kerusuhan berdarah dan berbau SARA
seperti di Ambon disebabkan krisis moneter dan ekonomi yang
berkepanjangan.

"Aksi kekerasan berupa penjarahan, penganiayaan hingga pembunuhan
merupakan dampak krisis yang berkepanjangan sehingga untuk
mengantisipasinya sudah ada perintah dari pimpinan ABRI untuk menindak
tegas para perusuh," katanya dalam pengarahannya kepada Muspida, tokoh
agama dan tokoh masyarakat, di Ambon, Selasa malam.

Kapolri melakukan kunjungan empat jam di Ambon untuk melihat dari dekat
kerusuhan berbau SARA yang menelan korban 105 jiwa dan
memorak-porandakan ribuan rumah penduduk serta pasar dan rumah ibadah
dengan nilai kerugian mencapai Rp 500 miliar.

Dia mengatakan, kerusuhan Ambon merupakan rangkaian peristiwa di
Ketapang dan Kupang sehingga sangat sulit untuk membuktikan
provokatornya sebab yang ditangkap di lapangan hanya kaki tangannya.

"Namun masalah ini menjadi tantangan tersendiri buat polisi dalam
membuktikannya. Situasi ini juga diciptakan oleh pihak-pihak tertentu
sehingga yang menjadi korban sebenarnya adalah rakyat banyak," katanya
seraya menambahkan, tidak tertutup kemungkinan peristiwa di Ambon
terjadi pada daerah lain sehingga perlu diwaspadai.

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 10 Feb 1999 jam 09:19:23 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke