----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
and click banner our sponsor
----------------------------------------------------------

TIMOR TIMUR DAN EKONOMI KERAKYATAN

Penanganan dua masalah besar yang dihadapi negara kita belakangan ini
sangat bagus mengilustrasikan ketidakmampuan pemerintahan Habibie menangani
masalah.

TIMOR TIMOR MERDEKA

Kelihatannya akan sukar diharapkan tercapai suatu kesepakatan antara
delegasi RI dan Portugal mengenai nasib Timor Timur.Menlu Alatas menolak
diadakan suatu referendum,sedangkan dari pihak Portugal justru ini yang
diinginkan.Bagi Indonesia,masih menurut Ali Alatas,Timor Timur boleh
memilih antara memperoleh otonomi penuh atau merdeka.
Sejak gagasan ini dilemparkan oleh pemerintahan Habibie,banyak tanggapan
sudah dikemukakan lewat forum ini.
Masih menjadi pertanyaan besar apa yang sesungguhnya melatarbelakangi
keputusan ini.

Apakah karena Habibie sudah terlalu pusing dengan segala persoalan yang
timbul sejak dia memangku jabatan ini ?
Apakah karena propinsi termuda ini sudah terlalu mahal untuk dipertahankan
dan telah banyak memakan korban,baik dari rakyat maupun anggota ABRI ?
Apakah Timtim dikorbankan untuk mandi kosmetik diforum internasional image
HAM Indonesia yang sudah babak belur ?
Atau malah ada tujuan terselubung (hidden agenda) seperti yang sudah sering
dilakukannya selama ini ?

Apapun tujuan sesungguhnya dari langkah politik ini,Habibie dan para
anggota kabinetnya (termasuk para penasehatnya dari kelompok ICMI) sekali
lagi membuktikan diri sebagai murid-murid Suharto yang tulen.Sadar atau
tidak sadar,dia menerapkan prinsip:KALAU BUKAN TEMAN,ANDA ADALAH MUSUH SAYA!
Lihatlah betapa Suharto,dalam ketakutannya akan kebenaran sejarah,dengan
mati-matian menindas semua mereka yang ikut atau dicurigai ikut terlibat
dalam apa yang disebut Gestapu.Sampai-sampai anak cucu mereka yang belum
lahir saat terjadi revolusi itu juga ditekan habis-habisan ? Tiada maaf
bagimu ! Ini yang dia terapkan secara sangat konsekuen. Apakah ini bukan
mencerminkan suatu ketakutan berlebihan terhadap bayangan sendiri ?  Kenapa
demikian takut ?

APA ITU EKONOMI KERAKYATAN

Lalu saya renungkan kritik yang dilontarkan demikian banyak ekonom terhadap
apa yang disebut sebagai EKONOMI KERAKYATAN oleh arsiteknya bernama Adi
Sasono.Kembali pertanyaan yang mirip seperti diatas dapat kita majukan.

Apakah Adi dengan ICMInya sungguh-sungguh ingin membangun ekonomi negara
yang bertopang pada industri kecil dan menengah ?
Apakah Adi ingin membangun basis ekonomi yang kelihatannya memihak rakyat
agar bisa memperoleh simpati rakyat lebih banyak ?
Apakah ini dilakukan karena kenaifan yang besar,padahal sesungguhnya sama
sekali tidak mempunyai gambaran bagaimana sistem ini bisa berfungsi (mirip
dengan mimpi Habibie untuk terbang,US$ 2,5 milliar uang negara telah
dihamburkan lewat IPTN).
Apakah hanya ingin menunjukkan lain dari Orba yang banyak memberi fasilitas
kepada konglomerat ?
Apakah ada tujuan terselubung yang berbau diskriminasi dalam arti sangat
luas ?

KETIDAKMAMPUAN

Apapun tujuannya dari kedua keputusan diatas,yang pasti adalah
ketidakmampuan Habibie dan kelompoknya untuk menangani masalah dengan
obyektif.
Dengan menawarkan kemerdekaan kepada Timor Timur,Habibie mengharapkan
pujian dunia internasional.Ini suatu harapan yang prematur.Pelanggaran HAM
masih berjalan terus
dimana-mana.Pembunuhan,penculikan,penjarahan,penangkapan mahasiswa dan
banyak lagi dosa pemerintahan Habibie,masih terus berlangsung.Membersihkan
bercak satu tidak bisa menghilangkan citra badan yang kotor dan bau.

Masalah utama di Timor Timur dan propinsi lain bukannya merdeka atau
tidak.Masalahnya adalah dominasi pemerintah pusat selama Orba yang telah
sama sekali melecehkan hak rakyat setempat.Contoh terakhir dapat kita lihat
di Mempawah,ibukota Kabupaten Pontianak.Gedung DPRD dibakar rakyat yang
merasa bahwa Jakarta masih terus ingin mendiktekan kemauan kelompok
penguasa dalam menempatkan seorang bupati.Puluhan tahun putera daerah
diabaikan dan dijegal untuk menjadi bupati.Kita tidak perlu heran kalau ini
merupakan gejala yang akan dihadapi daerah lain pula.Putera daerah mulai
menuntut hak mengatur daerah mereka !
Ini inti permasalahannya.Dalam soal Timtim,Habibie sebenarnya mengakui
bahwa kita telah "menjajah" Timor Timur selama hampir seperempat
abad.Kebengisan ABRI terhadap rakyat disitu tidak bisa disangkal lagi.

Penjajah yang "baik" mempersiapkan suatu administrasi yang baik sebelum
penyerahan kedaulatan.Yang sekarang ingin dilakukan oleh Jakarta adalah
meninggalkan Timtim demikian saja,persis seperti yang dilakukan Belgia pada
permulaan tahun enampuluhan terhadap Kongo. Akibatnya,Perang Saudara
berkecamuk dan negara itu menjadi anjang perebutan antara beberapa
kekuasaan luar.Sampai hari ini pun Kongo (yang selama puluhan tahun
kemudian dijajah oleh diktator Mobutu) tetap menjadi amburadul dan
miskin.Atau memang ini yang diinginkan oleh kelompok Habibie bagi Timor
Timur ?

Kalau tawaran untuk memberi hak lebih besar kepada rakyat Timor Timur ini
jujur,mengapa Ali Alatas harus mengotot untuk tidak mau mengadakan
referendum ? Saya kira ini adalah suatu ketakutan pada bayangan jelek masa
lalu.Dengan referendum,kalau ternyata rakyat disana memilih merdeka,berarti
selama ini benar-benar mereka merasa telah DIJAJAH oleh Indonesia.Dengan
memberikan kemerdekaan secara proaktif,pemerintahan Habibie ingin
mendapatkan credit point sebagai PEMBERI KEMERDEKAAN dan bukan atas
permintaan atau tuntutan rakyat Timor Timur.Secara taktis memang suatu
pemikiran yang cukup brilian dari Dewi Fortuna Anwar,yang dikabarkan
sebagai otak dibelakang strategi ini.

Tapi,ini juga menjadi contoh dari cara penanganan masalah gaya burung
onta.Sembunyikan dulu sebisanya seolah-olah tidak ada masalah.Semua
dipendam,dikecilkan permasalahannya.Kalau akhirnya ternyata tidak bisa
diatasi,lalu bereaksi secara ekstrim:dari kiri langsung pindah ke
kanan.Jalur tengah tidak dikenal ! Burung onta kalau kepalanya sudah keluar
dari pasir dan melihat bahwa tempat itu sebenarnya kurang
disenangi,langsung lari.Bukannya coba berjalan secara biasa sambil melihat
kedepan mana tempat yang lebih cocok.

Dalam menangani ketimpangan pendistribusian kekayaan negara,penasehat utama
Habibie yaitu Adi Sasono melancarkan kampanye populer untuk merebut hati
rakyat.Sesungguhnya setelah Perang Dunia Kedua,semua partai atau negara
yang suka mengatasnamakan rakyat patut dicurigai.Lihatlah apa yang terjadi
dinegera-negara Blok Timur sebelum runtuhnya Uni Sovyet.Kebanyakan
negara-negara itu memakai nama Republik Demokrasi X atau Republik Rakyat
Y.Seolah-oleh rakyat yang berdaulat penuh disitu.Kenyataannya lain
sekali.Para pemimpin membentuk pemerintahan diktator proletar.Mereka hidup
serba berkecukupan dan malah bisa menyimpan duit di bank-bank
Swiss.Rakyatnya ? Sering sukar mencukupi kebutuhan primer.Ini fakta
sejarah.Yang masih bisa kita lihat sekarang ini sedang terjadi di Korea
Utara.Entah berapa banyak rakyat yang sudah mati kelaparan.

Jika Adi Sasono ingin membangun sistem ekonomi yang disebut Ekonomi
Kerakyatan,semestinya harus jelas dulu apa ukurannya.Membagi duit gaya
sinterklas sudah dilakukan Suharto dari waktu kewaktu.Dari konglomerat
diperas sebagian hasil KKN mereka dan disalurkan kepada pengusaha
lemah,katanya.Hasilnya ? Manusia yang diberi ikan terus tidak akan bisa
berkembang menjadi nelayan apalagi menjadi pengusaha ikan kaleng !
Suatu ekonomi yang hanya mengandalkan kekuatan satu kelompok dan
mengucilkan kelompok lain cuma menggali lubang kehancurannya
sendiri.Janganlah karena konglomerat yang dibesarkan Suharto telah banyak
menikmati kemajuan dimasa lalu ,sekarang dibalikkan sama sekali agar tidak
berperan lagi.Tiap usaha ekstrem dalam penanganan masalah hanya akan
menciptakan sukses semu dan sementara.Ekonomi yang kuat harus
mengikuterstakan seluruh potensi masyarakat.

BELUM KENAL KEBENARAN DAN KEADILAN

Saya sengaja mengambil dua contoh masalah yang kelihatannya tidak ada
kaitannya satu sama lain.Sesungguhnya ada,yaitu KETIDAKMAMPUAN PARA
PEMIMPIN FORMAL KITA MENANGANI MASALAH secara obyektif dan
terarah.Pendeknya asal kelihatan ada saja sudah bagus.
Pola yang sama telah diterapkan dalam menghadapi segala masalah lain.Ini
berarti pola pikir gaya Orba sudah sedemikian mengakar.Dan ini akan
merupakan tantangan berat sekali bagi pemimpin masa depan yang dipercayakan
rakyat untuk memimpin negara ini lewat Pemilu yang jujur dan adil.

Konsep penanganan masalah (issue management)secara terarah,konsisten dan
konsekuen rupanya sudah dianggap usang.Atau mungkin pula karena memang
tidak pernah dimengerti atau dikuasai.Ditanya oleh wartawan Taiwan mengenai
diskriminasi rasial di Indonesia,Habibie malah menuduh Singapura justru
yang rasialis dalam merekrut anggota Angkatan Bersenjata.Ini contoh
pengelakan masalah yang terlalu naif atau,sayang,mencerminkan suatu jiwa
yang belum matang sama sekali sebagai pemimpin yang berani menunjukkan
tanggung jawab.Pemimpin sejati berani meminta MAAF atas kesalahannya atau
kesalahan orang bawahannya,bukan mengelak atau melemparkan kepada orang
lain.Yang bertanya wartawan Taiwan,yang diserang malah Singapura.Kalau
bukan tanda bingung,saya tidak mengerti apa lagi namanya.Sungguh sesuai
dengan namanya.Habibie,oh Habibie !!

Dalam penanganan masalah Timor Timur dan Ekonomi Kerakyatan sama sekali
tidak tercermin kebenaran dan keadilan.Kedua kata ini masih tetap sangat
asing bagi Habibie dan para pemimpin formal kita.Bukan problem solving
tetapi problem shifting yang dilakukan.
Menyedihkan !

SUARA NURANI

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 12 Feb 1999 jam 10:07:32 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke