---------------------------------------------------------- Visit Indonesia Daily News Online HomePage: http://www.indo-news.com/ and click banner our sponsor ---------------------------------------------------------- SAPI RAKYAT KURANG MAHAL Oleh Tubagus P. Svarajati ---(KENDAL, 13/02) Pak Tarno, petani, termasuk sosok yang langka untuk ukuran dukuh Serang, kelurahan Tambahsari, kecamatan Limbangan, Kendal, Jawa Tengah. Ia kini mengaku berusia lebih dari 65 tahun. Katanya, ketika zaman Jepang ia telah remaja dan ikut romusha. Beristri dua. Dari istri pertama, telah meninggal, dia mendapat 4 anak dan semua telah berkeluarga. Istrinya yang terakhir memberikan 3 anak: seorang SMP kelas 2, seorang usia 3 tahun dan terkecil baru berusia 7 bulan. Punya beberapa petak sawah, tapi kecil-kecil saja. Itu semua didapat dari hasil kerja yang ulet. Istrinya tak segan membantu di ladang: mencangkul. Begitu pula tak malas ke sawah: tanam padi. Hasil panennya tak kurang dikonsumsi sekeluarga hingga panen berikut menjelang. Perkara beras, pokoknya, tak pernah kekurangan. Uang sisa panenan itu dibelikan sapi dan kambing. Ia pun masih sempat meng-'gaduh' kambing milik tetangga lain. Uang hasil menjual ternaknya dititipkan kepada seorang bakul/pedagang di kampungnya. Ketika butuh uang, barulah ia minta miliknya itu. Tapi malang, pedagang itu itu kini agak payah usahanya. Jadilah uang milik pak Tarno terjepit sekitar Rp 700 ribu pada sang pedagang desa. Baru saja ia menjual seekor sapinya seharga Rp 1,25 juta. Sapi itu dibelinya sekitar 6 bulan lalu seharga Rp 900 ribu. Artinya: pak Tarno 'untung' Rp 350 ribu. Keuntungan itu didapat dari hasil menggemukkan sapi selama 6 bulan. Dus, sebulan ia 'untung' sekitar Rp 57 ribu. Sehari kurang dari Rp 2 ribu. Dan setiap hari ia harus merumput satu 'bongkok', sekitar 40 kg, untuk sapinya itu. Tidakkah 'untung' sehari Rp 2 ribu hanya seharga 40 kg rumput? Bagaimana jadinya jika pak Tarno minta tolong tetangganya, karena ia sedang repot atau mungkin sakit, tentu ia harus keluar uang sebesar Rp 2 ribu juga bukan? Ini semua berarti: tenaga pak Tarno, ketika merumput, tidak dihitung. Rumput juga tak usah dihitung harganya, karena pak Tarno tidak membelinya. Jikalau Anda berangan menjadi peternak sungguhan, tentu rumput dan tenaga pekerja dihitung sebagai biaya bukan? Apakah Anda bisa mendapatkan profit dari usaha peternakan semacam ini? Sesungguhnya, harga sapi milik peternak desa itu terlalu murah untuk kita konsumsi. Selama ini, para peternak desa, seperti pak Tarno, telah memberikan subsidi yang berlebihan kepada orang kota: konsumen daging di perkotaan. Ini kebijaksanaan ekonomi yang timpang. Biarkan harga daging sapi di kota melambung dan biarkan pula peternak desa itu menikmatinya! Apakah tepat dan bijaksana Pemerintah hendak mengimpor daging kerbau murah dari India? Tidakkan ini makin membuat peternak desa makin terpuruk? Tapi, apakah benar daging kerbau India itu memang murah? Jangan-jangan, ini disubsidi oleh Pemerintah juga. Artinya: uang rakyat dipakai untuk memukul rakyat juga. (***) (*) Penulis ialah praktisi peternakan; tinggal di Semarang, Jawa Tengah. ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 16 Feb 1999 jam 09:06:49 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
