----------------------------------------------------------
Unsubscribe?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED]
with body mail: "signoff indonews"
need more help?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED]
with body mail: "info refcard"
----------------------------------------------------------

LEBIH LANJUT DENGAN REVOLUSI KULTUR
MENUJU KULTUR KESETARAAN (6)

Oleh : Ki Ageng Mangir

Revolusi Kultur suatu ide percepatan menuju Kultur
Kesetaraan.

Dalam tulisan-tulisan  terdahulu dalam  seri  tulisan ini
ada  beberapa butir-butir  kesimpulan yang  mendasari
pemikiran  bahwa  ide Revolusi Kultur bisa merupakan
suatu   alternatif   cara    percepatan   menuju    Kultur
Kesetaraan yang sebagai  suatu  pra-sarana   menuju
masyarakat   yang   adil  dan  makmur,  butir-butir  itu
adalah :

1. Secara     prinsip     peradaban      manusia     telah
mengalami perubahan, yang berarti  pada hakekatnya
manusia  (disadari  atau  tidak)  tidak  anti  perubahan
yang bisa diartikan bahwa prospek kerarah perubahan
dari kultur yang menjadi kelemahan bangsa Indonesia
saat ini menuju kultur yang lebih kondusif  (dalam  hal
ini kultur kesetaraan) untuk mencapai cita-cita bangsa
adalah   'dimungkinkan'.   Faktornya   dalam   hal   ini,
seberapa  sulit  untuk  dirubah,  seberapa  besar daya
yang  diperlukan   untuk  merubahnya,  dan  seberapa
jauh  perubahan  mendapat   dukungan   dari  anggota
masyarakat secara luas.
2. Perubahan     peradaban     manusia      mengalami
percepatan   yang  tidak  pernah  terjadi   sebelumnya
sejak terjadinya revolusi industri di  Eropa  pada  abad
ke 14/15. Lebih-lebih  lagi  pada   abad   ke   20  yang
disebutkan   oleh   Alvin   Toffler   sebagai   awal   dari
Gelombang   Ke   Tiga   -  Abad Informasi   -   dimana
kemajuan   tehnologi   informasi   dan  telekomunikasi
menjadi  pendukung  utama  perubahan  yang  sangat
cepat dan perubahan yang terjadi disuatu negara  bisa
mengakibatkan   pengaruh    berantai   secara  Global
terhadap negara2 yang lain. Jadi konsep  evolusi tidak
berlaku lagi pada saat ini, yang ada adalah perubahan
dengan cepat yang  berarti 'revolusi'.
3. Walaupun      secara      prinsip      perubahan    itu
dimungkinkan tetap ada faktor  'resistance  to  change'
atau 'hambatan untuk berubah' dari  kelemahan  kultur
saat  ini  (kultur  feodal, kultur budak, dan kultur hidup
santai) yang dalam hal bangsa Indonesia adalah :
- Yang  sifatnya  'kedalam'  yaitu  berupa  akar budaya
yang  terlalu  kuat  mengakar yang untuk merubahnya
diperliukan suatu daya dobrak yang luar biasa.
- Yang  sifatnya  'fisik  keluar'   yaitu   struktur  'vested
interest' yang sengaja menghambat perubahan karena
merasa   diuntungkan  dengan kondisi bangsa dengan
kultur  yang  ada  sekarang yang dengan sengaja  dan
segala daya upaya mempertahankan 'status quo'.
- Faktor   pendidikan   yang  kurang  merata  sehingga
terjadi   intelektual   gap   yang   terlalu    jauh   antara
pemimpin dan yang dipimpin.

Melihat parameter diatas jelas bukan hal yang mudah
untuk   melaksanakan   suatu   REVOLUSI   KULTUR
menuju  KULTUR  KESETARAAN walaupun dari segi
tuntutan zaman - arus  percepatan persaingan  Global
yang  tak mungkin dibendung - mengharuskan bangsa
Indonesia    untuk   melaksanakannya    kalau     ingin
mencapai masyarakat adil dan makmur dengan waktu
yang relatif lebih cepat.

Hubungan antara Revolusi Sosial dan Revolusi Kultur.

Seperti  yang  pernah  penulis  jelaskan dalam tulisan
terdahulu  bahwa  Bung  Karno   pernah   mengatakan
bahwa komunisme adalah anak kandung kapitalisme,
hal ini yang secara mudah bisa  menjelaskan  kenapa
revolusi sosial bisa terjadi  didalam suatu masyarakat
yaitu   apabila  kapitalisme   berkembang  sedemikian
rupa tanpa kendali (dan ini terjadi di Indonesia selama
32  tahun  pemerintahan  'orde  baru') sehingga terjadi
suatu gap yang terlalu jauh antara klas  pekerja/buruh
dengan   kaum   pemodal   dan   klas   pekerja / buruh
mendapat     tekanan   yang   terus   menerus   untuk
menerima   kondisi   kerja  yang   buruk    dan   kaum
pemodal    yang    medapat   dukungan    penuh   dari
penguasa  yang menggunakan alat keamanan / ABRI
sebagai  alat  penekan  secara   represif   apabila  ada
tuntutan    buruh    untuk   perbaikan   nasib   mereka.
Kehidupan yang diperlihatkan oleh kaum konglomerat
- yang    mewakili   kaum   kapitalis   -   beserta  para
pendukungnya  dari kalangan pejabat / penguasa baik
sipil  ataupun   militer - yang   juga  bersikap  sebagai
kapitalis  birokrat - yang  menguasai  kantong-kantong
daerah  mewah  di  perkotaan   yang   dengan  secara
kontras  sangat  menyolok  dengan  kehidupan rakyat
jelata  di  daerah kumuh yang berjarak hanya bilangan
meter  satu   sama  lain,  tanpa   orang   belajar  teori
komunisme-pun  dengan  mudah meramalkan adanya
kerawanan Revolusi  Sosial. Karena kesabaran rakyat
ada  batasnya, dimana rasa ke-tidak adilan perlakuan,
ketidak adilan memperoleh kesejahteraan  sosial yang
memadai,  dan  arogansi   kekuasan   dengan  mudah
akan  menjadi  pencetus  gelombang  anarki  Revolusi
Sosial. Jadi  Revolusi  Sosial  adalah  akibat langsung
dari  kemarahan  rakyat  terhadap kaum pemodal  dan
penindas  yang  menyebabkan   kondisi  ketimpangan
sosial  yang  pada  suatu  saat  tidak tertahankan lagi
oleh rakyat jelata. Bagi rakyat jelata dengan ikut serta
sebagai  'perusuh'   adalah  sikap  'nothing   to   loose'
karena  kalau  mereka   hidup   dengan  kondisi  yang
sangat    miskin,  harapan  maupun   kesulitan   hidup
bahkan  hanya   untuk  sekedar  'survive'  juga  sangat
berat, dengan  mengikuti  gerakan  'kerusuhan' adalah
sejumput harapan adanya suatu perubahan.

Bahwa  Revolusi  Sosial  juga   telah   terjadi  sebagai
pencetus Revolusi Kultur di negara-negara Eropa yaitu
dengan  diawali dengan Revolusi Perancis  pada  abad
17 sampai dengan Revolusi  Rusia  pada  abad  ke  19
yang membawa Eropa kepada peralihan Kultur Feodal
menjadi Kultur Kesetaraan Manusia.

Dalam  hal  Cina  juga  terjadi  Revolusi   Sosial   yang
menumbangkan 'monarchi' dan  menghapuskan sistim
feodal    tetapi  hal   ini    dianggap   kurang  memadai
sehingga   Partai   Komunis  Cina  menganggap  perlu
diadakan   lebih   lanjut  dengan  Revolusi  Kultur pada
tahun 1967 untuk lebih  lanjut  merombak  kultur  yang
negatif  dari  masyarakat Cina - dan Revolusi Kultur ini
juga  memberi  bekas  korban secara fisik yang cukup
besar.

Jadi   dari   uraian   diatas   bisa   disimpulkan  bahwa
Revolusi  Sosial  bisa  menjadi   titik   tolak  terjadinya
Revolusi  Kultur,  tapi  bukan  menjadi jaminan karena
Revolusi Sosial yang terjadi bisa saja  hanyalah  sikap
anarki dari pelampiasan kemarahan semata tanpa ada
suatu tujuan kearah perubahan Kultur.  Bahkan  dalam
pengalaman  pada  zaman   Belanda,   tekanan  sosial
telah  menimbulkan  secara  sporadis   revolusi  sosial
yang  selalu   bisa   diatasi   dengan   kekerasan  oleh
penjajah Belanda.

Gerakan   Revolusi   Sosial    baru    bisa   merupakan
gerakan   perubahan   Kultur   kalau  dilakukan secara
sadar   oleh   para   'elite  intelektual'   untuk  dijadikan
momentum perubahan kultur. Perubahan secara nyata
tidak mungkin diserahkan kepada  massa  yang  tidak
teroganisir. Peranan 'elite intelektuil' sebagai pencetus
/pemikir harus  mampu  mentransformasikan  kedalam
suatu  gerakan  organisasi  sosial / politik  yang  pada
akhirnya  merubah  sistim  struktural   yang  mengacu
kepada  penghargaan   terhadap  kesetaraan manusia
yang   meluaskan   kesadaran   kesetaraan   manusia
kepada  masyarakat yang lebih luas.

Jadi sebetulnya yang lebih terutama bukanlah gerakan
Revolusi Sosial  itu  sendiri  yang  mampu  melakukan
transformasi Kultur  -  walaupun  Revolusi  Sosial bisa
dijadikan suatu 'driving force'-yang lebih penting adalah
'elite intelektual' yang mampu menjadi'agent of change'
atau   'agen  perubahan'  yang  mampu mempengaruhi
organisasi   sosial   politik   yang   ada  untuk  secara
ber-sama2 memperjuangkan  transformasi  kultur saat
ini  (kultur   feodal,  kultur  budak, kultur  hidup santai)
menjadi Kultur Kesetaraan manusia.

Apakah  mungkin  terjadi  suatu  Revolusi Kultur tanpa
'driving  force'  Revolusi Sosial. Apa  yang  telah terjadi
dalam  sejarah, momentum Revolusi  Sosial  melawan
monarchi di  Eropa  dan  Cina  telah   dijadikan 'driving
force' - mengingat budaya yang mengakar sangat kuat,
dobrakan  yang sangat   kuat  diperlukan  untuk suatu
perombakan kultur - momentum untuk  menghapuskan
kultur feodal.

Di Indonesia,selalu ada ide untuk melakukan lompatan
katak (frog jumping)yang dari pengalaman selalu gagal
- seperti  ide   lompatan  katak  penguasaan  tehnologi
tinggi  ala Habibie  sewaktu   menjadi   Menteri  Ristek
dengan  program   tehnologi  dirgantara  yang  saat  ini
mendekati kebangkrutan..

Pada   hakekatnya  Revolusi   Sosial  sudah dimulai di
Indonesia  saat  ini,  dengan kejatuhan rezim Soeharto
pada tanggal 21 Mei 1998.Rakyat tidak lagi takut pada
polisi, bahkan  tidak  takut   lagi   pada  tentara / ABRI.
Beberapa kejadian fasilitas negara baik sipil dan militer
diserang  dan dibakar musnah, apalagi kalau ini  bukan
suatu  gejala Revolusi Sosial  yang sudah  mulai  yang
kalau   tidak    dicegah    atau    dicermati  akan   bisa
mengakibatkan skala kerusakan yang  lebih besar dan
hasilnya  menuju suatu arah kemana, kita sama-sekali
tidak tahu, jadi gerakan masyarakat  bisa murni anarki
sebagai  akibat   ketidak   percayaan   rakyat   kepada
aparat  penguasa  baik  sipil  ataupun  militer.  Apakah
kita  sedang  digerakkan  menuju   suatu   masyarakat
komunis  - penulis  sangat meragukan ini yang sedang
terjadi.

Kalau kita menghendaki kondisi saat ini tidak menjadi
suatu   Revolusi  Sosial  dengan  skala  eskalasi  yang
lebih besar,  tidak lain  dan  tidak  bukan haruslah ada
gerakan  'rational'  dari  kaum  'elite  intelektual'  dalam
mempengaruhi organisasi sosial politik yang ada untuk
menggunakan momentum saat ini untuk :
- mencegah  terjadinya  lebih  lanjut  eskalasi Revolusi
Sosial.
- tetap   menggunakan  momentum   yang   ada  untuk
melakukan  aksi  Revolusi  Kultur secara damai  dalam
rangka   transformasi   sosial   dari   kelemahan  kultur
feodal, kultur  budak,  dan  kultur  hidup  santai menuju
kultur   kesetaraan  manusia  dengan suatu  kampanye
pendidikan  melalui  jalur  mass - media  maupun  jalur
pendidikan  formal,  dan bahkan  juga  jalur  pendidikan
agama bahwa pada hakekatnya manusia adalah setara
dan jangan memperbudak dan  jangan mau diperbudak
oleh  siapapun - kegagalan  untuk  meyakinkan  rakyat
bahwa  mereka  diperlakukan  secara adil / setara atau
paling  tidak  rakyat   percaya  bahwa   ada  organisasi
sosial  politik  yang   sedang   memperjuangakn   nasib
mereka, kemungkinan akan  terjadi  eskalasi  Revolusi
Sosial yang anarkis adalah sangat besar.
- berjuang  secara   terus  menerus   untuk  melakukan
tekanan   agar   struktur  'vested   interest'   yang  ingin
mempertahankan 'status quo' (agar kultur saat ini terus
dipertahankan),  dan  bisa  digantikan  dengan struktur
yang  lebih  akomodatif  terhadap  kesetaraan  hak-hak
&  kewajiban rakyat. Yang secara aktual pemerintahan
saat  ini  yang  secara struktural mendasarkan diri dari
konsep   paternalistik  yang   feodal  dan   fasis   harus
digantikan  dengan struktur  pemerintahan  yang murni
demokratis yang secara konsekwen menetrapkan 'trias
politika'   dengan  mendistribusikan  kekuasaan secara
setara   diantara   kekuasan   eksekutif,   legislatif, dan
judikatif. Disamping  itu adalah keharusan bahwa ABRI
tidak  lagi  ikut  campur  lagi  terhadap  masalah politik
dengan  menghapuskan  DWIFUNGSI ABRI  dan ABRI
kembali kebarak - karena  keikut sertaan militer dalam
bidang     politik    penghambat    utama    pelaksanaan
demokrasi yang lebih murni.

Transformasi  sosial   tidak   selalu    bisa  direkayasa,
melihat   beberapa  'driving  force'  dari  faktor  'agent of
change', 'resistance  to  change',  dan 'structural status
quo' apa yang akan terjadi adalah reaksi timbal balik.

Kalau  'driving  force' dari 'agent  of  change' sama kuat
dengan  'resistance  to  change'  dari  'structural  status
quo' kemungkinan  eskalasi kekerasan    akan   makin
meningkat  sampai  diketahui   secara   final   -  seperti
halnya Revolusi Amerika ketika terjadi perang saudara
yang satu  pihak   ingin  mempertahankan perbudakan
dan   satu   pihak   ingin   menghapuskannya  -   siapa
menang siapa kalah.

Kalau   'agent  of  change'   mendapat  dukungan  yang
sangat  luas  baik dari rakyat jelata maupun organisasi
sosial dan politik, saya kira 'structural status quo' tidak
akan mampu bertahan.

Kalau   kalangan  'resistance to change'  dari kalangan
'structural  status  quo'  lebih kuat, kita  harus siap-siap
untuk dijajah kembali oleh bangsa kita sendiri.

Revolusi Kultur sebagai gerakan moral.

(Bersambung)
January 1999.

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 18 Feb 1999 jam 02:58:06 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke