---------------------------------------------------------- FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL: go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews. ---------------------------------------------------------- Mereka Kehilangan Segalanya... DELIK ----- Kerusuhan di Ambon adalah sebuah bencana kemanusiaan. Penjarahan, pembakaran, dan pembantaian antarsesama. NY MURNI, 35, wanita asal Buton, kini terlihat murung. Bayang-bayang suaminya yang meninggal dibantai secara sadis oleh sekelompok perusuh sangat mengganggu pikirannya. Di sebuah tempat pengungsian Media menemuinya, pekan silam. Dengan terbata-bata Ny Murni menceritakan kisah yang menyedihkan sekaligus menakutkan dirinya. Siang itu, tuturnya, segerombolan orang tak dikenal dengan wajah sangar mendobrak rumahnya. Tanpa ba bi bu lagi mereka menarik lengan suaminya, lantas dengan kalap mereka mengayunkan pedangnya berkali-kali. Cras... cras... darah segar muncrat dari sukujur tubuh suaminya. Tak cukup sampai di situ. Orang-orang beringas itu menyeret suaminya ke atas meja di bagian tengah rumahnya yang sederhana. ''Sungguh sadis, para perusuh itu kemudian memotong-motong suami saya di atas meja. Mereka memperlakukan suami saya seperti binatang,'' kata Ny Murni sembari terisak-isak. Suasana yang dialami Media kian terasa duka ketika Ny Murni menceritakan kisah yang memiriskan hati itu dengan menangis. Nasib agak beruntung dialami Ny Masni, 32. Dia menceritakan kisah perjalanan hidupnya bersama empat anak saat kerusuhan kota Ambon. Bersama suaminya, Ibrahim, yang berjualan sayur-sayuran di Pasar Mardika, Ambon, dia dapat menyelamatkan diri begitu perusuh masuk membabi-buta merusak rumah dan nenghancurkan semua isinya. Ny Masni, suami dan empat anaknya lari tunggang-langgang tanpa sempat menyelamatkan isi rumahnya. Ternyata bukan hanya Ny Masni yang melarikan diri. Sejumlah penduduk Karang Tagepe menyelamatkan diri, lari ke gunung dan berlindung di lubang-lubang batu. Kebetulan ada sebuah lubang gua, akhirnya mereka bersembunyi di situ selama enam hari. ''Di dalam gua kami hanya makan singkong rebus tiap hari,'' kata Ny Masni. Ternyata Gunung Nona adalah tempat perlindungan warga sekitar yang kebanyakan berasal dari Buton, Sulawesi Tenggara, dengan mata pencarian bertani, berdagang kecil-kecilan dan tukang becak. Ada tiga perkampungan penduduk di sekitar Gunung Nona, antara lain Karang Tagepe, Kampung Alimo, dan Kampung Wara. Kehidupan sosial warga masyarakat di ketiga perkampungan yang sebelumnya berlangsung secara damai. Cerita menyeramkan lainnya dikisahkan sejumlah penduduk Kampung Kamiri Desa Waiyama. Mereka menceritakan bahwa ada seorang wanita yang sedang hamil tua dibantai perusuh. Kemudian janinnya dikeluarkan dari perut ibunya, diangkat lalu dipotong-potong dan dibakar. Sedangkan ibunya yang sudah tewas dengan sadisnya dicincang-cincang para perusuh. Ibu Irwani, asal Banda, kandungannya sudah berumur 9 bulan 7 hari saat terjadi kerusuhan. ''Saat itu saya hanya menjaga agar kandungannya tak terganggu. Saya segera dilarikan ke rumah sakit dan tak lama kemudian melahirkan seorang anak laki-laki,'' kata Ibu Irwani yang didampingi suaminya, Abdurrahim. Siapa pun--yang waras tentunya--pasti akan mengutuk berbagai peristiwa sadistis di Ambon. Bahkan seorang aparat dari Kostrad tak tahan melihat kekejaman tersebut. ''Baru pertama kali saya melihat kejamnya pembantaian seperti ini,'' kata seorang aparat yang jati dirinya enggan disingkap itu. Selama ia bertugas di Deli, Aceh, dan Irian Jaya, belum pernah melihat kekejaman seperti di Ambon itu. Dengan keprihatinan yang mendalam, Ketua Tim Advokasi Satgas Penanggulangan Korban Kerusuhan Idul Fitri Berdarah di MUI Tingkat I Maluku, Nadjib S Attamimi mengatakan, pembantaian yang terjadi di kota Ambon sudah di luar batas kemanusiaan dan bisa disebut pelanggaran HAM terbesar di awal tahun 1999. ''Pembantaian ini seperti pembantaian di Bosnia oleh Serbia,'' kata Attamimi. Korban kerusuhan mengisi hari-harinya kini di beberapa tempat pengungsian. Mereka sangat membutuhkan bantuan dari kita semua. Tercatat di lokasi Masjid Raya Al Fatah Ambon dan Masjid Jamee jumlahnya sebanyak 1.800 orang. Para pengungsi setiap hari tidur ala kadarnya. Yang kasihan, sebagian besar anak-anak dan remaja sebanyak 300 orang bayi dan balita. Selain di Masjid Al Fatah, juga ada di Densipur 5 Masariku, Taman Hiburan Remaja (THR) Waihaong, Mesjid Jami' Ambon, Markas Latihan TNI AD Suli, dan Dokdiklat Passo. Adapun jumlah pengungsi sudah mencapai 5.556 KK atau 22.500 jiwa dan ditempatkan pada 27 lokasi pengungsi. Melihat kaum pengungsi yang begitu banyak. Pemda Tingkat I Maluku melakukan suatu upaya jalan keluar, yakni dengan transmigrasi. Berdasarkan data, jumlah warga pengungsi yang akan ditransmigrasikan sebanyak 1.256 kepala kelurga (KK) atau 7.500 jiwa. Mereka ditempatkan di Pulau Seram dan Pulau Buru pada enam Unit Permukiman Transmigrasi (UPT). Warga pengungsi trasnmigrasi ini akan disediakan tempat usaha dengan lahan dua hektare. ''Kami lebih senang bertransmigrasi daripada kembali ke tempat semula. Sebab rumah kami sudah dibakar habis. Kami juga merasa takut,'' ujar sejumlah warga asal Buton dan Jawa. Gubernur Maluku Saleh Latuconsina mengatakan dari sekitar 13.000 warga korban kerusuhan Ambon yang didata untuk relokasi hanya 1.250 KK akan memilih transmigrasi. Mereka akan ditransmigrasikan tanpa menunggu tahun anggaran. Sedangkan dananya bisa diupayakan dari sumber lain. Sebagian pengungsi akan segera ditempatkan 206 unit rumah di lokasi baru yang belum ditempati. Namun, sejumlah pengungsi masih merasa trauma dan ragu-ragu dalam penempatan lokasi baru, karena perlu ada jaminan keamanan. Sejumlah penduduk korban pengungsian di lokasi Taman Ria Remaja Ambion, Al Fatah dan Densipur 733 menuturkan, mereka tidak akan lagi kembali ke tempat semula karena diliputi rasa waswas. Soal transmigrasi bukan tanpa masalah. Kaum pengungsi menghendaki lokasi baru nanti harus menjangkau kota kecamatan, sehingga usaha pertanian mereka bisa lancar. Begitu masalah sarana transportasi maupun mobilisasi perhubungan, semunya diharapkan bisa secara lancar. Sementara itu, para korban kerusuhan yang ditempatkan di setiap pengungsian malah menyebutkan, sebaiknya mereka mengusulkan kepada Pemda Maluku membangun rumah susun di bebrapa kampung tertentu. Contohnya seperti di beberapa daerah di Pulau Jawa, karena rumah susun cukup memberikan kenyamanan bagi para pengungsi. Para pengungsi yang ditempatkan di Denspiur 5 Masariku, Ambon, yang pindahan dari lokasi kebakaran Nania Waiheru, sebagian besar adalah warga suku asal Sulawesi Tenggara. Seorang mahasiswi, Lina, mengaku mengalami trauma akibat kerusuhan itu. ''Saya terpaksa akan hijrah kuliah dari Universitas Darusssalam Tulehu, Ambon, ke Samarinda (Universitas Mulawarman),'' ujar mahasiswa Fakultas Ekonomi itu. Di beberapa fakultas di Universitas Pattimura, Ambon, terlihat para mahasiwa yang mengikuti perkuliahan hanya tampak sekitar 10-20 persen. Itu pun mahasiswa yang berdomisili di lingkungan kampus. Sebagian besar mahasiswa umumnya masih diliputi perasaan takut. Karena hingga kini isu masih berkembang seputar pascakerusuhan di Ambon, tampaknya isu terus berembus bahwa perusuh mau membakar kampus. Bahkan beberapa mahasiswa Universitas Pattimura asal Maluku Utara dan Manado banyak memilih pindah ke tempat asal untuk melanjutkan studinya di Universitas Sultan Khairun, Ternate dan Universitas Samratulangi, Manado. Ketua Koordinator Urusan Pengungsi Satgas MUI Tingkat I Maluku, M Nur Wenno mengatakan, penanganan permukiman kembali bagi para pengungsi kerusuhan Ambon perlu ada pengamanan keamanan. Sehingga tidak ada ancaman bagi warga pengungsi atau terjadi konflik agama di tempat permukiman baru. ''Lokasi permukiman akan bisa saja terjadi konflik agama bila tertangani secara baik oleh pihak keamanan. Kan bisa mengurangi kepadatan penduduk Kodya Ambon dan tempat baru warga akan menghasilkan produksi tanaman pangan di lokasi transmigrasi serta aksebilitas lokasi tidak terisolasi,'' ujar Wenno. Wilayah Kota Madya Ambon dikelilingi laut dan gunung. Secara tata ruang Pulau Ambon berbentuk tapal kuda dengan luasnya 377 kilometer persegi. Sedangkan jumlah penduduk sejak 1998 lalu 312.055 jiwa dengan mata pencarian peternakan dan perikanan. Penduduk yang tinggal di kota sebagian besar bertebaran di beberapa perkampungan, yakni perkampungan Waihaong, Batu Merah, Diponegoro, Batu Meja, Batu Gajah, Air Salobar, Kudamti, OSM, Tanah Lapang Kecil, Belakang Soya dan Perkampungan Mardika, Perkampungan Air Mata Cina dan Mangga Dua. Penduduk yang sebagian besar bermukim di Pasar Mardika, Pasar Pilita, Pasar Gotong Royong dan Pasar Wainitu adalah pendatang dari luar Maluku. Misalnya dari Ujungpandang, Bau-Bau, Jawa Sumatera, Irian Jaya, dan Manado. Namun, aktivitas para pendatang ini mata pencarian berdagang, membuka toko dan berjualan kecil-kecilan di kota Ambon, sehingga mereka menguasai permukiman pasar-pasar tersebut. Sedangkan penduduk asli kota Ambon dalam kehidupan sehari-hari mata pencarian hanya sambilan. Penduduk yang datang dan bermukim di kota Ambon ada dari warga masyarakat Pulau-Pulau Lease, Pulau Seram, Maluku Tenggara, Pulau Buru, dan Maluku Utara. Pendatang dari pulau-pulau tersebut sebagian besar adalah pegawai negeri, pengusaha dan para guru. Bahkan kota Ambon sebelah pegunungan ada juga beberapa desa dan perkampungan penduduk yang mendiami lokasi tersebut. Kota Ambon memang pernah dijuluki sebagai Ambon Manise, namun semua julukan yang diberikan itu sirnalah semua. Bangunan-banguna bertingkat dan Pasar Mardika yang setiap pagi menjelang fajar sudah penuh dengan pedagang, sayur tidak lagi terlihat orang berlalu lalang. Kini sudah menjadi bangkai kerusuhan. Jalan-jalan kota Ambon masih tetap sepi dan mencekam itulah kalimat yang terlontar dari sejumlah pengungsi yang ditempatkan di pelataran mesjid Raya Al Fatah Ambon. Suasana mencekam masih terlihat di berbagai sudut jalan, kendaraan yang ditumpangi aparat keamanan dan satu dua motor hanya melintasi jalan protokol AY Patty dan Sam Ratulangi. Pasca kerusuhan di Kota Ambon 19 Januari 1999 bertepatan 1 Syawal 1419 H sangat menodai harmoni dan telah pula mencabik rasa kebersamaan yang telah terbangun bertahun-tahun lamanya. Yang tak kurang menyedihkan adalah nasib ratusan anak sekolah di tempat pengungsian. Mereka kini tidak sekolah. ----- Hak cipta ) 1997-1998 Media Indonesia ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 19 Feb 1999 jam 02:50:23 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
