----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang
Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews.
----------------------------------------------------------

Kepada Pengurus Pusat
Aliansi Jurnalis Independen (AJI)

Dengan hormat,
Kami sampaikan beberapa paparan mengenai kerusuhan Ambon.  Kiranya ini
sebagai bahan bandingan atas mainsteam berita di media massa.  Mungkin ini
pun bisa menjadi bahan permenungan kita semua atas etika dan kebesan pers
pasca reformasi.
Tentu info ini tidaklah cukup untuk menggambarkan kondisi Ambon secara
keseluruhan.  Tapi setidaknya untuk menjadi bahan referensi. Bila butuh
info lain, kami bersedia membantu.
Kami beritahukan bahwa dengan sangat menyesal kami tidak dapat menghadiri
kegiatan AJI di Manado.  Satu-satunya alasan adalah tidak ada transportasi
ke Manado pada akhir Januari lalu.  Mudah-mudahan kita bisa ketemu di forum
AJI yang lain.

Salam AJI !!!
Rudi Fofid & Zairin Salampessy
---------------------------------------

Di Ambon, Rudi dan Zairin  bisa melihat langsung kerusuhan di berbagai
tempat.  Zairin malah menjadi salah satu korban. Rumah keluarga Rudi yang
beragama Kristen di Airmata Cina (salah satu titik kerusuhan), sempat
menjadi tempat berlindung 26 warga Muslim asal Bugis selama dua hari,
sebelum akhirnya dievakuasi ke instalasi militer terdekat.
Sedangkan Rumah Keluarga Zairin persis di lokasi awal kerusuhan yakni di
perbatasan Batumerah dan Mardika.  Zairin dan keluarga sempat terancam
warga tak dikenal yang datang dengan parang terhunus. Selama berjam-jam,
juga ada lemparan batu hingga bom molotov.  Untung segera dievakuasi oleh
aparat keamanan atas bantuan Nn Sandra Lakembe, seorang aktivis LSM di
Ambon.
Zairin dan keluarga yang beragama Muslim, akhirnya mengungsi selama dua
pekan di rumah Sandra yang beragama Kristen.  Ayah Sandra bernama Armand
Lakembe adalah Ketua FKP  DPRD Kodya Ambon.  Di lingkungan gereja, Pak
Armand adalah seorang anggota majelis gereja.  Selain itu, antara keluarga
Zairin dan keluarga Sandra, terdapat hubungan pela.
Rudi dan Zairin saat ini bergabung dengan rekan-rekan aktivis LSM di
Maluku yang membentuk Tim Relawan Untuk Kemanusiaan (TIRUS) yang berposko
di (0911) 343231.
Dari posko ini, TIRUS mengupayakan penyaluran bantuan kepada korban
kerusuhan.  Aktivis TIRUS datang dari berbagai etnis dan agama dan membantu
para korban tanpa memandang latar belakang korban.
Dari posko ini pula kami memantau pemberitaan media massa mengenai
kerusuhan Ambon.  Dari sana kami dapat menyimpulkan bahwa para jurnalis di
Ambon mendapat kesulitan besar dalam peliputan.  Pasalnya, untuk
mendapatkan data paling aktual untuk kejadian tanggal 19 sampai 25 Januari
1999, ruang gerak para jurnalis dibatasi oleh kotak agama. Para Jurnalis
Kristen sama sekali tidak berani mendekati massa dan kantung-kantung
Muslim.  Sebaliknya para jurnalis Muslim pun  tidak leluasa mendekati massa
dan kantung-kantung Kristen.  Hal ini semata-mata karena psikologi massa
pada saat kerusuhan sama sekali berada dalam situasi sangat sensitif. Untuk
mendapatkan informasi, para jurnalis sejauh ini berupaya dengan cara :

1. Menempel ketat rombongan Gubernur Maluku, Panglima Kodam VIII/Trikora
atau pejabat lain yang memang mendapat pengawalan ketat.
2. Berposko di instalasi militer terutama di Dinas Penerangan Polda Maluku
atau Penerangan Korem 174/Pattimura.
3. Meliput langsung di lapangan secara terbatas.  Jurnalis Muslim dapat
berbaur di tengah massa Muslim sedangkan jurnalis Kristen berbaur dengan
massa Kristen. Jurnalis Muslim gampang menghimpun data di Masjid Al Fatah
dan Batumerah sedangkan jurnalis Kristen gampang menghimpun data di Gereja
Maranatha atau Gereja Silo.  Tapi, data tersebut adalah versi masing-masing
kepentingan.
4. Berposko di rumah masing-masing dan menerima informasi dari berbagai
kalangan melalui telepon.

Tentunya masing-masing cara yang ada ini memiliki keterbatasan
sendiri-sendiri sehingga para jurnalis tidak dapat bekerja secara maksimal.
Ketika keadaan sudah lebih membaik, justru berbagai peristiwa sudah
terlewatkan sehingga para jurnalis tidak dapat mengumpulkan fakta-fakta
dari sumber pertama.
Kendati tidak leluasa, para jurnalis di Ambon justru merangkap sebagai
sumber berita bagi berbagai media di dalam dan luar negeri.  Hal ini sempat
membingungkan para petinggi di Ambon sebab kejadian malam ini di Ambon
sudah dapat disiarkan di Amerika dan Belanda pada pagi harinya.
Data seputar kerusuhan yang disiarkan oleh lembaga resmi baik pemerintah
maupun ABRI, menimbulkan kontroversi di tengah masyarakat sebab tidak
akurat atau under-estimate. Hal ini dapat dimaklumi sebab pemerintah
mengacu  pada pendekatan versi pemerintah.  Data korban, misalnya, dinilai
oleh masyarakat justru jauh di bawah angka yang sebenarnya.  Hanya saja,
masyarakat tidak dapat memberikan data yang sesungguhnya untuk membantah
data versi pemerintah.
Di Ambon, kami sempat kaget pada pemberitaan SCTV tanggal 29 Januari 1999.
Dalam Liputan 6 Petang, koresponden Andre Bangsawan melaporkan dari Ambon
bahwa penerbangan di Bandara Pattimura sudah normal.  Justru pada hari itu,
untuk kesekian kalinya kami tidak jadi berangkat ke Manado (untuk mengikuti
kegiatan pelatihan AJI).
Tapi belakangan, kami di Ambon justru lebih kaget pada pemberitaan Gatra,
Tekad, Aksi, Abadi.  Masalahnya, berbagai berita dari media yang terbit di
Jakarta justru memperlihatkan kecenderungan :
1. Emosi sejumlah jurnalis ikut bermain di dalam penyusunan berita.  Ada
kesan kuat, mereka kehilangan independensi sehingga akhirnya menulis berita
secara tidak berimbang.
2. Sejumlah jurnalis menulis fakta secara tidak akurat, bahkan ada yang
(mungkin sengaja) terbalik dari fakta yang sebenarnya.

Dari kondisi yang berkembang di Ambon, sejauh yang dapat kami tangkap,
maka sampai tulisan ini dibuat, terdapat suatu kondisi saling membuang
salah antara elit Muslim dan Kristen di Ambon.  Beberapa hal yang menjadi
ajang perdebatan hingga kini yakni :

1. Orang Kristen menuduh kerusuhan Ambon sudah direncanakan oleh orang
Muslim, sebaliknya orang Muslim menuduh orang Kristen sudah merencanakan
kerusuhan Ambon.  Hal ini masih diyakini kedua belah pihak tanpa ada
klarifikasi sampai saat ini.
2. Senjata-senjata tajam hingga bom molotof maupun bom ikan, menurut orang
Kristen, sudah disiapkan orang Muslim sebelum kerusuhan. Sebaliknya orang
Muslim juga menilai orang Kristen lebih siap dalam hal persenjataan
tersebut.
3. Pada hari pertama kerusuhan, massa sudah terbagi dengan ikat kepala
merah (Kristen) dan ikat kepala putih (Muslim) di berbagai penjuru Kota
Ambon.  Sebab itu, sangatlah mustahil untuk menemukan siapa yang lebih dulu
memakai ikat kepala.  Soal ikat kepala ini sangat penting sebab ini menjadi
indikasi permulaan kerusuhan.  Ketika kejadian baru meledak di Batumerah,
sudah ada warga dengan ikat kepala putih tapi saat yang bersamaan, di depan
Gereja Silo, Tugu Trikora, sudah ada massa dengan ikat kepala merah.
4. Orang-orang Muslim mengambil kasus pembunuhan seorang ibu hamil yang
bayinya dikeluarkan dari rahim dalam pembantaian di Benteng Karang, sebagai
salah satu simbol kebiadaban orang-orang Kristen.  Simbol yang sama juga
diklaim orang-orang Kristen sebagai kebiadaban orang-orang Muslim. Jadi
orang Muslim maupun Kristen sama-sama mengklaim korban tersebut (ibu dan
bayinya) sebagai warganya.
5. Sejumlah media menulis kasus Ambon sebagai pembantaian Muslim (Muslim
Cleansing) di Ambon.  Padahal, kasus Ambon sangatlah berbeda dengan
kerusuhan di Kota lain, sebab di Ambon tidak terlihat secara nyata adanya
kelompok mayoritas yang melakukan pembantaian terhadap kelompok minoritas.
Justru dalam kondisi fifty-fifty, terkesan kuat bahwa kerusuhan Ambon
adalah sebuah ajang baku bunuh, baku bakar, baku serang, dalam suatu
pertarungan yang tidak fair. Artinya, pada titik-titik kerusuhan, ada massa
mayoritas berdasarkan tempat tinggal, yang kemudian melakukan penyerangan
terhadap massa yang minoritas.  Dan ini terjadi baik terhadap warga Muslim
maupun Kristen.
6. Sinyalemen adanya Gerakan Republik Maluku Selatan (RMS) dalam kerusuhan
Ambon, nampaknya tidak disertai dengan indikasi atau bukti yang kuat.
Sebagaimana dilansir GATRA, di Kudamati terlihat adanya pengibaran bendera
RMS.  Bendera tersebut digambarkan berupa kain merah dengan salib putih di
tengah.  Padahal, menurut sejumlah warga Ambon, warna sebenarnya dari
bendera RMS adalah merah, biru, putih, kuning.  Tak ada lambang salib dalam
bendera RMS.  Tapi benarlah bahwa ketika kerusuhan terjadi, ikat kepala
massa Kristen berwarna merah.  Ada yang menambah simbol salib putih, persis
di atas dahi.
7. Sejumlah media di Jakarta juga menyebut Decky Wattimena terlibat
sebagai provokator dan sudah diperiksa di Mabes Polri.  Ketika kami
berkunjung ke rumahnya di Desa Airlow, 1 Februari 1999 bersama Veriyanto
Madjoa dari TEMPO (koresponden Manado), justru Decky mengaku bahwa dalam
dua bulan terakhir ini tidak pernah meninggalkan Ambon.  Itu artinya, ia
tidak pernah diperiksa di Jakarta.  Menurut Decky, Ia justru diserang warga
Muslim di Air Salobar sehingga kaca mobilnya pecah.  Decky juga dijarah di
lokasi yang sama, dan dalam kejadian ini, Kapolsek Nusaniwe Nn Anatje
Pirsouw mengetahuinya karena Kapolsek perempuan itu sempat menumpang mobil
Decky.  Ketika kerusuhan meledak, rumah Decky juga menjadi tempat
pengungsian puluhan warga masyarakat yang kebetulan sedang bertamasya ke
Latuhalat, dekat Airlow. Desa Airlow adalah desa berpenduduk Kristen.
Letaknya sekitar 10 km dari jantung kota Ambon. Desa Amahusu, Nusaniwe,
Silale, Latuhalat adalah desa-desa tetangganya. Sepanjang jalur
Amahusu-Airlow, ada beberapa dusun tempat pemukiman warga Buton.  Rumah dan
masjid mereka berada dalam keadaan utuh.  Menurut Decky, masjid-masjid di
sana dibangun saat dia menjadi walikota Ambon.  Ia juga membantah berita
yang menyebut dirinya anti Buton-Bugis-Makassar.  Sebagai bukti, Decky
menceriterakan kembali pembelaannya terhadap becak-becak di Ambon.  Ketika
para walikota se-Indonesia sepakat penghapusan becak, Decky sebagai
walikota Ambon menyatakan Ambon sebagai pengecualian.  Alasannya, becak di
Ambon bisa diatur.  Sebab itu, becak dengan tiga warga di Ambon bisa
bernafas.  Decky juga menyebut tiga dusun di Airlow yang penduduknya
berasal dari Buton, sama sekali tidak menjadi korban kerusuhan Ambon.
"Moyang mereka sudah di sini sejak tahun 1801," kata Decky.
Sementara kabar bahwa Decky mondar-mandir di tengah kerusuhan, dia
benarkan.  Pertama kali adalah dia ke Galala menjemput pendeta Airlow yakni
Pdt Pattiasina yang terjebak tidak bisa pulang. Melewati Desa Batumerah
yang mayoritas warganya muslim, Decky memang sempat ditahan. Namun ada
warga Batumerah yang mengenalnya. Lelaki tersebut lantas mengantar Decky ke
desa berikutnya (Tantui) yang mayoritas warganya Kristen. Begitu pula
ketika mengangkut Pdt. Pattiasina kembali ke Airlow.   Kedua, ia membawa
dua keluarga Muslim dari Kudamati ke Polres Pulau Ambon dan P.P. Lease di
Perigi Lima, dan Ketiga, ia membeli bahan makanan untuk para pengungsi yang
tinggal di rumahnya.  Bahan pangan inilah yang dijarah di Air Salobar.
Kabar paling gress sampai tanggal 9 Februari 1999, Decky melarikan diri ke
Belanda, tidaklah benar.  Justru melalui pesawat 362212, kami bisa
berkomunikasi ke rumahnya.  Istrinya memberitahu bahwa Decky ada di rumah.
Ketika kami diterima di rumahnya, Decky yang baru usai memangkas tanaman di
halaman rumahnya, sempat dijamu makan siang.  Menu makan siang adalah nasi,
ikan goreng, sayur buah pepaya dicampur katuk. "Makan gaya kampung," kata
Decky.  Ia juga menyebutkan bahwa, dalam situasi begini, ia menolak
wawancara oleh wartawan via telepon.  Mungkin inilah yang menyebabkan
banyak media gagal mewawancarainya.
8. Warga Muslim di Ambon merasa sangat tidak puas dengan aparat keamanan
yang bertugas sejak awal kerusuhan.  Tapi perasaan yang sama juga
berkembang di kalangan warga Kristen.  Kedua belah pihak sama-sama tidak
puas dan merasa aparat tidak adil.
9. Sangat disayangkan bahwa banyak media tidak membeberkan fakta-fakta
lain di balik kerusuhan ini.  Misalnya, dalam kasus ini, banyak orang
Kristen di berbagai tempat disembunyikan oleh orang-orang Muslim.
Sebaliknya, tidak sedikit orang Muslim yang diselamatkan orang-orang
Kristen.  Ini fakta di berbagai lokasi.  Artinya bahwa di tengah kondisi
yang begini runyam, tidak semua orang lantas termakan provokasi dan isu.
10. Ketika kerusuhan dimulai pada 19 Januari 1999, isu yang berkembang
adalah pengrusakan rumah-rumah ibadah.  Pada hari kedua, barulah muncul isu
BBM.  Kami berkeliling Ambon dan menemukan banyak tulisan yang berisi
provakasi anti BBM.  Ada yang secara khusus anti Bugis-Makassar. Ada pula
di beberapa lokasi yang menyebut-nyebut Jawa Sumatera.
11. Di sejumlah lokasi, terdapat tulisan yang melecehkan Yesus dan Nabi
Muhammad.  Tapi tulisan-tulisan tersebut kemudian dihapus oleh warga dan
aparat keamanan. Beberapa simbol dan tulisan lain yang juga muncul adalah
bintang Daud, Yahudi, Israel, Muslim Power, Allahu Akbar dalam tulisan
Arab, dan simbol-simbol lainnya yang membangkitkan fanatisme masing-masing
kelompok.
12. Ketika tulisan ini dikirim, Kota Ambon masih sangat sensitif.  Sedikit
aksi saja bisa memicu kepanikan. Kota Ambon sempat menjadi sepi 2 Fabruari
lalu ketika sebuah tembakan peringatan dari aparat untuk mengatasi warga
pedagang yang berebut tempat, bisa mengundang rusuh kecil.  Tiga hari lalu,
Ambon juga panik lantaran ada razia senjata tajam.  Siang tadi ketika KASAD
ke Ambon dan hendak melintas di Jalan Slamet Riyadi dan Jalan Tulukabessy,
aparat mengatur kendaraan untuk menepi.  Dengan membunyikan peluit dan
memberi aba-aba untuk kendaraan menepi, ternyata ini berkembang meluas
menjadi isu penyerangan.  Akibatnya, warga secara serentak di berbagai
pelosok menjadi panik.  Ada yang sudah keluar dengan ikat kepala dan
senjata tajam.  Dalam situasi ini, warga Ambon masih dicekam isu aneh-aneh.
Di kalangan Muslim beredar isu penyerangan oleh orang-orang Kristen.
Sebaliknya, di kalangan Kristen pun demikian.  Tanggal penyerangan malah
diisukan pada tanggal 8 dan 9 Februari 1999.  Juga kini ada trauma Selasa.
Setiap hari Selasa (19/1, 2/2 dan 9/2), selalu ada kepanikan.
13. Kecurigaan, dendam, takut dan permusuhan masih ada di mana-mana. Bukan
cuma di kalangan warga jelata melainkan juga di kalangan elit.
14. Masih terdapat ribuan warga di lokasi pengungsian. Mereka kini berada
dalam kondisi yang memprihatinkan. Mereka berada dalam kondisi rawan
sandang-pangan, pangan, dan kesehatan.  Bantuan dana yang dihimpun Pemda
Maluku sudah mencapai Rp 2 Miliar tapi di sejumlah lokasi, pengungsi tidak
minum teh manis (gula).  Menu setiap hari di bawah standar. Penyakit
berjangkit mulai melanda para pengungsi.
15.  Atas prakarsa Baileo Maluku, berbagai LSM membentuk Tim Relawan Untuk
Kemanusiaan (TIRUS). Tim ini beda dengan kebanyakan Posko yang ada di Ambon
sekarang. Sebab, kebanyakan posko/tim yang bekerja sekarang justru bekerja
dengan segenap tendensi.  TIRUS terdiri dari relawan Muslim-Kristen dan
membantu korban Muslim-Kristen tanpa pandang bulu.
16. Beberapa fakta tambahan :
7 Rumah wartawan Suara Maluku Max Aponno di Pohon Puleh  terbakar
7 Rumah wartawan Suara Maluku Achmad Ibrahim di Nania, terbakar.
7 Rumah Zairin Salampessy di Mardika rusak ringan.
7 Lucky Sopacua, reporter TVRI Ambon diintimidasi via telepon
7 Rumah wartawan Suara Maluku Kace Mayaut di Silale dijarah.
7 Tabloid Mingguan Nasional, Kabaressi dan Tabaos, tidak terbit sejak
kerusuhan.  Harian Suara Maluku sejak 19 Januari 1999 hingga kini tidak
bisa terbit.  Sempat terbit 2 Februari 1999 tapi kemudian tidak terbit
sampai sekarang.  Khusus mengenai Suara Maluku, selain para wartawannya
kesulitan mencapai Kantor Redaksi, juga andaikata koran terbit, para agen
dan pengecer yang kebanyakan orang Buton justru belum berani bekerja.
Menurut kabar orang Suara Maluku, mereka baru akan terbit pada 1 Maret 1999
dengan tidak akan memberitakan kerusuhan Ambon sebab sangatlah sensitif.
7 Wartawan LKBN Antara Udin Kelilauw sempat diamankan rekan-rekannya yang
beragama Kristen, sebab dia sempat diincar oleh sejumlah orang melalui
telepon.
7 Pada saat kerusuhan, dua penyiar TVRI yakni Paulus Limbong dan Maria
Sopamena, secara terus-menerus menjadi pembaca berita tanpa diselingi
penyiar yang lain.  Ini karena keduanya terkurung di studio, sementara yang
lain tidak dapat sampai ke sana.
7 Rumah Dinas Kepala Stasiun TVRI Ambon di Kawasan Gunung Nona, dirusak
massa. Sang Kepala Stasiun adalah warga Muslim.
Masih banyak hal yang dapat kami sampaikan, kalau memang perlu.  Saat ini,
bersama kawan-kawan relawan, kami lebih mengarah pada penanganan emergensi.
Catatan ini  dibuat sekadarnya sebagai bandingan mengenai apa yang terjadi
di Ambon dengan apa yang disiarkan oleh media-media.  Soalnya, kondisi di
Ambon sangat berbeda dengan yang ditayangkan di TV atau media cetak.
Moga-moga ada manfaat.

Salam Dari Ambon Manise
Yang Sedang Luluh Lantak

Rudi Fofid, Zairin Salampessy dkk
(AJI Biro Ambon)

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 19 Feb 1999 jam 03:09:27 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke