---------------------------------------------------------- FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL: go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews. ---------------------------------------------------------- Precedence: bulk PERAN BUKU DEMI KEARIFAN DALAM IPTEK (3/3) Oleh: YB MANGUNWIJAYA APA YANG MASIH DAPAT KITA PERBUAT KONKRET Namun dari pihak lain, kita tentulah tidak boleh bertopang dagu hanya menangisi keadaan saja, karena para murid kita, tua, renta, maupun anak tidak dapat menunggu sampai segala-gala sudah beres. Oleh karena itu rasanya kita dapat berbuat seperti berikut: Buku-buku tentang IPTEK tetap terus kita terbitkan, kita sebut saja buku-buku panduan dan pegangan (BPP). Ini terbagi dalam: 1 ) KATEGORI A: yakni yang bersifat informatip belaka, # yang konvensional (BPP-IK); memberi tahu tentany apa saja yang dalam dunia IPTEK pernah dan sedang terjadi. Bisa benar-benar ilmiah profesional dan ilmiah popular dalam segala wujud dan derajad kecanggihan. Ini bersifat menyeluruh, belum diseleksi. Pokoknya apa saja yang sedang berkembang dan bermekar, khususnya yang mutahir. Ini terutama untuk dunia akademika. # Sama dengan di atas, masih dalam kerangka pemberian informasi murni melulu, akan tetapi sudah diseleksi (BPP-IS), dipilih mana yang lebih relevan bagi bangsa kita. Baik dari segi polilik perkembangan nasional maupun pribadi. Ini untuk dunia akademik maupun awam umum. 2) KATEGORI B: Kategori buku ini memberi informasi pula, akan tetapi sasarannya lebih ke pengembangan daya penilaian kritis para pembaca; jadi lebih mendidik ke arah sikap-sikap prinsipial menghadapi IPTEK yang sudah digenangi social responsibility. Agar bangsa kita tidak menelan mentah-mentah sembarang apa asal baru asal menggemparkan ditelan, akan tetapi disaring, melihat permasalahan IPTEK dari segi pandangan Sila ke-2, kemanusiaan yang adil dan beradab, ditambah beriman. Misalnya tentang kloning. Tidak cukup masyarakat tahu informasi teknis tentang bahkan nanti meniru teknoloyi kloning. Dalam masalah gawat ini, dan masih banyak masalah-masalah lain yang ditimbulkan IPTEK diperlukan sikap kritis, bahkan sikap kritis yang profesional. Yang sudah diwarnai atau diterangi moralitas dan prinsip-prinsip yang hendati tidak intrinsik melekat pada dunia sains namun tergolong tanggungjawab sosial kita. Dalam Kategori B ini termasuk buku-buku yang menyebarluaskan informasi yang kemungkinan-kemungkinan teknologi terapan yang bersahabat dengan lingkunyan, soft technologies, yang sebisa mungkin meredam nafsu keserakahan dan agresi psikologis sebagai akibat kekuasaan, terangnya kekuasaan saintifik dan teknoloyik. Walaupun berkoderat informasi, namun unsur pendidikan untuk kritis dalam bersikap dan memilih sudah diintroduksi, walaupun baru disinggung sedikit saja. 3) KATEGORI C: Baru dalam Kategori C diajukan informasi maupun diskusi yang lebih luas dan mendalam tentang pertama: prasyarat-prasyarat sikap dasar umum (profesional) untuk berlPTEK. Jadi lebih bersifat pendidikan meraih mental yang berlaku umum dalam komunitas IPTEK. Kecermatan, ketekunan, sikap cinta kepada kebenaran, benci kepada yang bohong,cuma show kosong atau cari gengsi belaka. Mengatasi segala yang hanya semu dan seolah-olah saja. Mental eksplorasi, inovasi; keberanian menjalani jalanjalan alternatip dan inovatip (lateral thingking), tidak konvensional, semangat kritis dan tidak mudah ikut arus kebanyakan orang dsb. dst. Dengan mengihtiarkan diri mental yang eksak, tidak suka serba kira-kira, teliti dan siap ikhlas mengakui kesaJahan atau kekeliruan bila sudah terbukti. Fair play. Pendek kata, sikap cinta kepada kebenaran tadi. love for the truth. Catatan pinggir: Ini kesulitan paling besar bagi penduduk Nusantara, khususnya orang Jawa yang mendominasi segala segi kehidupan di Indonesia kita. Namun kategori C ini harus memuat juga dosis besar filsafat tentang ilmu pengetahuan, sains yang merupakan ilmu pengetahuan khusus, metodologi, dan akhirnya filsafat mengenai segala yang bersinggungan dengan tahu dan interpretasi (epistemologi). Dan akhirnya filsafat tentang manusia dan masyarakat, apa arti kemajuan, apa arti kebenaran, arti kesejahteraan, tanggungjawab terhadap hari-depan dsb.dst. Jadi sudah masuk ke etika dan moral. Namun perlu dicatat, bahwa dalam Kategori C ini tidak termasuk buku buku yang khas ditinjau atau mengambil acuan dari pandanyan agama atau kebatinan. Jadi hanya melulu yang filsafi atau rasional (walaupun bisa saja rasional yang sudah diperkaya oleil iman), baik yang bernilai universal maupun khas kultural atau lintas-kultural dan historis. Tentulah Kategori C ini ditujukan terutama kepada the advanced learners, dan khususnya pada pengambil keputusan negara, masyarakat maupun perusahaan besar dan universitas. Namun tidak berarti, bahwa Kategori C ini laranyan bagi masyarakat awam biasa. Kategori B secara proporsional dan dalam porsi yang sederhana (hanya pada taraf pengenalan pertama) dapat diresapi dengan apa yang pada tingkat lebih tinggi perlu distudi secara lebih mendalam. ISI dari Kategori C memang mengandaikan inteligensi terpelajar. Namun dalam wujud yang sederhana pun para pelajar SLTA bahkan SLTP atau SD dapat diberi informasi beberapa hal sederhana dari permasalahan demi penyadaran mereka sedini mungkin. Banyaklah kesempatan popular dapat menyandang missi yang penting ini, ayar kita dapat mempunyai strata luas kaum terpelajar yang tidak buta atas segala segi-segi politis,sosioloyis, psikologis dan moral dalam fenomen IPTEK.- Maka demi generasi muda kita itu sendiri pun mereka sedini munghin perlu diajari kewaspasdaan yang arif. Di negara-negara maju misalnya beberapa prinsip umum bio-teknologi, suatu cabang teknologi yang sesudah sektor informasi akan menjadi fenomen paling menggemparkan dalam abad ke-21, sudah diajarkan pada tinghat SLTA. Namun juga prinsip-pril1sip moral yang bersangkutan (dengan pemberian bahan diskusi antar pelajar) mengenai segi-segi etika misalnya kloning dsb.; khususnya kemungkinan besar kloning manusia. SIKAP DASAR YANG PERLU DIIHTIARKAN DULU Bila semua itu kita refleksi, maka kita akan berjumpa denyan salah satu hal yang biarpun tidak langsung menyangkut permasalahan buku-buku IPTEK, akan tetapi amat erat denyannya, dan yany perlu kita pikir ulang Selama Ordo Baru yang diajarkan (diindoktrinasikan) kepada para pelajar hanyalah perintah-perintah dan hukum agama. Padahal yang jauh Iebih penting daripada pengenalan hukum agama justru dimensi imannya, penghayatan sikap-sikap dasar yany nanti berdampak pada praksis perilaku dan tindakan para pelajar itu. Amat tepatlah perumusan salah satu GBHN yang disusun dalamOrdo Baru, bahwa salah satu ciri Manusia Indonesia Seutuhnya ialah yang beriman dan bertaqwa. Tidak disebut yang beragama. Itu tepat sekali,karena banyaklah manusia beragama tidak beriman, sedangkan tidak kuranglah orang yang tidak beragama, dalam praksis hidupnya, benar-benar menunjukkan ia orang yang beriman, baik-budi, berkebajikan,saleh. Memang yany ideal dan yang diharaphan ialah orang yang beragama sekaligus beriman, akan tetapi itu memerlukan pergulatan seumur hidup, dan itu pun tidak pernah 100 % tercapai Maka tampaklah bahwa meskipun tidak dapat dipisahkan, akan tetapi amatlah vital bila sikap-karya iman dipilahkan dari status memiliki atau menganut suatu agama melulu Yang diihtiarkan ialah becoming religius sejati, dan tidak hanya to have a religion (Untuk masa kini dan mendatang, religius sejak berarti inter-religious). Agama hanyalah sarana, kendaraan ataupun jalan. Bukan tujuan, apa lagi bukan Tuhan Maha mengidentikkan agama dengan iman/takwa atau religiositas amatlah fatal; yang terbukti nyata dalam kerusuhan-kerusuhan di bulan-bulan sesudah 21 Mei 1998 sebagai akibat indoktrinasi agama tanpa memperhatikan tujuan agama, yakni sikap dan kekaryaan penuh iman, harapan, cintakasih, suka saling tolong-menolong), saling memperkaya, saling menganugerahkan perdamaian dan kesayangan; pembentukan suatu konvivialitas (hidup bersama) dan solidaritas dalam segala kebaikan. Dalam Ordo Baru celakanya dihapus juga program budi-pekerti. Apa kedudukan iman dan budi-pekerti ? Iman ada dalam hubungan vertikal antara manusia dan Tuhan,namun yang berpadu dengan hubungan horisontal antara manusia dengan manusia serta semesta alam. Budi-pekerti mengkhususkan diri dengan hubunyan yang sebaik-baiknya antara manusia dengan manusia serta alam semesta. Perlulah budi-pekerti dipilahkan, jangan dipisahkan dari iman. Namun prioritas medan gerak kedua-duanya selalu ada dalam pengutamaan dunia praksis (ortopraksis}. Praksislah yang harus didahulukan, bukan teori, dogma atau hukum maupun ritus (ortodoksi). Dalam Ordo Baru, buku-buku dan program pembelajaran hanyalah berkisar pada ortodoksi yang tampaknya saja hebat lahiriah, akan tetapi praksis sehari^hari menunjukkan, bahwa anehnya bangsa kita juara hebat dalam beragama, akan tetapi juga juara dalam korupsi dan mudah mengamuk. Mungkin bidang iman, moralitas, etika, dan budi-pekerti bukan bidang tugas khas para penerbit, akan tetapi para editor dan semua saja yang ikut menjadi unsur suatu buku dapat terbit, tidak ketinggalan yang memperbincangkan IPTEK, tidak semestinya buta terhadap dimensi iman dan budi-pekerti itu dalam kebijaksanaan penerbitan buku. Di mana ada kewaspadaan, di situlah kearifan dapat bertugas dan bermekar subur.*** ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 19 Feb 1999 jam 13:52:43 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
