---------------------------------------------------------- FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL: go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews. ---------------------------------------------------------- From: Johannes Melihat berita-berita yang beredar saat ini, saya melihat ketidak adilan dalam pemberitaan kasus Ambon yang sangat merugikan umat Kristen dan dapat mengancam pada persatuan dan kesatuan bangsa. Agar ada keseimbangan dalam pemberitaan ini berikut ini saya lampirkan laporan yang saya terima dari rekan-rekan Kristen di Ambon. Mohon dibaca dengan hati dingin dan tenang. Salam YL TRAGEDI 19 JANUARI 1999 DI AMBON Salam dari Ambon yang sedang dilanda kerusuhan. Tulisan ini dibuat dengan tujuan mengungkapkan fakta-fakta yang berhubungan dengan tragedi 19 Januari 1999, di Ambon (dimaksudkan Ambon dan pulau-pulau Lease, dan Seram - Maluku Tengah, khususnya, dan Maluku pada umumnya), di dalam mengantisipasi kebohongan yang sengaja diedarkan untuk mendiskreditkan umat Kristen (Protestan dan Katolik), dan untuk memberikan pernyataan bahwa, 1. Kami, umat Kristen di Ambon bukan Perusuh 2. Kami, umat Kristen di Ambon bukan Penjarah 3. Kami, umat Kristen di Ambon bukan Pembunuh Wanita dan Anak-anak 4. Kami, umat Kristen di Ambon bukan Pembohong/Pemutar-balik kenyataan, ataupun pelanggar janji 5. Kami, umat Kristen di Ambon bukan aktivis RMS (Republik Maluku Selatan) PRA- 19 JANUARI 1999 Walaupun sebagian dari data ini baru dimunculkan sesudah terjadinnya tragedi 19 Januari 1999, namun dapat dikategorikan sebagai indikator bagi tragedi tersebut. Tiga dari sekian indikator penting yang baru disadari kemudian adalah, 1. Adanya telpon interkokal dari pulau Jawa, yang memperingatkan saudara & kenalan suku Jawa yang Muslim, yang berada di Ambon, untuk segera meninggalkan Ambon. 2. Adanya kegiatan saling memperingatkan, baik lewat telpon ataupun secara langsung, antar para pembantu rumah tangga asal Buton dan Muslim, untuk tidak melakukan sembayang Ied (Lebaran) di Mesjid Al Fatah (Pusat), karena akan terjadi "baku potong" (istilah lokal). 3. Adanya ungkapan dari pihak Muslim yang secara tidak disengaja dibocorkan oleh seseorang Muslim yang setia terhadap kawannya yang Kristen, bahwa, " Dalam beberapa jam saja, Ambon akan dapat dikuasai". Dari data di atas, dapatlah disimpulkan bahwa Tragedi 19 Januari 1999 tersebut bukan terjadi begitu saja, tetapi sudah direncanakan oleh pihak umat Islam, dan bukan secara lokal tetapi secara Nasional. Di dalam temu-wicara antar mahasiswa dengan satu pakar hukum dan tiga pimpinan/sekjen partai baru, yang disiarkan secara Nasional, mahasiswa dengan terang menyatakan bahwa sumber dari beberapa kerusuhan akhir-akhir ini, seperti tragedi Ketapang, tragedi Kupang, trageri Dobo (Maluku Tenggara), dll, ada di Jln. Cendana, dan pernyataan ini tidak dibantah, baik oleh moderator, maupun para narasumber yang ada. Ada dugaan kuat bahwa Prof. Habibie dengan konco-konconya juga terkait dengan kerusuhan-kerusuhan tersebut? Sangat mungkin, tujuannya adalah untuk melumpuhkan, atau menghabiskan sama sekali kekuatan umat Kristen di Indonesia (HKBP sudah dibelah duluan, dan Timor Timur akan dilepaskan begitu saja atau diadu (?)), dan di dalam hal Tragedi 19 Januari 1999, perlu diingat bahwa Ambon adalah salah satu basis kuat bagi PDI-Megawati. SELASA, 19 JANUARI 1999 Mengapa tanggal 19 Januari 1999 dijadikan alternatif bagi hari-H? Tiga alasan penting yang sangat mungkin mendasari penetapan hari-H tersebut, yaitu, 1. Di dalam suasana Lebaran, semua kegiatan konsolidasi,/penyusunan kekuatan dan penyebaran informasi, akan disamarkan oleh kegiatan silaturahmi (kumpul-kumpul dan saling mengunjungi) 2. Penekanan pada unsur "kejutan" bagi pencapaian hasil maksimum, karena tidak seorang Kristenpun yang akan menyangka bahwa umat Islam akan tega menyerang pada hari Lebaran 3. Hari Lebaran dapat digunakan untuk memutar-balikkan kenyataan, bila ternyata penyerangan itu gagal, yang sekaligus mendiskreditkan umat Kristen, yang dianggap tega melakukan kerusuhan dikala umat Islam lagi merayakan Hari Raya mereka (hal ini memang sekarang terbukti) Hari itu, Selasa, 19 Januari 1999, antara jam 14.00 - 15.00 WIT, seorang pemuda Muslim asal Bugis, memeras seorang sopir Angkot benama Jopi (Kristen), disekitar pasar Batu Merah (Batu Merah adalah desa di Kota Ambon yang dapat dikatakan 99% Muslim). Yopi yang marah, kemudian pulang ke rumah mengambil parang dan kembali mencari pemeras asal Bugis tersebut. Pemeras yang sudah melarikan diri, menyabarkan berita bahwa "umat Kristen mengejarnya, dan sekarang akan menyerang dan membakar rumah umat Islam". Termakan oleh isu yang disebarkan pemuda asal Bugis tadi, atau memang merasa bahwa pancingan untuk mencari alasan bergerak sudah mengena, sekitar jam 16.00 WIT., umat Islam Batu Merah lalu menyerang desa Mardika (dominan Kristen) yang berbatasan, lengkap dengan persenjataan seperti parang dan tombak, dll, termasuk alat pembakar yang membakar empat rumah di desa Mardika. Melihat cara pemuda Kristen di desa Mardika mempertahankan diri, yaitu dengan menggunakan batu , kayu dan apa yang sempat terpegang, lalu dibandingkan dengan penyerang Muslim yang bersenjata lengkap, dapatlah dibuktikan bahwa umat Islam sudah dipersiapkan, sedangkan umat Kristen yang kemudian dituduh sebagai agresor, sama sekali tidak menyangka akan diserang, apalagi bersiap untuk menyerang. Apa yang ditulis oleh Tabloid SIAR adalah dusta besar dan pemutar balikan kenyataan yang memalukan, sebab, 1. Walaupun banyak sopir angkot asal Sulawesi Selatan yang dipekerjakan 'hanya' oleh beberapa Haji sedaerah asal, masih lebih banyak sopir angkot pemuda Ambon yang Kristen. 2. Seorang dengan logika sederhana akan mempertanyakan, "Apakah memang Yopi berani memeras seorang Muslim di dalam daerah mereka (seperti kata tabloid SIAR sendiri: "Basis Perekonomian Muslim")? Pada saat yang hampir bersamaan, 12 rumah di desa kecil, Silale (minoritas Kristen, masih di dalam kota, dan sangat dekat dengan Mesjid Al fatah) dan sebuah Gereja, "Sinar Kasih" dibakar (mulai dari rumah kel. Nikijuluw; janda, dosen FKIP-Unpatti, almarhum suaminya dulu juga dosen pada Fak. yang sama). Sesudah itu, umat Kristen lalu memberikan reaksi. Begitu cepatnya reaksi pemuda Kristen meluas ke seluruh kota dan sekitarnya, sehingga penyerang Muslim terkejut dan gigit jari. Pernyataan bahwa "dalam beberapa jam kota Ambon dapat mereka kuasai", ternyata hanya luapan kesombongan sesaat, yang kemudian diubah menjadi DUSTA, dengan mengatakan bahwa "reaksi seperti itu terjadi karena umat Kristen memang sudah siap mau menyerang", dan lalu menghubungkannya dengan RMS. Mereka lupa bahwa umat Kristen selama ini hidup di dalam bayangan bahwa sudah hampir 500 Gereja yang dirusak dan dibakar, sementara tidak ada keadilan yang diberlakukan. Akibatnya, sudah seperti menjadi kecenderungan bahwa, bila seorang Muslim terinjak jari kakinya, ia akan pulang dan membakar Gereja. Kami tidak dendam, tetapi kami punya hak untuk mempertahankan Gereja kami yang tinggal, dan punya hak untuk marah kalau Gereja hendak atau sudah dibakar. Mereka sempat melempari kaca Gereja Bethleham, tetapi kemudian mundur karena dihadang beberapa pemuda Kristen. Merasa kewalahan, seseorang asal Buton lalu membakar SD AlHilal (Islam) yang berada di seberang jalan dari Gereja Bethlehem, dengan harapan, 1. Kebakaran meluas dan membakar rumah-rumah sekitar milik orang Kristen, dan jika mungkin, Gereja Sidang Jemaat Allah yang berada pada sisi yang sama dari jalan, RS GPM di depannya, dan gereja Betlehem juga. 2. Perbuatan membakar SD AlHilal ini bisa ditimpakan kepada umat Kristen. Harapan mereka tidak sepenuhnya terpenuhi, karena hanya tiga rumah milik orang Kristen yang terbakar, sedangkan seorang ibu Kristen telah memberikan kesaksian bahwa beliau melihat sendiri lelaki asal Buton tersebut membakar SD Alhilal dengan mengendap-endap melalui parit besar, tepat di bawah sekolah tersebut Demikian, kerusuhan meluas hari itu di seluruh bagian kota Ambon dan sekitarnya, dengan tambahan 15 mobil (milik orang Muslim) dibakar, puluhan motor dibakar, ratusan becak dan kios-kios dibakar, sebagai akibat reaksi pemuda Kristen. RABU, 20 JANUARI 1999 Sekitar jam 05.00 subuh, pemuda Kristen menyerang dan membakar kompleks pertokoan dan pasar. Pertokoan Pelita yang sebagiannya dimiliki oleh warga keturunan Cina, hampir habis terbakar. Pasar Gambus yang ditempati oleh orang asal Bugis, Makasar dan Buton, serta deretan pertokoan di depannya dibakar habis, dan banyak pemilik dan penghuni pasar ini dibunuh atau melarikan diri. Sebagian wanita dan anak-anak, dan malah beberapa pria yang menyerah, diamankan ke Pos Polisi Kota (oleh pemuda Kristen), dan kemudian ditampung di Gereja Maranatha (Gereja Pusat). Daerah pertokoan di kedua sisi Ambon Plaza (tidak dibakar), yang dihuni oleh orang asal Sumatera, Bugis, dan Makasar, dibakar habis. Bentrokan terjadi lagi di Mardika (daerah pasar dan pertokoan), dan kaum Muslim terhalau dari sana, sehingga sebagian pasar yang dikuasai mereka, dibakar oleh pemuda Kristen. Di dalam insiden ini seorang pemuda Kristen (Charles) tertembak Brimob. Penyerang Muslim sempat memasuki Jalan A.Y. Patti, menjarah beberapa toko milik orang keturunan Cina, dan mengambil beberapa senapan angin. Mereka kemudian bentrok dengan pemuda Kristen yang menghalau mereka mundur ke arah Mesjid Al Fatah. Hari itu juga, terjadi penyerangan dari desa Galunggung (bukit di atas Batu Merah), terhadap penghuni Kristen Batu Merah Dalam, sementara mereka telah membunuh 9 orang Kristen yang tinggal di kompleks Perpajakan di Galunggung (di antaranya Bpk. Waelauru, Purnawirawan Polisi). Bentrokan terjadi di daerah Ponegoro (mayoritas Muslim) atas dan bawah, 6 rumah Muslim dibakar, beberapa rumah Kristen dilempar dan dirusaki, sementara seorang pemuda Kristen, Richard Alfons ditembak oleh anggota ABRI (AD) dan dirawat di RSU Dr. Haulussy . Gereja Nehemia di Batu Merah Tanjung dibakar, beberapa parmuria asal Menado dibunuh, dan buah dadanya dipotong dari tubuhnya (seorang asal Jawa yang dikira asal Menado juga dibunuh). Warga Muslim di desa Silale, Waihaong, dan Soabali (di sekitar Mesjid Al Fatah) mengamuk, lalu merusak dan menjarah rumah-rumah milik orang Kristen (minoritas) yang tinggal disana, sementara puluhan keluarga Kristen tersebut harus meninggalkan rumahnya tanpa membawa apa-apa demi menyelamatkan diri dan berlindung di Mapolres. . Rumah-rumah mereka tidak dibakar (karena nanti akan kena rumah Muslim juga), tetapi dijarah habis-habisan. Batu angin hingga engsel pintu dan jendela juga diambil (diketahui kemudian). Alkitab diberaki, dan dinding rumah ditulisi dengan tulisan yang menghina Yesus Kristus (salah satunya didekat sakelar listrik, berbunyi, "Yesus juga harus disetrom seperti ini". Erick Lokollo (Kristen) diiris lehernya di depan rumahnya, tetapi tidak meninggal dan sekarang dirawat di RSU, dan Pedro Yehubiyanan (Kristen) ditembak pada bahunya dan juga dirawat di RSU. Sementara itu, tersiar kabar bahwa tiga buah Gereja di Sanana, Maluku Utara dibakar oleh Muslim setempat. Pemuda Kristen di daerah Kuda Mati dan sekitarnya menyerang daerah Waringin yang dihuni oleh orang Muslim asal Sulawesi Selatan, dan membakar hampir habis rumah-rumah mereka (beberapa rumah dan toko milik orang Kriaten juga ikut terbakar). Seorang pemuda Kristen yang memanah seekor Kucing (di banyak kejadian, kaum Muslim memiliki ilmu mengubah diri menjadi binatang seperti kucing, burung, atapun menjadi phon pisang, dll), dan akan mengambil anak panahnya, mati tertembak Kostrad (kesaksian penduduk sekitar). Penduduk Muslim dari desa Hila, Kaitetu, Mamala, Morela, dan Wakal (di luar kota Ambon), menyerang, menjarah, dan membakar habis rumah-rumah penduduk Kristen, 3 buah Gereja (Katolik dan Protestan), di desa Telaga Kodok dan Benteng Karang. Penduduk setempat yang pada jam 08.30 telah ditenagkan oleh petuga Pos Keamanan 'Simpatik' di desa Telaga Kodok untuk tidak mempercayai isu akan diserang. Sebagian lalu bekerja seperti biasa dan ada yang pergi ke kebunnya. Sekitar jam 09.30 terlihat ribuan orang bergerak mendatangi desa tersebut, tetapi kata seorang karyawan Kantor Periwisata (Muslim), tidak usah panik, karena "mereka akan bertakbiran ke Ambon". Tetapi ketika sampai, mereka lalu menyerang penduduk setempat, pria, wamita dan anak-anak. Seorang Ibu yang sedang hamil 7 bulan dibuhuh, perutnya dibelah, lalu bayinya dikeluarkan dan dijadikan tameng terhadap lemparan batu dari penduduk yang bertahan. Menurut seorang saksi mata asal Jawa (Muslim) yang dievakuasi ke Jawa dengan pesawat Hercules TNI, ia baru pernah melihat kekejaman seperti itu, dan juga perkosaan terhadap anak gadis kecil! INI YANG SEBENARNYA TERJADI!! (bukan seperti kebohongan dan pemutar balikan fakta yang dilakukan oleh SIAR dan bebarap tabloid bermoral rendah). Pria, wanita dan anak-anak yang bersembunyi di goa, dibom dan dipaksa keluar. Dua pria disiksa dan dibunuh di mulut goa. Para wanita kemudian digiring menuju dusun Sapuri di ujung desa benteng Karang, dan beberapa kemudian disiksa dan dipotong ketika menyebut nama Yesus. Puluhan korban berjatuhan. Sebagian disiksa sebelum dibunuh. Ada yang dilempar ke dalam puing-puing rumah yamg masih membara, ada yang dipotong kecil-kecil, dan ada yang ditusuk dengan bambu dan dibakar seperti sate. Yang kemudian terjadi adalah bahwa sebagian penyerang tinggal di desa tersebut dan sebagian lalu bergerak menuju desa Passo (Kristen), sementara beberapa truk pulang pergi membawa barang-barang jarahan ke desa para penyerang tadi. Di dalam perjalanan ke Passo, mereka sempat menyerang desa-desa Kristen, Hunuth, Negeri Lama, dan Nania. Rumah penduduk di desa Nania dll, Gereja, Pastori dirusak dan dibakar. Pendeta P. Theysen yang sementara berdoa di dalam Gereja nania, dibunuh. Namun, mereka tidak berani menyerang Passo yang ternyata hanya dijaga oleh sekitar 30 orang (menurut pengakuan mereka, terlihat hanya ada satu pintu yang dijaga ratusan orang besar-besar, sementara alternatif menyerang lewat sungai/kali tidan bisa dilakukan karena air akan memunahkan ilmu mereka). Mereka lalu kembali ke desa mereka. Keanehan yang ada di dalam peristiwa ini adalah, 1. Warga Kristen desa Telaga Kodok dan Benteng Karang ditenangkan oleh petugas keamanan pada Pos Penjagaan Simpatik di desa Telaga Kodok bahwa tidak akan ada penyerangan. 2. Ketika terjadi penyerangan, petugas-petugas tersebut menghilang dari Pos, dan sampai saat ini tidak dipermasalahkan. 3. Sampai sekitar sing hari, tidak ada batuan keamanan yang datang, tetapi saksi mata yang sempat menyelamatkan diri melihat sebuah truk berisi petugas yang datang, melepaskan beberapa tembakan, tetapi kemudian berpelukan dengan para penyerang, lalu pergi. 4. Gerakan menuju desa Passo dan kembali harus melalui markas/asrama AD , dua kali. Mengapa mereka bisa lolos? Penyerangan terjadi juga desa Hila Kristen (desa Hila terbagi dua) dan membakar rumah penduduk, dan Gereja Hila (tertua di Maluku). Penduduk Hila Kristen yang sudah dinasihati oleh seorang asal Buton agar menyingkir, ditenangkan oleh penduduk Hila Islam yang katanya akan melindungi mereka. Malamnya, terlihat beberapa pemuda Muslim dengan berikat kepala putih (pemuda Kristen berikat kepala merah atau ungu), dengan meneriakkan "Allahu Akbar" , memasuki daerah Hila Kristen dan mulai menyerang (Itulah jenis dan gaya berjanji (dan cara menyerang) orang Muslim yang terlihat akhir-akhir ini). Serangan juga terjadi pada rombongan Bible Camp dari Gereja Kristen GKPB, yang saat itu menggunakan Marine Field Station milik Unpatti, di desa Hila. Ketika pergi mencari tambahan mobil untuk mengangkut rombongan ke Ambon, tiga utusan masing-masing Pendeta M. Sainyakit, dan sopir Mataheru, dibunuh dan dibakar bersama mobil, sedangkan H. Hursepuny yang adalah anggota polisi diloloskan karena pernah bertugas di desa Wakal. Di Field Station, Roy Pontoh, Henky Pattiwael dan Hermanus Kursain dibunuh, sedangkan sisi rombongan yang kemudian terpecah menjadi dua bagian, dapat meloloskan diri dari pembunuhan. Penyerangan di dusun Wahatu, desa Wakal sendiri, menyebabkan satu rumah terbakar dan 13 orang dievakuasi (selamat). KAMIS, 21 JANUARI 1999 Penyerangan dari penduduk dusun Kamiri, jam 05.00 (asal Buton, Bugis dan Makasar) terhadap dusun Wailete (keduanya di desa Hative Besar), berakibat terbakarnya 4 buah rumah guru, 1 buah sekolah, 2 rumah penduduk Kristen, dan pengrusakan 2 rumah penduduk Kristen yang lain. Tindakan ini kemudian dibalas oleh penduduk Kristen Hative Besar dangan membakar habis semua rumah (22 buah) dan 1 Mesjid di dusun Kamiri. Korban meninggal 4 orang, luka berat 10 orang (di RS), dan luka ringan 100 orang (dirawat di asrama AD-733, Wayame). Bentrokan di daerah Ponegoro atas kembali terjadi, dan 10 rumah penduduk Muslim dibakar. Saudara Usmany (Kristen) terbunuh di desa Tantui, sementara 5 mayat dikitemukan di Batu Bulan, daerah Batu Gajah Atas. Penyerangan pemuda Kristen yang membakar "sebagian" rumah-rumah penduduk Muslim (termasuk daerah pasar buah milik orang-orang asal Sulawesi selatan) , mulai dari jembatan Pohon Puleh dan jalan Baru, hingga sudut Gereja Silo (daerah di sekitar Gereja Silo yang berdekatan dengan Tugu Trikora ini menjadi pusat pertikaian). "Sebagian rumah-rumah Kristen di daerah yang sama dibakar "duluan" oleh penyerang Muslim. Selanjutnya, tidak banyak yang terjadi, dan hanya hal kecil-kecil yang tidak berarti sehingga tidak perlu dituliskan di sini. JUMAT, 22 JANUARI 1999 Daerah sekitar Gereja Silo dan Tugu Trikora kembali bergejolak karena adanya pelemparan batu dari Jalan Baru dan Soabali (Muslim), sementara diketahui bahwa 6 orang Kristen asal desa Ulath, Saparua, yang pergi ke kebun mereka, tidak kembali sampai saat ini. Peristiwa besar yang terjadi hari ini adalah AKSI DAMAI yang dilakukan oleh Umat Kristen di Tugu Trikora/Gereja Silo dengan Ketua Sinode GPM, Gubernur Maluku, DanRem, DanLantamal Ambon, dan Ketua Klasis Kota Ambon, dan juga di tempat lain seperti di Mesjid Al Fatah, dll. Aksi damai ini kemudian dinyatak Gubernur lewat TV Stasiun Ambon dan melalui mobil penerangan, maupun dengan pamflet yang disebarkan dari helikopter polisi. Keadaan menjadi agak tenang, tidak ada saling menyerang, walaupun kedua pihak tetap siaga danmenjaga daerah masing-masing. SABTU, 23 JANUARI 1999 Adanya aksi penghapusan tulisan-tulisan di Jalan A.Y. Patty oleh 5 orang pemuda dengan didampingi oleh Kapolsek Sirimau dan beberapa petugas Polisi. Bentrokan hampir saja terjadi di daerah Ponegoro bawah, tetapi dicegat petugas Kostrad. Pemuda Kristen setempat menjadi marah dan hendak menyerang, karena seorang teman mereka yang mengendarai motor, dipukul oleh para pemuda Islam Ponegoro, padahal aksi damai sudah dilakukan. Kemudian terdengar beberapa tembakan di bagian kota yang berbeda, sementara 5 orang terbunuh di daerah Mangga Dua (daerah Kristen). Diperkirakan bahwa ke-5 orang ini adalah penyerang Muslim yang menyusup karena dibayar, sebab di dalam saku mereka, petugas menemukan uang sebesar tiga juta rupiah. Selain itu, Ibu Henny Talanila ditembak di dada (alasan tidak jelas) oleh polisi, dan dirawat di RS. Bentrokan kecil terjadi di daerah Kuda Mati dan Kampung Banda sehingga menimbulkan kebakaran rumah. Pada jam 14.00, Dandim Pulau Ambon barsama aparat turun ke Jalan Pattimura dan memerintahkan pemuda Kristen untuk masuk ke halaman Gereja, letakkan senjata dan buka ikat kepala, sementara 3 orang pemuda Kristen di desa Bere-Bere yang lagi duduk di tepi jalan, ditembak oleh petugas(alasan tidak jelas). Mereka masing-masing adalah, Roy Tomasoa, Jorgen Hehanusa, dan Hery Muskitta. Bentrokan terjadi di daerah Gudang Arang, dan 7 orang pemuda Kristen luka-luka kena tembak (bukan kena senjata pihak Muslim). Karena merasa petugas berpihak kepada Muslim, mereka nekad memotong tangan dan kepala seorang petugas Kostrad, yang berkibatkan penggeledahan petugas dengan menendang pintu-pintu rumah penduduk dan menangkap serta memukuli pemuda yang dicurigai. Sementara itu, saudara W. Maitimu (Kristen), dipotong tangannya oleh seorang asal Buton dan sekarang dirawat di RS. MINGGU, 24 JANUARI 1999 Bentrokan antara desa Liang (Islam) dan Waai (Kristen) dapat dicegah petugas. Terjadinya pemukukan dan penganiayaan petugas terhadap pemuda-pemuda Kristen yang membawa senjata tajam di jalan/dalam kendaraan, dengan alasan bahwa sudah dilarang untuk membawa senjata tajam di jalan/keluar rumah. Sesudah itu ada petugas yang masuk rumah penduduk di sekitar Urimesing dengan paksa untuk menggeledah senjata tajam, padahal tidak ada instruksi untuk itu. Agar jelas, bunyi larangan membawa senjata tajam dan tembak di tempat itu adalah sebagai berikut, "Semua orang dilarang membawa senjata tajam di jalan/di luar rumah. Jika ditemukan ada yang membawa senjata tajam, senjata tersebut akan disita petugas. Jika melawan, ia akan ditembak di tempat". Perhatikan bahwa akan dilakukan penyitaan, bukan pemukulan atau penyiksaan, jika tertangkap membawa senjata tajam di jalan/di luar rumah. Seorang anggota Provost masuk rumah penduduk Kristen di daerah Batu Gantung, dan memukuli sdr. Ulis Lainata tanpa alasan jelas, sehingga menimbulkan kemarahan penduduk setempat. Petugas AD-731 menangkap beberapa pemuda Kristen di sekitar Gereja Silo karena menemukan dua buah belati di dalam mobil angkot, dan menyiksa mereka, lalu dibawa ke Makorem dengan telanjang badan. Anggota Brimob menangkap sdr. S. Sapulete dan B. Warwarin (Kristen) di Batu Gajah Atas dengan alasan yang tidak jelas. Sdr. A. Akiwen (Kristen) yang mengantar temannya Nn. Lamamuli, dibunuh di desa Batu Merah. Keadaan selanjutnya di kota Ambon tidak jauh berbeda dengan tanggal 24 Januari, tegang, dan dibumbui dengan penagkapan dan pemukulan, dan juga pemebakan terhadap pemuda Kristen yang menjaga Gereja Silo. Dua pemuda yang menjaga Gereja Bethlehem, ditangkap petugas dengan alasan bahwa mereka ditemukan sedang membakar Alquran di dalam Gereja (hal yang aneh). Terjadi peristiwa penyerangan di Kairatu, Seram Barat, yang merusak (terbakar) pasar dan rumah penduduk asal Buton dan Sulawesi Selatan. Pada tanggal 14 Pebruari 1999, jam 05.00 pagi, desa Kariuw (Kristen) di pulau Haruku, diserang oleh gabungan dari desa-desa Muslim, di antaranya, desa Pelau, Kabau dan Ruhumony. Desa Pelau adalah desa asal Gubernur Maluku sekarang, DR.IR. M.S. Latuconsina, yang pada siang tanggal 13 Pebruari 1999, beru saja mendatangi desa tersebut bersama Muspida dan memberikan pengarahan dan penjelasan tentang situasi dan kesepakatan DAMAI yang sudah dibuat. Salah satu ucapan beliu saat itu adalah, "Kalau dong (kamu) bikin malu beta, beta akan turun". Apa kata beliau sekarang? Akibat penyerangan ini rumah-rumah dan Gereja dibakar. Penduduk Kariuw yang laki-laki masih mencoba bertahan, dan malah menjatuhkan korban di pihak penyerang, sedangkan para wanita dan anak-anak dapat diselamatkan. Alasan yang dikemukakan beberapa masmedia seperti "terbakarnya rumah kebun", dll, adalah alasan palsu yang dibuat-buat. Di Hari Minggu pagi, satu-satunya kegiatan orang di desa Kristen, apalagi di dalam situasi seperti ini adalah "bersiap untuk beribadah di Gereja", dan saat begini adalah saat terbaik untuk menyerang. Kariuw tergolong desa Kristen yang kecil, sedangkan desa-desa Kristen lain yang lebih besar dan disegani pihak Muslim adalah seperti desa Hulaliu, Haruku-Sameth, Aboru dan Oma. Desa Hulaliu sebenarnya bersaudara dengan desa Pelau, karena dulunya desa Hulaliu adalah desa Muslim. Karena menjadi Kristen, mereka terusir dan pindah ke tempat sekarang ini. Desa ini adalah desa yang paling disegani pihak Muslim di Haruku, dan karena itu, pihak Pelauw telah mendatangi mereka untuk melakukan aksi damai, tetapi disuruh pulang dan dianjurkan untuk melakukan aksi damai dengan desa Kariuw yang kecil. Bulkannya berdamai, desa Pelauw malah menyerang desa Kariuw dengan dibantu oleh desa-desa Muslim yang lain. Hal ini menampakkan kebohongan mereka tarhadap perjanjian damai dan sifat pengecut mereka yang hanya berani terhadap yang lemah. Yang aneh di dalam peristiwa ini adalah, 1. Untuk mencapai desa Kariuw, penyerang hanya bisa melewati dua jembatan, dan kedua pada kedua jembatan ini terdapat Pos Penjagaan aparat AD. Mengapa mereka bisa lolos masuk ke Kariuw? 2. Sementara itu, 10 orang pemuda dari desa Hulaliu yang hendak menolong desa Kariuw, ditembak petugas sehingga 5 meninggal dan 5 lainnya luka-luka Yang paling aneh dari keseluruhan peristiwa ini adalah bahwa: 1. Ambon/Maluku hanya memiliki Korem yang berada di dalam wilayah Kodam Cenderawasih, Irian Jaya, dan sewajarnya mendatangkan bantuan tenaga keamanan dari Irian Jaya, tetapi malah mendatangkan pasukan Kostrad dari Kodam 7 Wirabuana, berpusat di Ujung Pandang. 2. Lebih-kurang 150 pemuda Kristen diamankan di Polda dan Korem karena dicurigai sebagai provokator. Pertanyannya, apakah provokator itu biasanya ikut memegang senjata dan menyerang, ataukah menghasut dan bersembunyi? 3. Di dalam hal peristiwa 19 Januari 1999, pihak Kristen melakukan reaksi terhadap aksi pihak Muslim. Apakah provokator biasanya hanya ada pada pihak yang melakukan reaksi? 4. Di dalam pemeriksaan para tersangka, mengapa selalu ada unsur AD yang hadir, padahal ini bukan pengadilan militer? Bukankah cukup pemeriksa dari Kepolisian dan Kuasa Hukum? Ungkapan yang dikemukakan seorang perwira (maaf kesatuan dan lainnya tidak bisa disebutkan), "Ini bukan lagi permainan kelas kakap tetapi permainan kelas HIU". Pendapat kami, kelompok HIU itu hanya ada di Jakarta! Akibat tindakan aparat yang cenderung memihak, pihak Muslim mendapat angin untuk melanggar perjanjian damai (seperti yang dinyatakan juga oleh ketua MUI Ambon dan ketua Yayasan Al Fatah), dan melakukan gangguan secara gerilya dan sporadis (misalnya serangan daerah Galunggung terhadap Batu Merah Dalam, Lemparan batu dari Batu Merah Bawah ke Mardika), dan jika pihak Kristen bereaksi, petugas langsung menghadang dan menembak. Hari ini saja, beberapa warga Kristen datang melapor ke Posko Gereja Maranatha bahwa di siang bolong, angkot yang ditumpangi mereka (sebagian mahasiswa) ditahan di Batu Merah dan diancam. Sementara itu, pihak Muslim bebas melewati daerah Kristen pada siang hari, tanpa diganggu. Perlu dikemukakan juga bahwa di dalam suasana damai sesuai perjanjian, sempat ditangkap beberapa remaja laki-laki yang berkeliaran di dalam daerah Kristen. Ketika seorang diantaranya diancam, misalnya dengan ancaman akan dibakar, ia mengaku dibayar untuk membakar rumah orang Kristen, oleh seorang Haji asal Bugis, pemilik angkot Lin. III. Dengan bersusah payah menghalangi kemarahan pemuda Kristen yang hendak membunuhnya, ia kemudian diserahkan ke Polisi, lengkap dengan rekaman pengakuannya. Apakah Haji tersebut (kalau tidak salah Haji Soleman) sudah ditangkap? Meminjam istilah mereka, kami cuma bisa mengatahan, "walahualam". Dengan demikian kami akhiri tulisan ini dengan meminta kepada Tuhan Yesus Kristus, Juru Selamat Dunia, untuk, 1. Mengutuk para provokator HIU sampai ke TERI dan semua kaki-tangan mereka, karena kami percaya, kami bukan agresor atau perusuh 2. Menyelamatkan negara ini dari kutuk murka Allah, dengan kesusahan dan kemelut berkepanjangan, karena pembakaran Rumah Tuhan dan penghinaan (bukan kepada kami) tetapi kepadaNya dengan memberaki Alkitab, dll. Dan meminta kepada aparat keamanan agar, 1. Saudara-saudara kami seiman yang sudah ditangkap karena dicurigai sebagai provokator, segera dibebaskan, karena seorang yang arif akan sadar bahwa tindakan ini jauh dari kebenaran , dan tidak akan menyelesaikan masalah. 2. Cari dan tangkaplah provokator HIU dan kaki-tangan mereka di Jakarta dan sekitarnya, bila anda-anda bukan pengecut, bukan penegak hukum yang munafik, dan yang mengatakan dirinya orang beriman. Salam dari Ambon yang sudah tidak manis lagi. Persekutuan Kasih Pemuda Kristen. Catatan: Tulisan berikutnya akan mengulas masaalah "Meluruhnya semangat PELA-GANDONG, Penyebabnya, dan Siapa-siapa yang bertanggung jawab" , serta mengapa masyarakat Bugis-Makasar-Buton yang sangat menjadi sasaran kemarahan orang Kristen di Ambon dan sekitarnya. ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 23 Feb 1999 jam 09:32:18 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
