----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang
Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews.
----------------------------------------------------------

From: teuku simarinding

Gerakan Masyarakat Peduli Harta Negara (Gempita), sebagai
lembaga kontrol sosial saat ini memang sangat diperlukan
terutama untuk memberantas KKN. Ketua Lembaga ini sdr.
Albert Hasibuan dari track record-nya jelas tidak diragukan.
Dia kompeten mengetuai lembaga terhormat ini.
Gempita akhir-akhir ini mendesak Meneg BUMN untuk segera
memecat Dirut BRI, kalau tidak dia mau ke DPR. Lepas dari
caranya,  semangat memberantas KKN ini sangat terpuji, namun
hemat saya prioritas yang digarap keliru. Djokosantoso,
meskipun tersangka, perbuatan kriminalnya tidak jelas. Kalau
 cuma  ngelanggar BMPK, umumnya semua Bank, termasuk Bank-Bank
Pemerintah,  punya masalah yang sama. Soal ngasih kredit
kepada 10 korporasi, sebagian besar mereka mendapat kredit
itu dari pendahulunya, seperti yang diakui oleh Ponco Sutowo.
Kalau benar Gempita peduli atas harta negara, sebenarnya ada
target yang lebih cocok digarap duluan, yakni perbuatan rekan
seperguruan Djokosantoso, yang punya nama agak sulit, yakni Salahuddin
Nya  Kaoy,  sesama murid dan kader Moeljoto
Djojomartono.
Salahuddin Nya  Kaoy, ex Dirut Exim telah membantai Exim dengan kerugian
valas sampai US$ 2.3 milyar atau setelah direalisir
mencapai Rp 20 trilyun. Dagang valas yang jeblok ini tentu
minimal diketahui oleh Dirutnya waktu itu (Salahuddin NK) yang bertindak
otoriter dan mengaku paling jago dagang valas. Yang
lebih jujur SNK-lah otak dari kehancuran Exim! Belum lagi
kreditnya yang telah diobok-obok habis-habisan karena diambil
alih oleh perusahaannya sendiri dengan cukongya dari Medan
yang bernama Santo si tukang kacamata itu. Belum lagi anak-
anak perusahaan Dana Pensiunnya yang telah diperas dan
dijualin seenak perutnya antara lain gedung Exim di jalan
Tanjung Karang yang sekarang dipakai sebagai kantor
pribadinya sendiri. Ular calon besan mbak Tutut ini sekarang
sedang menikmati hasil jarahannya seolah-olah ia tak tersentuh
oleh aparat hukum karena lihaynya bermain duwit.
Gara-gara perampokannya yang tamak dan membabi buta ini
sekarang Exim terpuruk paling dalam sehingga di-merge dan 75% pegawainya
kena PHK.
Kalau Pemerintah konsekuen CAR minus 100% keatas dilikuidasi,
malah Exim dan Bapindo akan dilikuidasi alias 100% karyawannya
di PHK. Hemat saya dosa Salahuddin dan begundalnya yang
menyebabkan minimal 5.000 karyawan Exim di PHK ini jauh lebih
urgent digarap katimbang  dosa  Djokosantoso yang malah bisa mengangkat
kelas BRI diantara Bank-Bank Pemerintah. Ini
kalau Gempita sungguh-sungguh memang membela harta negara,
tentu harus bekerja dengan skala prioritas.

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 23 Feb 1999 jam 09:39:19 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke