---------------------------------------------------------- FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL: go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews. ---------------------------------------------------------- Precedence: bulk ABRI DITAKUTI, BUKANNYA DICINTAI Oleh: Sulangkang Suwalu Ada pendapat yang ekstrim bahwa tanpa ABRI tak akan ada kemerdekaan, tanpa ABRI tak akan ada pembangunan, tanpa ABRI tak akan ada keamanan. Ringkasnya ABRI lah yang menentukan segala-galanya. Benarkah demikian? Ada baiknya yang mengemukakan pendapat semacam itu membaca sebuah buku tipis, kecil, yang diterbitkan Pustaka Goro-goro (1998). Buku itu berjudul: "Mati Ketawa Cara Daripada...". Di bawah judul tersebut tertulis kalimat sebagai berikut: "Menurut seorang analis militer Singapura, angkatan bersenjata Indonesia adalah kekuatan militer paling kuat di dunia. Angkatan Daratnya dengan mudah mengalahkan demonstran, Angkatan Udaranya selalu berhasil membidik udara kosong, Kepolisiannya dengan cepat bisa merobohkan para pemain bola dengan gas air mata" (hal: 19). Anekdot ini sungguh-sungguh tidak menyenangkan bagi setiap orang yang menilai ABRI kita adalah "ksatria Indonesia yang bertakwa kepada Tuhan YME serta membela kejujuran, kebenaran dan keadilan". Kita boleh tidak senang dengan anekdot yang mengejek ABRI tersebut, tetapi kenyataan adalah kenyataan. Marilah kita dengar apa yang dikemukakan Jalaluddin Rakhmat dalam Detak No 30 thn 01. ABRI KSATRIA INDONESIA? Harold Crouch menulis Artikel di Canberra Times, 4 Agt 1994. Ia keberatan Australia melatih AD (Indonesia), karena AD banyak dipergunakan untuk melakukan penindasan di dalam negeri. Melatih AD hanyalah meningkatkan "capacity for domestic repression". Crouch juga menyebutkan ABRI belum pernah terbukti menang menghadapi musuh dari luar, ABRI khususnya AD hanyalah tangguh dalam menghadapi rakyat yang tidak bersenjata. Crouch bercerita tentang sejarah penindasan yang dilakukan ABRI sejak permulaan Orde Baru. Jalaluddin Rakhmat mengatakan "Saya sungguh sulit membaca artikelnya. Saya ingin protes, Siapapun tidak akan setuju untuk menyebut kemenangan menghadapi rakyat yang lemah sebagai prilaku ksatria. Apa betul ABRI tidak pernah menang menghadapi musuh dari luar? Apa betul ABRI hanya menjadi alat represif dari rezim yang berkuasa? Jika begitu, tidak seorangpun akan berani menyebut ABRI sebagai ksatria yang membela kejujuran, kebenaran dan keadilan." Lebih lanjut, Jalaluddin mengatakan, "Saya berusaha mengumpulkan banyak bukti, kata Jalaluddin seterusnya, untuk membantah tesis Crouch. Saya gagal! Kini setelah berbagai kekejian DOM di Aceh, setelah penculikan dan penembakan para aktivis yang kritis, setelah berbagai kerusuhan yang dibaliknya ada bayang-bayang aparat (atau paling tidak ABRI tidak berhasil mengungkap provokatornya), saya dengan rasa berat mengumpat, 'Sialan, si Crouch ternyata benar!'" "Ketika menulis tulisan ini," tambah Jalaluddin, "saya membaca ribuan penduduk Desa Meunasah Blang Kandang, Kabupaten Aceh Utara, berduyun-duyun mengungsi, karena takut kepada ABRI, yang hilir mudik memasuki kampung mereka. Ini mengingatkan saya pada anekdot dari Timor Timur. Konon seorang yang sedang sekratul maut mendengar pintunya diketuk, ia panik. Ketika pintunya dibuka, dia bertanya: "Siapa Anda?" Yang datang menjawab ia malaikat maut. Orang sakit menarik napas panjang, merasa lega. "Syukurlah, Anda bukan ABRI". Jika pada akhirnya Timor Timur dilepas, maka tindakan represif yang dilakukannya ternyata tidak berfaedah. Ribuan prajurit ABRI yang gugur dalam merebut (atau membantu) Timor Timur berakhir dengan kekalahan. Sialan Crouch, lagi-lagi benar bahwa ABRI tidak pernah menang menghadapi musuh dari luar. Jika penduduk Aceh yang memilih untuk keluar dari negara kesatuan Indonesia, maka represif ABRI juga gagal dalam menghadapi rakyat sendiri. Demikian Jalaluddin Rakhmat. Uraian Jalaluddin Rakhmat ini mengingatkan penulis kepada sambutan Jenderal AH Nasution pada 1990, Jenderal Vo Nguyen Giap dari Vietnam berkunjung ke Indonesia. NASUTION YANG HEBAT Untuk menyambut datangnya jenderal Vo Nguyen Giap dari Vietnam di Indonesia, maka RB Sugiantoro/Ninok L melalui tulisannya dalam harian Kompas (25/6/90) antara lain mengatakan, "Bagi kebanyakan orang jenderal Vo Nguyen Giap dikenal sebagai pahlawan dan arsitek kemenangan Vietnam atas Perancis di Dienbienphu. Namun bobot jenderal ini jeias lebih daripada itu." Puncak dari perjuangan bangsa Vietnam di dasawarsa 1950-an, kata Sugiantoro seterusnya, adalah pertempuran menaklukkan benteng Dienbienphu, yang merupakan posisi kunci Perancis. Tanggal 7 Mei 1954 Denbienphu jatuh dan tak lama sesudah itu Perancis angkat kaki dari Vietnam. Dampak kemenangan Vietnam ini sangat besar. Negara-negara terjajah seolah mendapat kepercayaan diri baru untuk bisa mengusir penjajah. Sebagai arsitek kemenangan spektakuler ini, reputasi Giap melambung tinggi, berbagai julukan pujian antara lain "Napoleon Merah". Sebagai reaksi atas tulisan itu, maka jenderal AH Nasution, melalui Julius Pour, berkata, "Saya berpesan, jangan terpukau kepada Vietnam. Karena sejarah pengalaman TNI sudah mengajarkan bagaimana keberhasilan perang rakyat Indonesia dalam mengusir Belanda dengan kekuatan sendiri." (Kompas, 27/6/90). Dengan kata lain jenderal AH Nasution hendak mengatakan kemenangan Vietnam itu tidak dengan kekuatan sendiri, tetapi berkat adanya bantuan dari luar. Hal ini dapat disimpulkan dari kutipannya atas ucapan Kapten Kongli (Laos lama) bahwa lebih baik memilih TNI dibanding Vietnam, karena tentara Indonesia berperang dengan kekuatan sendiri tanpa bersandar kepada dukungan asing. Benarkah Indonesia berhasil mengusir penjajah Belanda hanya dengan kekuatan sendiri? Apa kah tak ada bantuan internasional baik melalui PBB, maupun melalui demonstrasi-demonstrasi, pemogokan-pemogokan dan pemboikotan kapal Belanda yang akan mengangkut pasukannya ke Indonesia, misalnya dari Australia? Jika Nasution mempunyai sedikit kejujuran, tentu adanya bantuan itu akan diakuinya. Hanya saja, karena situasi dan kondisi Indonesia berbeda dengan Vietnam, maka bentuk bantuan dari luar itu juga berbeda. Julius Pour juga menambahkan bahwa "Pak Nas, juga terbukti pernah sukses memimpin penumpasan aksi gerilya di dalam negeri". Begitu hebatnya Nasution ini di medan-laga, sampai-sampai tidak ada satu benteng Belanda yang bisa direbutnya selama revolusi fisik (1945-1950). Kecuali 6 jam di Yogyakarta, dan dibebaskannya tahanan dari penjara di Mojokerto. Nasution memang hebat untuk menumpas perlawanan rakyat dalam negeri, tapi jangan tanya menghadapi pasukan regular musuh dari luar. Mengakui kelebihan orang memang satu hal yang berat bagi orang yang tidak bersifat ksatria. Mungkin karena Nasution merasa lebin hebat dari jenderal Vo Nguyen Giap dan itu tidak dikatakan Sugiantoro/Ninok, maka Sugiantoro/Ninok dikecamnya sebagai "terpukau dengan Vietnam". Padahal apa yang dikatakan Sugiantoro/Ninok sebagaimana adanya saja. KESIMPULAN Belum pernah ABRI terpuruk begitu buruk seperti sekarang. Tampaknya itu adalah buah dari tindakan ABRI yamg represif terhadap rakyat selama 32 tahun Orde Baru Suharto berkuasa, sehingga rakyat menjadi takut pada ABRI dan bukannya mencintai dan bangga memiliki ABRI. Kebanggaan rakyat akan timbul pada ABRI, bila ABRI menganggap dirinya bagian dari rakyat dan karena itu memihak rakyat. Tanpa rakyat, ABRI serupa dengan ikan tanpa air. Kematian lah yang menantinya.*** ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 23 Feb 1999 jam 11:54:24 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
