----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang
Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews.
----------------------------------------------------------

Sabtu, 27 Februari 1999
Cak Nur Ungkap Runtuhnya Orba

Jadi Pembicara di Konferensi Korupsi Bersama Al Gore

Washington, JP.-

Prof Dr Nurcholish Madjid kemarin tampil sebagai salah seorang speaker pada
hari kedua konferensi internasional Global Forum on Fighting Corruption:
Safeguarding Integrity Among Justice and Fighting Corruption yang
berlangsung
di gedung Kementerian Luar Negeri.

Dalam konferensi yang diikuti sekitar 89 negara itu, Prof Nurcholish tampil
di
podium selama 15 menit. Tokoh yang kerap disapa Cak Nur itu merupakan
satu-satunya tokoh Indonesia yang hadir sebagai speaker dalam konferensi.
Selain Cak Nur, delegasi resmi Indonesia yang dipimpin Menteri Kehakiman
Muladi juga membawa Jaksa Agung Andi M. Ghalib dan masing-masing seorang
pejabat pendamping dari Depkeh dan Kejagung.

Wartawan Jawa Pos di Washington DC Ramadhan Pohan melaporkan tadi malam, ada
pemandangan istimewa selama konferensi hari kedua itu. Yakni, karena Cak Nur
dan Al Gore duduk berdampingan di meja panelis utama konferensi. Wapres Al
Gore merupakan pemrakarsa dan ketua pelaksana penyelenggaraan konferensi
yang
melibatkan ratusan peserta dari 89 negara itu. Cak Nur duduk di sebelah
kanan
Al Gore, dan di sebelah kiri Wapres AS duduk speaker lain asal Jepang, Dr
Yasuo Sakakibara.

Tidak jelas, apakah suatu kebetulan atau tidak duduk berdampingannya tokoh
penting Indonesia dan Amerika itu selama 2 jam. Al Gore yang merupakan
Wapres
ke-45 AS, dalam pemilu presiden mendatang berpeluang besar menjadi presiden
AS
ke-43 menggantikan Presiden Bill Clinton. Sedangkan Cak Nur sendiri saat ini
tengah digadhang-gadhang dan dielus-elus beberapa kalangan pengamat dan
intelektual Jakarta sebagai calon presiden alternatif dari kelompok
independen.

Apa artinya bila Cak Nur dan Al Gore duduk berdampingan selama 2 jam di
forum
global seperti itu? Bertemunya dua calon presiden?   Nggak ngerti saya itu.
Satu yang swasta, satu yang beneran,   jawab Prof Nurcholish. Cak Nur
menyebut
dirinya sebagai calon   swasta" karena memang tidak berambisi menjadi
presiden
ke-4 RI menggantikan Habibie.

Tidak begitu jelas, apakah Cak Nur memanfaatkan peluang langka bersama calon
orang nomor satu Amerika itu untuk melakukan semacam perbincangan atau
pertemuan serius. Ketika disinggung apakah dirinya sempat terlibat
pembicaraan
serius dengan Wapres Al Gore, Cak Nur cepat menepisnya.   Biasa-biasa saja.
Hanya bicara basa-basi,   kata Cak Nur, dengan vokal bening dan merendah.

Selama Cak Nur tampil 15 menit membacakan buah pikirannya, Wapres Al Gore
memang kelihatan sangat serius mengamati Cak Nur. Sorot mata Wapres Al Gore
tampak menatap dalam-dalam sembari menyimak pemikiran yang diungkapkan Cak
Nur
di podium speaker. Bahkan, agar leluasa menyimak pemikiran Cak Nur, Gore
harus
memutar kursinya agak ke kanan menghadap podium sehingga dalam posisi
memadai
untuk menyimak buah pikiran Cak Nur.

Profesor dan rektor Paramadina Mulya serta doktor lulusan Chicago ini
mengupas
masalah korupsi dari segi etika agama. Nurcholish secara implisit mengaitkan
kondisi krisis Indonesia yang selama era rezim Soeharto dihinggapi penyakit
korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN).

Berbicara mengenai penyebab runtuhnya rezim Orba, Cak Nur mengatakan,
  Indonesia itu runtuh karena imannya masih terpisah jauh dari amal,
katanya
sembari merujuk sejarah yang patut diteladani dalam Madinahnya Nabi dengan
civil society (masyarakat madani)-nya.

Terpisah jauhnya antara kedua hal di atas mestinya tidak perlu terjadi.
Bobot
iman dan amal sudah seharusnya dilakukan atau berjalan secara bersama-sama.

  Iman dan amal harus berbarengan,   sebut Cak Nur. Gagasan ini sebenarnya
sudah sering diungkap Cak Nur di berbagai kesempatan di tanah air dan
seperti
merasa perlu terus menyuarakannya hingga di forum internasional seperti
sekarang.

Pada bagian lain pembicaraannya, Cak Nur juga menyinggung perkembangan
terakhir Indonesia menjelang Pemilu 7 Juni 1999 mendatang.

  Pemilu tanggal 7 Juni tahun ini merupakan percobaan kami yang paling
serius
untuk menerapkan demokrasi di Indonesia. Karena waktunya terlalu pendek,
mungkin akan banyak terjadi trial and error.

  Kalau kita takut error, tidak pernah benar. Tetapi, supaya kita tidak
menempuh error yang fatal, yang bisa membatalkan semua tujuan demokratisasi
itu, maka kita harus bersedia belajar dari bangsa-bangsa yang sudah
berpengalaman,   papar Cak Nur, yang kemarin mengenakan kemeja putih dan jas
berwarna gelap.

Ia lalu menyinggung Indonesia yang membuka diri untuk bantuan teknis dari
kalangan internasional. Dalam bagian lain pidatonya, Prof Nurcholish juga
menyampaikan pengalaman buruk Indonesia yang selama 50 tahun dilanda
ketertutupan.   Kita 50 tahun ini telah menempuh suatu cara governance
(pemerintahan, Red) yang terlalu didominasi oleh ketertutupan. Kita
berbicara
mengenai transparansi yang kontrasnya adalah ketertutupan yang akibatnya
totalitarianisme. Ini (totalitarianisme dan sebagainya, Red) yang membuat
kita
kemudian memetik buah pahitnya, yaitu krisis yang sekarang kita terima. Ini
sebagai dukungan pada sebuah dalil bahwa kemajuan ekonomi itu bisa lebih
dijamin dengan adanya demokrasi yang matang,   timpal Prof Nurcholish, yang
selama konferensi selalu mendapat jabat tangan dari puluhan kalangan asing
dari berbagai warna kulit dan bangsa itu.

Mestinya, Cak Nur berbicara lebih banyak dan detail lagi mengupas
sosial-budaya Indonesia yang digerogoti penyakit korupsi, kolusi, dan
nepotisme selama berpuluh-puluh tahun ini. Tapi karena waktu yang tersedia
amat terbatas, Cak Nur yang satu-satunya wakil Indonesia yang tidak
didampingi
istri maupun anak-anaknya selama di Washington DC ini terpaksa memadatkan
pemikirannya sepadat-padatnya.

  Waktunya terbatas. Nanti akan terlalu panjang,   kata Cak Nur menjawab
pertanyaan JP usai berbicara di podium..

Jumat malam setempat atau Sabtu siang WIB Cak Nur akan dijamu Asosiasi
Masyarakat Muslim Indonesia di Amerika Serikat (IMAAM), dan sore harinya
sebelum itu akan berbicara di Rayburn House, gedung Kongres AS.

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 27 Feb 1999 jam 03:47:42 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke